Home / Artikel / Soal Produksi Publikasi Ilmiah Kita

Soal Produksi Publikasi Ilmiah Kita

TULISAN Sdr Fuadi Rasyid (Kompas, 17/6/91) yang membahas publikasi ilmiah sungguh menggelitik saya. Sebagai seorang yang bersangkutpautan dengan penerbitan ilmiah, saya merasa ada sesuatu yang tidak ”beres”, sehingga kita tidak memperoleh rangking (tidak termasuk hitungan) dalam kegiatan menerbitkan karya ilmiah.

Dalam daftar yang dikutip dari tulisan J. Gaillard tentang Science in the Developing World: Foreign Aid and National Policies at a Crossroad, termuat jumlah publikasi dua kurun waktu. Tertera, pada kurun 1973 juara adalah India dengan angka 6.880 dan juru kuncinya, no. 15, adalah Lebanon dengan 114 buah publikasi. Pada kurun kedua,1981-85, India tetap juara dengan angka publikasinya yang terus membengkak (10.978) dan juru kuncinya adalah Singapura (214 buah). Benarkah semua angka itu?

Pada hemat saya, ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa seakan-akan kita sudah “tersingkir” dari percaturan penerbitan ilmiah sedunia ini. Saya percaya, peringkat kita tidak seburuk itu. Apalagi sejak beberapa tahun terakhir ini ada usaha nyata pemerintah, yang pasti dapat mengubah gambaran itu.

Memang tidak mudah
Kita harus mengakui, keterampilan orang menulis tidak datang secara tiba-tiba. Kita adalah masyarakat yang baru beranjak dari budaya tutur dan menuju ke budaya tulis, sehingga pandangan orang pada umumnya belum menunjang usaha penerbitan, apalagi yang bersifat ilmiah. Sebagai seorang yang terlibat dalam usaha penerbitan ilmiah, saya tahu benar kesulitan apa saja yang dialami para calon penulis kita.

Jangankan menulis dalam bahasa Inggris, menguraikan gagasan dalam bahasa Indonesia pun bagi banyak di antara kita (termasuk yang sarjana) yang masih “berlepotan”. Masalah ini bukan lagi merupakan rahasia; maka itu jangan kita heran, bahwa sering tulisan ilmiah terpaksa dituliskan kembali (oleh pihak ’penyunting’, yang semestinya hanyai bertugas membuat naskah siap terbit).

Terutama setelah 1985, ada berbagai langkah yang dapat mendorong peningkatan Jumlah publikasi ilmiah. Hal Itu terjadi baik dalam lingkungan perguruan tinggi maupun di bidang litbang. Dalam kedua lingkungan itu yang perlu dicatat ialah pemberian ‘kum‘ kepada mereka yang menulis.

Untuk memberi wadah bagi naskah yang ditulis oleh pihak pengajar, berbagai universitas telah mulai menerbitkan majalah ilmiahnya sendiri. Ada yang mensyaratkan naskah harus ditulis dalam bahasa Inggris ada yang hanya sarinya (abstrak) yang perlu dalam bahasa itu, dan ada yang naskahnya tertulis dalam bahasa Indonesia. Semua itu tentu bergantung pada ketersediaan tenaga yang memadai dalam lembaga yang bersangkutan.

Jangan mengira, hanya universitas yang besan-besar di Jawa sajalah yang sudah mampu keluar dengan publikasinya. Beberapa universitas di luar Jawa pun kini sudah mampu menerbitkan, meskipun kelanjutannya kelak belum terbukti.

Kesulitan bahan pustaka
Kendala yang dihadapi banyak calon penulis kita, selain keterampilan yang belum memadai, juga langkanya bahan acuan. Universitas pada umumnya dan juga banyak badan litbang tidak mampu (lagi) berlangganan majalah kejuruan, apalagi yang berasal dari luar negeri. Ini tentu hal yang sangat gawat.

Memang ada orang yang dalam keadaan yang sesulit ini masih mampu memperoleh bahan yang sangat diperlukan itu, tetapi usaha itu lebih bersifat pribadi. Kini memang ada berbagai jalan yang ditempuh orang untuk dapat memperoleh bahan acuan. Bahkan orang, kalau mau, dapat memperolehnya langsung dari pusat data di luar negeri, lewat satelit.

Tetapi bagi kita, hal seperti itu sebenarnya adalah kemewahan; tanpa menempuh jalan itupun orang dapat memperoleh bahan, meskipun agak lambat.

Sebagai seorang yang berkecimpung dalam pernaskahan, khususnya yang menyangkut ilmu dan teknologi kebumian, saya dapat memberi sedikit gambaran mengenai besarnya produksi (secara lebih kurang) karya ilmiah dari bidang ini.

Selama tahun 1990, Geologi Indonesia, majalah resmi Ikatan Ahli Geologi lndonesia, mengeluarkan 30 artikel ilmiah (lengkap) dalam bahasa Indonesia dan Inggris dan sekitar 10 yang berupa sari saja (dalam bahasa Inggris atau Indonesia, atau kedua-duanya). Ini baru satu pihak.

Pada tahun itu juga terbit Proceedings (laporan seminar) internasional yang kebetulan saya tangani dan meliputi sekitar 20 makalah, seluruhnya dalam bahasa Inggris. Dari jumlah itu, lebih dari separuhnya dari Indonesia. Belum lagi terdapat terbitan yang dikeluarkan oleh berbagai pihak, termasuk puslitbang (Pusat penelitian dan pengembangan) bidang ilmu kebumian dan jurusan geologi pada universitas tertentu. Anggaplah angka produksi bidang kebumian seluruhnya sekitar 100 buah. Ini baru menyangkut satu bidang dan dalam satu tahun.

Harus kita ingat bidang kebumian adalah sesuatu yang cukup baru bagi kita dan belum seberapa besar. Jika kita memperhitungkan bidang yang sudah jauh lebih lama dan mapan, seperti bidang kedokteran, pertanian, dan ilmu sosial, saya kira produksi artikel ilmiah Indonesia (setelah 1985) dalam setahun tidak mungkin kurang dari 1.000 buah, atau boleh angkanya sudah di atas 2.000 buah.

Dalam jumlah itu tidak termasuk tulisan oran Indonesia yang terbit di luar negeri. Mengapa orang memasukkan tulisannya dalam majalah luar negeri, karena ada berbagai sebab. Salah satu di antaranya wadah yang dianggap cocok belum tersedia. Pada kenyataannya, tulisan yang terbit dalam majalah luar negeri yang berpengaruh, sungguh besar manfaatnya, karena dapat tersebar ke mana-mana, dan ‘kum’-nya dengan sendirinya juga lebih tinggi.

Tantangan
Dari uraian di atas, saya hanya mau menyatakan, bahwa yang kita hadapi adalah tantangan besar. Di satu pihak, kita harus menunjukkan, bahwa kita tidak berdiam diri dalam penerbitan bidang ilmu dan teknologi. Di lain pihak, kita tahu, yang lebih mudah ’terindera’ orang adalah tulisan dalam majalah yang telah mapan dan tertulis dalam bahasa Inggris.

Maka itu, paling tidak menyertakan sari dalam bahasa Inggris pada setiap tulisan ilmiah perlu dianjurkan. Yang tak kalah pentingnya adalah mekanisme kita untuk mengikuti perkembangan penerbitan oleh berbagai pihak yang rupanya juga perlu dibenahi.

Sebagai contoh, dalam lembaga pendidikan seperti ITB, selain majalah yang dikeluarkan secara terpusat, hampir setiap jurusan memiliki majalahnya sendiri. Meskipun majalah memiliki ISSN (nomor sandi internasional untuk majalah), tetapi nyatanya belum banyak orang yang tahu, bahkan mereka dari lingkungan dekat.

Semua tantangan tadi harus diatasi, jika kita ingin tulisan kita dalam bidang ilmu dan teknologi masuk hitungan dunia.

M.M. Purbo-Hadiwidjoyo, geologiwan dan penyunting

Sumber: Kompas, 4 Juli 1991

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: