Warga Antusias Memeriahkan

- Editor

Selasa, 8 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerhana Matahari Total 2016
Warga di sejumlah daerah antusias untuk menyaksikan gerhana matahari total ataupun gerhana matahari sebagian, Rabu (9/3) pagi. Kemeriahan sebagai perayaan atas fenomena alam langka itu berlangsung di sejumlah daerah.

”Besok, Selasa (hari ini) anak-anak akan dipulangkan dari sekolah pukul 10.00 dan kami akan mengikuti parade gerhana matahari pukul 14.00. Ini kegiatan yang langka,” ujar Sumiati, warga yang ditemui Kompas, Senin (7/3), di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Sumiati pernah mengalami gerhana matahari sebagian pada tahun 1983 di Palangkaraya. Gerhana matahari total (GMT) kali ini bakal melengkapi pengalamannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Dulu, tahun 1983, saya harus bersembunyi di bawah meja saat terjadi gerhana. Katanya, waktu itu melihat gerhana bisa membuat buta. Tetapi, sekarang sudah modern, warga tahu sebetulnya aman melihat gerhana,” kata Sumiati.

Kegiatan warga Palangkaraya terkait GMT berpusat di Stadion Sanaman Mantikei. Di lokasi tersebut, Selasa ini, digelar tarian kolosal 150 penari untuk menyambut GMT.

Pawai budaya etnik Nusantara di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), kemarin, sudah berlangsung. Pawai melibatkan berbagai komunitas etnik di Sulteng, mulai dari suku Kaili sebagai suku asli Sulteng hingga suku Minahasa dari Sulawesi Utara.

”Pawai budaya etnik ingin menyampaikan bahwa gerhana matahari total menjadi momentum menyatukan peradaban dunia, khususnya Nusantara. Tema pawai ini, ’Fenomena GMT Menyatukan Dunia’,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sulteng Siti Norma Mardjanu.

Antusiasme warga juga terpantau di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Di Dermaga Pelabuhan Sikakap, tampak antusiasme warga membersihkan area dermaga untuk pengamatan GMT bersama pada Rabu pagi.

”Pagi tadi, kami melakukan simulasi dan menentukan posisi pengamatan terbaik. Sore ini, gotong royong pembersihan dan besok (hari ini) pagi membuat panggung,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Mentawai Desti Seminora.

c02261a54eee48eba08c3732be899868Warga di wilayah yang akan dilintasi GMT, seperti di Palembang, Bangka Belitung, Palu, dan Ternate, juga menunjukkan antusiasme yang sama. Demikian pula warga di wilayah yang akan dilintasi gerhana matahari sebagian, seperti Jakarta, Bandung, Pandeglang, Semarang, Pemalang, Tegal, Yogyakarta, dan Surabaya.

Prangko GMT
Di Bandung, Jawa Barat, antusiasme warga diwujudkan dengan mengoleksi prangko dengan seri khusus Gerhana Matahari Total 2016.

”Hanya dalam seminggu, 9.000 prangko souvenir sheet dan 3.000 prangko Sampul Hari Pertama habis terjual,” kata Manajer Filateli PT Pos Indonesia (Persero) Tata Sugiarta.

Meskipun demikian, sejumlah warga yang wilayahnya dilintasi GMT banyak yang belum mengetahui peristiwa langka itu. Padahal, sehari-hari mereka tinggal di Pantai Tanjung Kelayang, Belitung, lokasi pusat perhelatan menyambut GMT di Kabupaten Belitung.

Warga lainnya banyak yang sudah mengetahui peristiwa alam itu. Warga Kabupaten Belitung Timur, Rita Hartini (40), misalnya, bersama keluarganya tertarik untuk melihat proses GMT di Pantai Nyiur Melambai, pusat perhelatan menonton bersama GMT di kabupaten tersebut. Namun, ia bingung terkait keamanan menonton GMT bagi keluarganya mengingat mereka belum memiliki kacamata khusus untuk menonton GMT.

Kesehatan mata
Dosen Jurusan Astronomi ITB, Hakim Luthfi Malasan, mengingatkan, masyarakat yang sangat antusias ingin menyaksikan proses gerhana matahari agar tetap memperhatikan keselamatan mata.

”Masyarakat agar menggunakan filter khusus untuk melihat proses gerhana matahari. Filter itu akan meredam intensitas cahaya matahari sampai 100.000 kali dan aman bagi keselamatan mata,” kata Hakim.

Di Balikpapan, Kalimantan Timur, untuk memeriahkan GMT sekaligus HUT ke 119 Kota Balikpapan, ada kegiatan pemecahan rekor Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid) untuk memakan mantau terbanyak, yakni 2.119 buah. Kegiatan ini dilakukan setelah GMT terjadi.

”Rekor sebelumnya 1.800 mantau,” ujar Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga, Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata Kota Balikpapan Irvan Taufik. (DKA/VDL/ZAK/TAM/SEM/WIE/PRA/DEN/CHE/BAY/JOG)
———-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Maret 2016, di halaman 1 dengan judul “Warga Antusias Memeriahkan”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB