Home / Berita / Uang Tunai Ditinggalkan, Hati-hati Gunakan Kartu

Uang Tunai Ditinggalkan, Hati-hati Gunakan Kartu

Kehadiran kartu ATM, kartu debet, kartu kredit, dan uang elektronik atau ”e-money” pelan-pelan menggeser kebutuhan akan uang tunai. Saat ini, transaksi keuangan semakin mudah dengan teknologi yang serba canggih. Kita tak perlu lagi membawa uang tunai untuk bepergian, belanja, atau makan. Bank menyediakan berbagai pilihan, bisa menggunakan kartu ATM, uang elektronik, atau kartu kredit.


Tentu saja, berbagai pilihan cara pembayaran itu mempunyai kelemahan atau kelebihan masing-masing. Kita bisa memilih jenis kartu sesuai dengan kebutuhan. Misalnya dengan kartu kredit, kita tak perlu repot membawa uang tunai dalam jumlah yang besar, tetapi resikonya harus mau dikenakan bunga.

Dari hasil sebaran angket yang dilakukan Litbang Kompas di empat universitas di Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Trisakti, dan Universitas Tarumanegara, pada awal November, disebutkan uang tunai mulai ditinggalkan.

Tiga dari lima mahasiswa menganggap kartu automated teller machine (ATM), kartu debit, kartu kredit, dan uang elektronik lebih praktis dibandingkan dengan uang tunai. Sudah enggak zamannya kita menenteng tas keresek hitam berisi bundelan uang. Selain tidak ringkas, membawa uang fisik dalam jumlah besar juga tidak aman.

Dari beragam kartu, kartu ATM adalah yang paling populer. Sebanyak 88,1 persen mahasiswa yang mengisi angket mengaku memiliki kartu ATM. ”Uang plastik” yang mulai digunakan di Indonesia sejak tahun 1985 ini dianggap paling bermanfaat ketimbang kartu lain karena punya banyak fungsi. Dengan kemudahan menemukan mesin ATM, tak perlu susah mendatangi bank.

Untuk melakukan penarikan uang, transfer uang, bahkan pembelian pulsa telepon ataupun listrik bisa dilakukan di mesin ATM. Kerja sama antarbank saat ini sudah memungkinkan nasabah suatu bank bisa mengambil uang di mesin ATM bank lainnya. Kartu ATM pun terkadang bisa berfungsi menjadi kartu debet untuk mengambil uang.

Setelah kartu ATM, kartu uang elektronik atau e–money dianggap paling bermanfaat. Ketiadaan personal identification number (PIN) menyebabkan pembayaran menjadi lebih cepat. Kartu cukup ditempelkan saja di mesin pembaca, transaksi pun terjadi. Pedagang juga tidak lagi repot mencari uang kembalian.

16856300hDi Jabodetabek, e-money bisa digunakan untuk naik bus transjakarta, naik kereta commuter line, dan bahkan untuk membayar parkir di stasiun di DKI Jakarta dan sekitarnya.

Jika ditilik berdasarkan jender, penggunaan e-money di tangan para mahasiswi berbeda dengan mahasiswa. Bagi mahasiswi, e-money paling kerap digunakan untuk membayar tiket bus transjakarta dan tiket kereta commuter line. Sedangkan mahasiswa, lebih sering menggunakan uang elektronik untuk membayar karcis tol.

Stefany Gledies Sitohang, mahasiswi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila, Jakarta, mengatakan, ia menyadari belum memiliki penghasilan sendiri, tetapi dirinya memilih memakai e-money.

”Dengan e-money, pembayaran jadi lebih praktis. Bagi saya, penggunaan e-money sangat applicable untuk melakukan transaksi, seperti parkir, tol, dan membayar fast food,” kata Stefany.

Meski transaksi nontunai semakin banyak, dua dari lima mahasiswa masih menganggap uang tunai lebih praktis. Uang tunai belum bisa ditinggalkan sepenuhnya karena ada transaksi di kehidupan sehari-hari yang membutuhkan uang tunai.

Misalnya, saat membeli makan siang di warung kecil ataupun bayar tukang ojek. Dari hasil angket, sebanyak 43,1 persen mahasiswa berpendapat uang tunai menjadi alat pembayaran yang paling
praktis.

Lenny Luthfiyah, mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, mengatakan dirinya lebih menyukai uang tunai sebagai alat pembayaran.

”Apabila membayar dengan uang tunai, kita bisa menghitung jumlah pengeluaran uang sehingga bisa terukur,” ujar Lenny.

Sementara itu, Hubertus Hia, mahasiswa Jurusan Filsafat Teologi Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, mengatakan, penggunaan kartu kredit sangat tidak menguntungkan.

”Kartu kredit seakan-akan memaksa pemiliknya untuk membayar bunga yang relatif tinggi sesuai dengan yang telah ditetapkan. Untuk belajar dan bayar kuliah, lebih baik menggunakan uang tunai sehingga tidak menimbulkan kecurangan, kecurigaan, terjamin, dan efektif,” kata Hubertus.

Membatasi penggunaan
Alat pembayaran lainnya, yakni kartu kredit, juga mulai menyebar. Kartu jenis ini bukan lagi menjadi barang eksklusif bagi usia ataupun kelas sosial tertentu. Satu dari enam mahasiswa yang mengisi angket memiliki kartu kredit dengan limit umumnya Rp 3 juta hingga 5 juta.

Menurut mereka, orangtua merekalah yang membuatkan dan juga membayar tagihannya. Ada pula yang memiliki kakak yang sudah bekerja yang telah berbaik hati membuatkan kartu tambahan untuk adiknya yang masih di perguruan tinggi itu. Jika dibandingkan berdasarkan jenis kelamin, mahasiswi memilih menggunakannya di saat genting.

Misalnya, membayar dokter atau rumah sakit. Sedangkan para mahasiswa justru untuk keperluan konsumtif, seperti membeli baju, tas, atau untuk perawatan tubuh.

Perencana keuangan dari Money and Love, Freddy Pieloor, mengatakan, mahasiswa yang belum mempunyai penghasilan sendiri pasti mendapatkan kartu kredit tambahan dari orangtua mereka. Untuk itu, lanjut Freddy, orangtua harus memberi batasan jumlah penggunaan kartu kredit.

”Ada beberapa bank yang tidak membatasi penggunaan kartu kredit. Nah, jangan sampai orangtua juga membebaskan anaknya untuk menggunakan kartu kredit. Nanti kalau utangnya membengkak, orangtua dan anak malah bertengkar,” kata Freddy.

Menurut Freddy, mahasiswa memiliki emosi yang belum terkendali sehingga bisa saja menggesek kartu kredit untuk memenuhi keinginannya. Padahal, belum tentu barang itu benar-benar diperlukan.

Nah, untuk membuat perencanaan keuangan pribadi kita menjadi lebih baik, pilihlah kartu pembayaran dengan tepat dan menggunakannya dengan bijak. Jangan sampai kita malah terlilit utang yang semakin hari semakin besar.
(Susie Berindra/BE Julianery/Litbang Kompas)

Sumber: Kompas, 25 November 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: