Home / Berita / Gaya Hidup Nontunai

Gaya Hidup Nontunai

Di era yang diwarnai kegiatan dan produk digital seperti saat ini, bukan hal yang aneh lagi jika seseorang mendapatkan barang yang dicari tanpa perlu mengeluarkan lembaran uang tunai dari dompetnya. Gaya hidup digital sudah menyediakan kemudahan bagi masyarakat, termasuk pembayaran secara nontunai.

Seseorang yang sedang enggan keluar rumah tinggal membuka komputer meja, komputer jinjing, atau gawainya. Ia bisa mencari apa pun di sana, mulai dari laman yang menjual makanan, minuman, pakaian, mobil, sepeda motor, jasa pengantaran makanan dan minuman, hingga jasa membersihkan rumah. Cara pembayarannya bisa dengan tunai dan nontunai.

Pilihan pembayaran nontunai bisa menggunakan kartu debit dan kartu kredit. Ada juga pembayaran menggunakan uang elektronik berbasis cip dan server. Namun, pembayaran nontunai juga bisa menggunakan transfer antarrekening. Setiap alat pembayaran nontunai itu memiliki kelebihan dan konsekuensi. Kartu debit, misalnya, akan memotong simpanan tabungan kita untuk setiap transaksi pembayaran yang kita lakukan. Begitu juga transfer ke rekening lain. Kartu kredit akan mencatat utang kita untuk setiap transaksi pembayaran yang kita lakukan. Sementara saldo uang elektronik akan terpotong setiap kali kita bertransaksi.

Sebenarnya, Gerakan Nasional Nontunai sudah diluncurkan pada Agustus 2014. Gerakan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen nontunai. Dengan demikian, secara berangsurangsur akan terbentuk komunitas atau masyarakat yang memilih untuk menggunakan instrumen pembayaran nontunai dalam kegiatan ekonomi.

Pilihan masyarakat untuk menggunakan pembayaran nontunai menggunakan kartu antara lain tecermin dari peningkatan jumlah, volume, dan nilai transaksinya. Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah kartu kredit yang diterbitkan di Indonesia 14,817 juta kartu pada akhir 2012. Jumlah ini meningkat menjadi 16,905 juta kartu pada September 2017. Adapun jumlah kartu debit dan anjungan tunai mandiri (ATM) yang pada akhir 2012 sebanyak 73,219 juta kartu, meningkat hingga dua kali lipatnya per September 2017 menjadi 148,946 juta kartu.

Sementara, ditilik dari nilai transaksinya, per akhir 2012 terjadi 2,824 miliar transaksi kartu ATM dan debit dengan nilai Rp 3.065 triliun. Jumlah ini terus meningkat menjadi 5,196 miliar transaksi dengan nilai total Rp 5.623 triliun per akhir 2016. Sementara kartu kredit yang pada akhir 2012 membukukan 221,579 juta transaksi dengan nilai total Rp 201,84 triliun, pada akhir 2016 meningkat menjadi 305,052 juta transaksi dengan nilai Rp 281 triliun.

Yang akhir-akhir ini sedang dibicarakan adalah uang elektronik, baik yang berbasis cip maupun berbasis server. Uang elektronik berbasis cip atau berbentuk kartu ini sedang didorong untuk digunakan sebagai alat pembayaran tarif tol. Diyakini, masyarakat akan lebih mudah bertransaksi di jalan tol menggunakan kartu yang elektronik ini.

Menurut data BI, total uang elektronik yang beredar di masyarakat per akhir 2016 sebanyak 51,204 juta. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan dengan akhir 2012 yang sebanyak 21,869 juta. Transaksinya pun meningkat dari 200,623 juta transaksi pada akhir 2012 menjadi 683,133 juta transaksi pada akhir 2016.

Yang tak kalah penting, geliat masyarakat untuk menggunakan transaksi nontunai tentu menuntut peningkatan keamanan bertransaksi. Penyedia jasa wajib meningkatkan kemampuannya menjaga keamanan transaksi. Apalagi, jika nontunai sudah bukan lagi pilihan, melainkan gaya hidup.(Dewi Indriastuti)

Sumber: Kompas, 23 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: