Tindakan Uni Eropa Dalam Melindungi Hutan Perlu Diikuti Indonesia

- Editor

Minggu, 23 Agustus 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ratusan kubik kayu yang diduga merupakan hasil penebangan liar terlihat siap dibawa keluar dalam bentuk rakit di salah satu anak sungai di Hutan Lalan di Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Minggu (31/8). Penebangan dan perambahan liar terus mengancam hutan yang berstatus hutan produksi tersebut.

Kompas/Irene Sarwindaningrum (IRE)
31-08-2014

Ratusan kubik kayu yang diduga merupakan hasil penebangan liar terlihat siap dibawa keluar dalam bentuk rakit di salah satu anak sungai di Hutan Lalan di Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Minggu (31/8). Penebangan dan perambahan liar terus mengancam hutan yang berstatus hutan produksi tersebut. Kompas/Irene Sarwindaningrum (IRE) 31-08-2014

Negara-negara Uni Eropa telah menyepakati lima prioritas tindakan yang perlu dilakukan untuk melindungi dan memulihkan hutan dunia. Hal ini diharapkan dapat diikuti oleh negara-negara lain khususnya Indonesia.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI—Pembalakan liar di kawasan hutan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil dan Bukit Batu ternyata lebih besar daripada dugaan awal. Ribuan keping papan bekas penerbangan masih ditemukan di dalam hutan tanpa tersentuh aparat hukum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Negara-negara Uni Eropa telah menyepakati lima prioritas tindakan yang perlu dilakukan untuk melindungi dan memulihkan hutan dunia. Hal ini diharapkan dapat diikuti oleh negara-negara lain, khususnya Indonesia, mengingat angka deforestasi masih cukup tinggi.

Pengampanye hutan Environmental Investigation Agency (EIA), Vanessa Richardson, dalam webinar, Rabu (19/8/2020), menyampaikan, lima prioritas tindakan untuk melindungi dan memulihkan hutan dunia disusun Uni Eropa pada Juli 2019.

Prioritas pertama adalah mengurangi rekam jejak konsumsi pada lahan dan mendorong konsumsi produk-produk yang bebas dari deforestasi. Prioritas kedua ialah bekerja secara kemitraan dengan negara-negara produsen untuk mengurangi ancaman terhadap hutan. Ketiga, memperkuat kerja sama internasional untuk menghentikan deforestasi.

Prioritas keempat adalah melakukan pembiayaan kembali secara langsung untuk mendukung praktik penggunaan lahan yang lebih berkelanjutan. Sementara prioritas terakhir adalah mendukung ketersediaan dan kualitas informasi terkait hutan maupun komoditas rantai pasok, akses terhadap informasi, dan mendukung penelitian serta inovasi.

Vanessa mengatakan, pihaknya juga mewawancarai 22.000 orang terkait dengan upaya deforestasi di Uni Eropa. Dari hasil wawancara tersebut, hampir 90 persen orang menyatakan bahwa Uni Eropa butuh peraturan baru untuk produk-produk yang dijual di Eropa agar tidak berkontribusi pada deforestasi.

”Kami juga ingin tidak hanya Uni Eropa yang membersihkan rantai pasokannya, tetapi juga negara lainnya di Asia. Mungkin kita bisa mendorong konsumsi produk-produk yang bebas dari deforestasi ke pasar lain,” ujarnya.

Wakil Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia Charles-Michel Geurts menyatakan, komisi Uni Eropa saat ini tengah melakukan konsultasi untuk melindungi dan memulihkan hutan dunia dengan semua pihak, termasuk organisasi masyarakat sipil dan swasta. Konsultasi antarnegara ini terus dilakukan sebagai bagian dari proses legislasi yang lebih baik.

”Ketika komisi dan parlemen Uni Eropa baru terbentuk, kami memiliki prioritas kesepakatan hijau baru. Ini menjadi dasar kami dalam mendorong isu ketenagakerjaan, ekonomi, dan infrastruktur ke arah yang strategis untuk mengatasi masalah perubahan iklim,” tuturnya.

KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM—Ratusan kubik kayu yang diduga merupakan hasil penebangan liar terlihat siap dibawa keluar dalam bentuk rakit di salah satu anak sungai di Hutan Lalan di Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Minggu (31/8/2014). Penebangan dan perambahan liar terus mengancam hutan yang berstatus hutan produksi tersebut.

Meski demikian, upaya yang dilakukan Uni Eropa dalam menangani deforestasi tidak akan membuat emisi karbon dunia menurun secara signifikan. Sebab, menurut Charles, kontribusi Uni Eropa hanya mewakili 8 persen dari emisi global. Oleh karena itu, upaya dari Uni Eropa juga perlu dilakukan negara lain.

”Upaya ini harus dilakukan dengan berbagai mitra secara multilateral maupun bilateral. Semua negara mitra harus berkontribusi dalam kapasitas nasional mereka jika kita ingin melakukan sesuatu yang berarti bagi Bumi,” katanya.

Direktur Eksekutif Kaoem Telapak Abu Meridian pun mengatakan, langkah UE ini bisa dimanfaatkan Indonesia. Itu akan memperkuat sejumlah langkah positif Indonesia seperti moratorium hutan dan moratorium kelapa sawit beserta ikutannya.

Ia mengatakan, pertemuan ini akan diikuti pertemuan selanjutnya. Ia mengatakan, langkah UE ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia sebagai negara produsen.

Abu mencontohkan soal kebijakan kayu hutan UE (EU Timber Act). Indonesia menyusun sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) sebagai kebijakan pemerintah untuk memastikan produk kayu legal dan bahkan didapatkan dari pengelolaan hutan yang lestari. Strategi Indonesia ini menjadikan kayu Indonesia mendapatkan lampu hijau pada pintu-pintu impor di UE. (ICH)

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 21 Agustus 2020

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB