Home / Berita / Kebakaran Hutan Penyangga Cagar Biosfer Belum Dapat Dikendalikan

Kebakaran Hutan Penyangga Cagar Biosfer Belum Dapat Dikendalikan

Kebakaran hutan penyangga Cagar Biosfer Giam Siak Kecil–Bukit Batu di lokasi Siak Kecil, Bengkalis, Riau, tiga hari terakhir belum dapat dikendalikan. Tim Manggala Agni Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau mencegah meluasnya areal terbakar dengan sekat bakar.


”Tim kami ke lokasi Minggu kemarin. Pemadaman dilakukan meski sangat sulit, karena kekeringan kian parah. Kami berupaya keras agar tak menjalar ke kawasan inti cagar biosfer,” ujar Supartono, Kepala Bidang II Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, Senin (23/2).

Timnya telah berada di Dusun Sungai Linau, Desa Lubuk Muda, Kecamatan Siak Kecil. Di sana terjadi perambahan hutan menggunakan alat berat dan secara bersamaan sekitarnya terbakar.

Sebelumnya, saat patroli udara yang diikuti Kompas, Sabtu lalu, Supartono mengungkapkan kekhawatiran pada potensi kebakaran meluas di kawasan penyangga cagar biosfer. Sebagian lokasi terbakar di areal kecil. Setidaknya, dua kebakaran besar sulit dilawan dari daratan.

Upaya pemadaman dipastikan terkendala, karena kebakaran di tengah hutan nyaris tanpa jalur masuk kendaraan. Beberapa titik kebakaran melebar, menyebabkan bubungan asap ke angkasa.

”Perlu upaya besar-besaran memadamkan api saat ini juga. Semakin lama, kebakaran itu tak akan mampu dipadamkan lagi seperti tahun lalu,” katanya.

Secara terpisah, Kepala Badan Lingkungan Hidup Riau Yulwiriati Moesa mengatakan, pihaknya tahu informasi potensi meluasnya kebakaran di kawasan penyangga cagar biosfer. Pemerintah Provinsi Riau, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan bertindak. ”Besok (Selasa ini) kami akan membahas proses pemadaman di Bengkalis. Kemungkinan akan dilakukan penyemaian awan hujan,” ujarnya.

Sebaran panas
Pemantauan cuaca, sebagian Bengkalis tanpa hujan lebih dari 35 hari. Gambut jadi sangat rawan terbakar. Pantauan satelit Aqua Terra, Senin, titik panas di Sumatera 67 titik di 5 provinsi: Aceh (8), Sumatera Barat (7), Sumatera Utara (20), Sumatera Selatan (6), dan Riau (26).

Dari 26 titik panas di Riau, 13 di antaranya kebakaran hutan dan lahan dengan kepercayaan di atas 70 persen. Penyebaran api di enam kabupaten: Bengkalis, Dumai, Pelalawan, Meranti, Rokan Hilir, dan Indragiri Hulu.

Di Jakarta, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menargetkan bisa memberangkatkan pesawat untuk operasi hujan buatan di Riau, akhir minggu ini. Itu tindak lanjut penetapan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan di Riau. Dengan rencana anggaran Rp 14 miliar, operasi modifikasi cuaca itu diperkirakan berlangsung satu bulan.

”Sudah ada 25 ton bahan semai di Lanud (Pangkalan Udara) Roesmin Nurjadin. Jika masih kurang, kami bisa kirim yang ada di Serpong, sekitar 15 ton,” kata Kepala UPT Hujan Buatan BPPT F Heru Widodo. Bahan semai terdiri atas garam (NaCl) dan Cabosil yang berfungsi mempercepat proses di dalam awan agar cepat menjadi hujan.

Hingga Senin, BPPT menunggu surat permintaan dari BNPB agar dapat mengurus persiapan operasi, termasuk peminjaman pesawat. BPPT akan meminjam dua pesawat, CN 295 milik TNI AU dan Casa 212/200 milik Pelita Air Service.

Soal efektivitas hujan buatan sangat bergantung ketersediaan awan. Itu faktor sulit memadamkan api pada kebakaran lahan semester dua tahun lalu.

Menurut Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Kementerian LHK meminta BNPB membantu membuat 1.000 unit sekat kanal rawa gambut di area rawan kebakaran. (SAH/JOG)

Sumber: Kompas, 24 Februari 2015

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: