Tak Semua Bisa Donorkan Plasma, Penapisan Awal Perlu Dilakukan

- Editor

Rabu, 17 April 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemberian terapi plasma untuk pasien Covid-19 hanya bisa dilakukan di rumah sakit dengan dokter yang ahli. Terapi ini tidak bisa dilakukan di klinik, apalagi di rumah.

Gerakan donor plasma konvalesen sebagai terapi pendukung untuk pasien Covid-19 semakin meluas. Meski amat dibutuhkan, masyarakat yang ingin berderma tetap harus memenuhi kriteria yang dibutuhkan. Hal ini diperlukan agar pemberian plasma konvalesen bisa optimal dan tepat sasaran.

Ketua Bidang Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat Linda Lukitari di Jakarta, Kamis (15/4/2021), mengatakan, terapi plasma konvalesen atau plasma penyembuhan bukan terapi pasti sehingga hanya dimanfaatkan sebagai terapi tambahan dari pengobatan lainnya. Namun, pemanfaatan terapi ini dapat menjadi harapan baru bagi pasien Covid-19.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Plasma konvalesen didapatkan dari orang yang sudah sembuh dari Covid-19 yang kemudian diambil darahnya untuk diberikan kepada pasien yang masih sakit. Antibodi yang terbentuk dari orang yang sudah sembuh inilah yang diharapkan dapat membantu kesembuhan pasien,” katanya.

Meski begitu, ia mengatakan, tidak semua penyintas Covid-19 bisa menjadi donor plasma. Sejumlah kriteria yang harus dipenuhi antara lain dinyatakan negatif Covid-19 atau tidak mengalami gejala lebih dari 14 hari, memiliki kadar titer antibodi minimal 1:160, diutamakan laki-laki, perempuan donor belum pernah hamil, berusia 17-60 tahun, serta tidak memiliki penyakit penyerta.

——Rumah sakit peserta uji klinik plasma konvalesen di Indonesia. Sumber: Handojo Muljono (2021)

Selain itu, penyintas yang menjadi donor sebaiknya sembuh dari Covid-19 tidak lebih dari enam bulan. Penyintas dengan derajat berat dan kritis juga dinilai memiliki efektivitas plasma konvalesen yang lebih baik. ”Pada penyintas yang sebelumnya OTG (orang tanpa gejala) biasanya tidak akan diambil plasmanya,” ucap Linda.

Selain persyaratan bagi donor, pasien yang ingin mendapatkan terapi plasma konvalesen juga perlu memperhatikan sejumlah ketentuan. Pemberian terapi plasma hanya bisa dilakukan di rumah sakit dengan dokter yang ahli. Terapi ini tidak bisa dilakukan di klinik, apalagi di rumah.

Permintaan plasma konvalesen juga harus melalui rumah sakit sehingga pasien atau keluarga pasien tidak bisa langsung memintanya dari PMI. Dari data PMI, jumlah donor plasma konvalesen untuk Covid-19 ada sekitar 13.000 orang yang menghasilkan 33.000 kantong plasma.

Pendiri komunitas plasmahero.id, Ariani, mengatakan, permintaan plasma konvalesen cukup banyak. Namun, tantangan yang dihadapi ialah kurangnya partisipasi dari donor. Kurangnya informasi dan edukasi dinilai menjadi penyebab.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA—-Proses pengambilan plasma konvalesen dari seorang penyintas Covid-19 di PMI Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/1/2021). Sejak Oktober 2020, lebih dari 50 penyintas Covid-19 mendermakan plasma konvalesen di PMI Kota Bandung.

Menurut dia, masih ada masyarakat yang ragu memberikan plasma darah karena takut antibodi yang ada di dalam tubuh menjadi berkurang. Padahal, tubuh akan memproduksi kembali antibodi sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.

”Gerakan-gerakan terkait donor plasma konvalesen perlu lebih dimasifkan lagi. Harapannya semakin banyak masyarakat yang mau untuk menjadi pendonor sehingga semakin banyak pula yang bisa memanfaatkannya,” tuturnya.

Salah satu pelopor terapi plasma konvalesen di Indonesia, Theresia Monica Rahardjo, mengatakan, penelitian mengenai terapi plasma konvalesen terus berkembang di banyak negara, termasuk Indonesia. Penelitian multisenter juga sudah dijalankan sejumlah peneliti di Tanah Air.

”Seluruh komponen bangsa bersama-sama berupaya menanggulangi pandemi Covid-19. Itu mulai dari upaya pencegahan, penurunan angka positif, serta menekan angka morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian). Pengembangan terapi plasma konvalesen yang kini sudah menjadi gerakan nasional ini bisa mendukung hal tersebut,” tuturnya.

Oleh DEONISIA ARLINTA

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 15 April 2021

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 7 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru