Home / Berita / Plasma Penyembuh Belum Bisa Jadi Standar Perawatan

Plasma Penyembuh Belum Bisa Jadi Standar Perawatan

Riset terapi plasma konvaselen untuk memulihkan pasien Covid-19 menjanjikan. Namun Panel National Institutes of Health Amerika Serikat menyebutkan, belum ada bukti kuat plasma penyembuhan bisa mengobati pasien Covid-19.

Panel National Institutes of Health Amerika Serikat menyebutkan, belum ada bukti kuat plasma penyembuhan dapat mengobati pasien Covid-19. Oleh karena itu, dokter tidak diizinkan memperlakukannya sebagai standar perawatan sampai penelitian lebih lanjut selesai dilakukan.

” Tidak ada cukup data untuk merekomendasikan baik mendukung atau menentang penggunaan plasma yang sembuh untuk pengobatan Covid-19,” sebut panel yang terdiri lebih dari tiga lusin ahli dalam sebuah pernyataan yang diposting di laman National Institutes of Health, pada Rabu (2/8/2020).

Plasma penyembuhan (convalescent) tidak boleh dianggap sebagai standar perawatan pasien dengan Covid-19. “Uji coba acak prospektif, terkontrol dengan baik, dan luas diperlukan untuk menentukan apakah plasma penyembuh efektif dan aman untuk pengobatan Covid-19,” sebut mereka.

Pernyataan ini bertentangan dengan keputusan Presiden Donald Trump yang minggu lalu mendukung otorisasi penggunaan darurat terapi plasma ini oleh US Food and Drug Administration (FDA). Data FDA didasarkan pada studi pendahuluan terhadap plasma penyembuhan dari Mayo Clinic.

Studi ini hanya membandingkan sebagian kecil pasien yang menerima antibodi plasma dari pasien Covid-19 dengan konsentrasi tinggi atau rendah. Selain jumlah responden kecil, studi ini dinilai belum bisa menunjukkan perbedaan signifikan pemberian terapi plasma dalam menurunkan kematian.

Sementara penelitian lainnya dari China, yang diterbitkan pada bulan Agustus 2020 di Journal of American Medical Association, juga menunjukkan plasma membantu orang bertahan hidup dari Covid-19. Mereka yang menunjukkan perbaikan klinis di antaranya yang berada di rumah sakit dan mengalami kesulitan bernapas tetapi belum memburuk hingga membutuhkan ventilator.

Panel NIH, dipimpin oleh para ilmuwan terkemuka di AS ini menyebutkan, data yang dipublikasikan sejauh ini tidak benar-benar menunjukkan apakah terapi itu membantu pasien.

Risiko pengobatan jangka panjang pasien Covid-19 dengan plasma penyembuhan perlu dikaji, dan apakah penggunaannya melemahkan respons kekebalan terhadap SARS-CoV-2 serta membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi ulang belum dievaluas. Ditambah lagi, pasien yang berbeda memiliki tingkat antibodi yang berbeda, jadi pengobatannya sangat bervariasi.

Uji klinis
Di Indonesia, plasma penyembuhan telah diberikan kepada pasien Covid-19 di sejumlah rumah sakit. “Sebelumnya telah dilakukan uji klinik fase satu,” kata Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, David Mulyono.

Menurut David, saat ini uji klinik fase dua dan tiga disiapkan. Pernyataan NIH ini haru menjadi peringatan bagi Indonesia untuk membuat protokol yang disepakati.

“Berarti, kita harus berusaha menyelesaikan misi dan tugas uji klinik ini untuk menghasilkan data akurat di Indonesia. Diharapkan hasilnya bisa disumbangkan untuk memperbaiki protokol dunia,” kata David, yang menjadi peneliti utama uji klinik plasma penyembuhan di Indonesia.

David mengatakan, uji klinik plasma penyembuhan ini mulai tersentralisasi sehingga diharapkan akan ada satu data dasar yang menjadi pedoman terapi. “Kami sudah melakukan pelatihan bertahap di 18 rumah sakit,” tuturnya.

Dengan menjadi uji klinik, lanjut David, pasien Covid-19 yang mendapatkan terapi ini seharusnya tidak ditarik bayaran lagi. “Semua pasien yang mendapat terapi ini akan ditanggung negara. Sudah dapat izin komisi etik dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Targetnya, terapi ini akan diberikan ke 364 pasien dari berbagai rumah sakit,” ungkapnya.

Terapi ini didasari asumsi bahwa tubuh manusia akan terbentuk antibodi ketika terinfeksi mikrooganisme, termasuk virus. Metode ini sebelumya telah diterapkan untuk penyakit infeksi lain.

Sekalipun memberikan harapan untuk terapi, David mengingatkan hal ini harus melalui uji klinik dengan benar. Apalagi pengobatan ini memiliki kompleksitas tinggi, meliputi siapa yang bisa diambil plasmanya dan pengguna plasma.

Pemeberi donor plasma merupakan pasien yang pernah punya gejala dan sembuh. Namun, tak semua penyintas memiliki kadar antibodi tinggi, yang bisa didonorkan ke orang lain. Sebagai contoh, orang yang pernah terinfeksi dengan tanpa gejala kemungkinan tidak memiliki antibodi yang cukup.

REUTERS/LINDSEY WASSON/FILE PHOTO—Plasma konvaselen dari penyintas Covid-19 di Central Seattle Donor Center Bloodworks Northwest, saat terjadi outbreak Covid-19, di Seattle, Washington, Amerika Serikat, pada 17 April 2020. Plasma dari penyintas Covid-19 akan digunakan dalam studi terapi eksperimental untuk mengobati pasien Covid-19.

Selain itu, antibodi yang ada di tubuh kita bisa beragam. Ada yang spesifik SARS-CoV-2 dan itu diharapkan bisa menetralkan. Namun, bisa jadi ada antibodi SARS yang lain atau bahkan dari infeksi lainnya. Oleh karena itu, harus dites dan saat ini Lembaga Eijkman masih mengembangkan tesnya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 3 September 2020

Share
x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: