Home / Berita / Harapan Sembuh dengan Terapi Plasma

Harapan Sembuh dengan Terapi Plasma

Terapi plasma konvalesen dinilai menjanjikan untuk mengobati pasien Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona baru yang dalam kondisi kritis. Kini pengembangan terapi tersebut di Indonesia tengah diteliti.

CHINATOPIX VIA AP–Foto yang diambil 18 Februari 2020 ini memperlihatkan Dr Zhou Min, penyintas Covid-19 yang telah melewati masa 14 hari karantina dirinya mendonasikan plasma darahnya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Sejak virus SARS-CoV-2 pertama kali terdeteksi pada akhir Desember 2019 di Wuhan, China, belum ada obat yang spesifik yang digunakan untuk melawan virus tersebut. Di lain sisi, jumlah kasus yang terinfeksi virus penyebab Covid-19 tersebut masih terus bertambah.

Setidaknya, sebanyak 3,7 juta kasus Covid-19 dilaporkan di 215 negara di seluruh dunia. Sementara di Indonesia hingga 10 Mei 2020 tercatat ada 14.032 kasus positif. Dari jumlah itu, setidaknya sebanyak 973 pasien dilaporkan meninggal dan 2.698 kasus telah dinyatakan sembuh.

Virus SARS-Cov-2 memiliki tingkat penyebaran yang cepat. Selain itu, tingkat keparahan yang diderita sejumlah pasien yang tertular cukup tinggi. Hal itu akhirnya mendesak para peneliti untuk segera menemukan vaksin dan obat yang efektif untuk melawan Covid-19. Berbagai pengembangan terkait terapi Covid-19 terus dilakukan para peneliti di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Salah satu penelitian yang kini tengah dilakukan adalah pengembangan terapi plasma konvalesen. Terapi tersebut dilakukan dengan memberikan plasma darah dari pasien yang sudah dinyatakan sembuh kepada pasien Covid-19 dengan kondisi berat hingga kritis. Kini, pengujian terkait terapi ini tengah berjalan dengan kolaborasi antara Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dan PT Bio Farma.

Wakil Kepala RSPAD Gatot Soebroto Brigadir Jenderal TNI A Budi Sulistya menyatakan, pengembangan terapi plasma konvalesen yang dilakukan di RSPAD saat ini masih dalam tahap pertama riset. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan setelah izin kaji etik penelitian didapatkan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan yang terdaftar di Kementerian Kesehatan.

“Tahap selanjutnya perlu dilakukan penelitian dengan sampel yang lebih besar. RCT (uji acak terkendali) juga perlu dilakukan untuk mengetahui efikasi pengobatan dari terapi plasma. Saat ini, terapi ini masih merupakan terapi adjuvan atau tambahan dari protokol yang sudah ada,” tuturnya.

Terapi plasma konvalesen dilakukan melalui metode imunitas pasif. Metode ini dijalankan dengan memberikan antibodi yang terdapat di plasma darah dari pasien yang sudah dinyatakan sembuh. Antibodi dari pasien yang sudah sembuh inilah digunakan untuk melawan virus Sars-Cov-2.

Direktur Pembinaan dan Pengembangan RSPAD Kolonel (CKM) Nana Sarnadi menyampaikan, pelaksanaan penelitian terapi plasma konvalesen dimulai setelah izin etik penelitian didapatkan pada akhir April 2020. Saat itu, sejumlah donor pun mulai mendaftarkan diri secara sukarela.

Adapun persyaratan yang perlu diperhatikan bagi para donor yang ingin menyumbangkan plasmanya, antara lain, berusia 18-60 tahun; donor juga pernah positif tertular Covid-19 melalui pemeriksaan real time Polymerase chain reaction (PCR); serta telah sembuh dengan dua kali pemeriksaan PCR dinyatakan negatif atau setidaknya 14-28 hari setelah dinyatakan sembuh. Selain itu, donor terbukti terbebas dari penyakit menular, seperti hepatitis, dan HIV.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Petugas mengambil darah dari pendonor di dalam bus milik PMI Kota Solo di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (4/4/2020). PMI Kota Solo menyediakan imbalan berupa masker dan cairan pembersih tangan kepada warga yang mendonorkan darahnya selama wabah Covid-19 di kota itu.

Syarat yang ditentukan tersebut dimaksudkan agar kuantitas titer atau konsentrasi antibodi yang ada di dalam plasma darah donor masih tinggi. Dalam rentang waktu yang ditentukan itu juga untuk memastikan agar plasma darah dari donor telah bebas dari infeksi virus.

Penapisan kesehatan
Secara teknis, Nana menuturkan, penapisan kesehatan pada donor akan dilakukan terlebih dahulu sebelum plasma diambil. Jika kondisi kesehatan donor memenuhi syarat, proses pengambil plasma darah baru bisa dijalankan. Metode pengambilan plasma ini disebut dengan plasmapheresis atau pemusahan plasma dari sel-sel darah lainnya.

Setelah plasma diambil, komponen darah lainnya akan dikembalikan ke tubuh donor. Dalam pengembangan terapi ini, plasma yang diambil sektiar 200-600 cc pada setiap donor. Tidak ada efek samping yang dihasikan setelah donor plasma dilakukan. Berbeda dengan donor darah, kadar plasma hanya sekitar 13 persen dari volume darah keseluruhan.

“ Saat ini sudah ada 16 orang yang melakukan donor plasma untuk pengembangan terapi plasma konvalesen di RSPAD. Dari 16 donor ini sudah didapatkan 75 kantong plasma dengan masing-masing kantong berisi 100 cc plasma darah. Dengan kuantitas titer yang diharapkan 1:80,” kata Nana.

Sejauh ini, ada enam pasien yang menerima terapi plasma konvalesen. Sebagian besar pasien menunjukkan hasil signifikan. Dari dua pasien yang sebelumnya mendapat perawatan khusus di ruang perawatan intensif (ICU) dengan bantuan ventilator dan dalam kondisi tak sadar, setelah mendapatkan tiga kali terapi kini sudah dirawat di ruang rawat biasa dan kondisinya membaik.

Adapun tiga pasien lain baru mendapatkan terapi ini dan masih dalam pemantauan. Sedangkan satu pasien lain meninggal karena komorbit penyakit yang terlalu berat dan adanya resisten terhadap obat-obatan yang diberikan.

“Untuk penelitian ini, kami targetkan dilakukan pada 10 pasien. Untuk sementara, hasil yang didapatkan cukup signifikan pada pasien yang mendapatkan terapi,” ujar Nanan.

KOMPAS/JUMARTO YULIANUS–Dua analis kesehatan atau pranata laboratorium sedang menganalisis hasil pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) di ruang analisa PCR Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (4/5/2020). Spesimen swab dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah diperiksa di laboratorium BBTKLPP Banjarbaru untuk mengonfirmasi kasus Covid-19.

Kondisi kritis
Ia menjelaskan, pasien yang bisa mendapatkan terapi plasma konvalesen adalah pasien Covid-19 dalam kondisi berat dan kritis. Indikator ini bisa ditunjukan antara lain, mendapatkan perawatan khusus dengan alat bantu ventilator, saturasi oksigen kurang dari 93 persen, dan mengalami hipoksemia atau kadar oksigen dalam darah rendah.

Protokol kesehatan yang ketat juga harus diterapkan bagi pasien yang akan mendapatkan terapi tersebut, terutama bagi pasien yang memiliki reaksi alergi pada komponen darah. Jika dalam penapisan ditemukan adanya potensi gangguan tersebut, terapi tidak bisa dilanjutkan.

Salah satu penyintas Covid-19 yang juga donor untuk terapi plasma konvalesen, Linda Ivana (35) berharap, keputusannya untuk mendonasikan plasma darahnya dalam riset ini bisa membantu kesembuhan pasien Covid-19 yang kini dirawat dalam kondisi berat dan kritis. Kesembuhannya menjadi kesempatan untuk bisa membantu orang lain.

Menurut dia, tidak ada efek samping yang dialami selama proses pengambilan plasma darah. Proses pengambilan darah yang dilakukan hampir sama dengan donor darah dan berlangsung 1-1,5 jam. Dalam donor plasma ini, Linda mendonorkan 600 cc plasma darahnya.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Mural dengan tulisan ajakan untuk melindungi keluara dengan tetap berkativitas di rumah saja menghiasi tembok rumah warga di Lengkong Wetan, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (10/5/2020). Tangerang Selatan bersama sejumlah daerah di Indonesia menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk memutus rantai penyeberan Covid-19.

“Saya merasa saya dikasih kesempatan untuk sembuh dan dititipkan antibodi di tubuh saya. Bagi saya, ini amanah yang dititipkan ke saya untuk dibagikan ke orang lain yang masih sakit. Kalau memang saya bisa menjadi donor, kenapa tidak.,” tutur Linda yang saat ini berprofesi sebagai dokter yang tertular Covid-19 dari rekan sejawatnya.

Selain RSPAD, penelitian terkait terapi plasma konvalesen juga dikembangkan oleh Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo-Universitas Indonesia. Prosedur pengambilan plasma pada donor tidak jauh berbeda dengan prosedur yang dilakukan oleh RSPAD.

Namun, pada riset yang dilakukan di RSCM-FKUI, donor yang dicari adalah laki-laki. Hal ini dipilih karena merujuk pada basis bukti yang dilaporkan pada riset sebelumnya menunjukkan kadar antibodi human leukocyte antigen (HLA) pada perempuan, khususnya yang pernah hamil, akan tertutup.

“Kerahasiaan data donor dan pasien juga akan dijamin. Jadi donor tidak tahu siapa yang akan menerima plasma darahnya begitu pula dengan pasien juga tidak tahu siapa donornya. Selain itu, donor ini dilakukan secara sukarela,” kata Elida Marpaung, anggota tim peneliti terpai plasma konvalesen RSCM/FKUI.

Oleh DEONISIA ARLINTA

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 11 Mei 2020

Share
x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: