Home / Berita / Plasma Konvalesen Resmi Diujikan ke Pasien Covid-19

Plasma Konvalesen Resmi Diujikan ke Pasien Covid-19

Pengembangan riset terapi plasma konvalesen untuk pasien Covid-19 memasuki babak baru. Uji klinis fase ke-3 terapi yang memakai plasma darah dari penyintas penyakit yang disebabkan virus korona baru itu mulai dilakukan.

Uji klinis terapi plasma konvalesen untuk pasien Covid-19 mulai dilakukan, Selasa (8/9/2020). Sebanyak 29 rumah sakit di sejumlah daerah yang menangani penderita penyakit yang disebabkan virus korona tipe baru itu akan dilibatkan dalam kajian untuk mengetahui efek samping dan efikasi terapi melalui donor darah yang mengandung antibodi dari penyintas.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Slamet mengatakan, para ilmuwan di sejumlah negara saat ini berpacu melawan Covid-19 dengan berusaha menemukan obat, vaksin, dan metode penyembuhan. Salah satu pengobatan yang dianggap menjanjikan yakni plasma konvalesen.

”Sekitar bulan Agustus, FDA (Food and Drug Administration/Badan Pengawas Obat dan Makanan) Amerika Serikat telah mengizinkan penggunaan plasma konvalesen untuk pengobatan darurat. Namun, uji klinis pembanding untuk menentukan keamanan dan efikasi terapi masih diperlukan,” katanya.

Sekalipun plasma konvalesen telah lama digunakan untuk sejumlah penyakit lain, terapinya untuk pasien Covid-19 baru diperkenalkan. Karena itu, produk ini memerlukan investigasi lebih lanjut melalui pembentukan tim peneliti plasma untuk menyusun protokol pemberian terapi tambahan kepada pasien Covid-19.

Plasma konvalesen merupakan upaya memberikan donor bagian darah yang mengandung antibodi dari pasien yang telah sembuh. ”Saat ini ada 29 rumah sakit bersedia bergabung dalam uji klinik ini. Masih dibuka kesempatan kepada rumah sakit berminat. Awal September 2020 menjadi batas akhirnya,” ujarnya.

Untuk Selasa (8/9/2020), kata Slamet, ada empat rumah sakit yang siap terlibat, yaitu RS Fatmawati di Jakarta, RS Hasan Sadikin di Bandung, RSUD Sidoarjo, dan RS Angkatan Laut Ramelan Surabaya. Uji klinis ini juga didukung Palang Merah Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan sukarelawan.

Sudah seabad
Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David Mulyono, sebagai peneliti utama dalam uji klinis ini, mengatakan, pemberian plasma konvalesen dipakai sejak seabad lalu. ”Sejak Perang Dunia Pertama, saat flu Spanyol, terapi ini sudah diberikan. Selain itu, terapi plasma ini juga dipakai untuk mengatasi ebola, flu burung, hingga sindrom pernapasan akut parah (SARS),” katanya.

David mengatakan, pada Maret 2020, lima pasien Covid-19 di China telah mendapatkan terapi plasma ini serta terbukti aman dan efektif. Itu dilanjutkan 10 orang di China dan beberapa negara melakukannya, termasuk di AS.

”Namun, efikasi atau kemanjurannya masih dipertanyakan. Belum ada kepastian informasi mengenai tingkat kesembuhannya dan pasien dalam kondisi apa yang bisa sembuh,” ujarnya.

Sebelumnya, terapi plasma konvalesen sebenarnya juga mulai diberikan kepada pasien Covid-19 di Indonesia. ”Dokter di RSPAD Gatot Subroto sudah melakukannya dan kami menunggu laporannya untuk dinilai keamanannya. Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional juga sudah mengoordinasikan pemberiannya di delapan rumah sakit dengan pasien terbatas. Uji klinis kali ini untuk fase kedua dan ketiga karena terbukti aman. Kali ini untuk menguji efikasinya,” kata David.

Dalam uji klinis kali ini, terapi plasma konvalesen akan diberikan kepada pasien dengan kondisi sedang sampai berat. ”Ini bukan untuk pencegahan. Selain itu, pasien yang punya komorbid tidak akan diikutkan karena statusnya masih uji coba. Kalau sudah jadi, protokolnya baru bisa diberikan skala luas,” tuturnya.

Setiap pasien yang terlibat akan diberi 200 mililiter plasma darah dari pasien yang sudah sembuh dengan waktu pemberian dua kali. Harapannya, data dan bukti ilmiah bisa diperoleh dengan baik. Pasien itu akan dipantau selama 28 hari, meliputi 14 hari saat dirawat di rumah sakit dan berikutnya bisa dipantau setelah pulang.

Ketua Tim Peneliti Plasma Konvalesen Nisvi Dewi Andaningrum mengatakan, pemberian terapi ini menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya pasien dan keluarga dalam kondisi stres sehingga cenderung menolak riset itu. ”Padahal, dengan plasma, ini diharapkan bisa meningkatkan antibodi. Karena itu, perlu ada kerja sama tim terkait, antara dokter dan perawat, untuk mengomunikasikan kepada pasien dan keluarga,” ujarnya.

Di luar negeri
Dalam penelitian yang diterbitkan Journal of American Medical Association pada Agustus lalu disebutkan, plasma konvalesen membantu orang bertahan hidup dari Covid-19. Mereka yang menunjukkan perbaikan klinis di antaranya yang berada di rumah sakit dan mengalami kesulitan bernapas tetapi belum memburuk hingga membutuhkan ventilator.

Penelitian ini dipimpin oleh Eric Salazar, ahli patologi dan pengobatan genomik dari Houston Methodist Hospital and Research Institute. Sejak 28 Maret 2020, Houston Methodist menjadi pusat medis akademis pertama di AS yang menggunakan terapi plasma yang didonasikan dari pasien Covid-19 yang telah sembuh.

Para dokter menggunakan perawatan tersebut kepada 350 pasien delapan jaringan Rumah Sakit Houston Methodist. Studi ini melacak pasien Covid-19 yang sakit parah yang dirawat dari 28 Maret hingga 6 Juli 2020.

Hasilnya menunjukkan ada bukti ilmiah bahwa transfusi plasma kepada pasien Covid-19 yang kritis dengan plasma antibodi terbukti efektif mengurangi tingkat kematian. ”Studi kami sampai saat ini menunjukkan pengobatan ini aman dan pada sejumlah pasien cukup efektif,” kata Musser.

Namun, pekan lalu, panel ilmuwan dari National Institutes of Health (NIH) AS dalam pernyataan tertulis menyebut, data yang dipublikasikan tidak benar-benar menunjukkan apakah terapi itu membantu pasien. Risiko pengobatan jangka panjang pasien Covid-19 dengan plasma penyembuhan perlu dikaji lebih jauh.

Evaluasi yang dibutuhkan meliputi, apakah penggunaannya melemahkan respons kekebalan terhadap virus korona jenis baru (SARS-CoV-2) dan membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi ulang belum dievaluasi. Ditambah lagi, pasien yang berbeda memiliki tingkat antibodi berbeda sehingga pengobatannya bisa sangat bervariasi.

”Uji coba acak prospektif, terkontrol dengan baik, dan luas diperlukan untuk menentukan apakah plasma penyembuh efektif dan aman untuk pengobatan Covid-19,” sebut pernyataan ini.

David mengakui, sampai saat ini banyak pertanyaan mengenai kapan sebaiknya diberikan, berapa dosisnya, dan jadwal pemberian. Selain itu, pemberi donor harus diperiksa kadar antibodinya, apakah memadai untuk dijadikan terapi bagi pasien yang butuh perawatan. ”Untuk itu, uji klinis yang sistematis dan terdokumentasikan dengan baik dibutuhkan,” ujarnya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 9 September 2020

Share
x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: