Home / Berita / Terapi Plasma untuk Covid-19 Dinilai Efektif

Terapi Plasma untuk Covid-19 Dinilai Efektif

Terapi plasma konvaselen memberi harapan baru untuk memulihkan pasien Covid-19 yang dalam kondisi kritis. Studi terbaru menunjukkan, terapi itu terbukti efektif terhadap ratusan pasien.

Analisis awal dari studi terhadap lebih dari 350 pasien Covid-19 yang dirawat dengan terapi plasma konvalesen di Amerika Serikat menunjukkan hasil yang baik. Namun demikian, terapi ini masih bersifat eksperimental dan membutuhkan uji klinik yang sistematis sebelum diterapkan.

Hasil kajian ini dipublikasikan di The American Journal of Pathology pada 12 Agustus 2020. Ini merupakan salah satu publikasi pertama yang telah ditinjau oleh rekan sejawat yang menilai kemanjuran plasma konvalesen.

Penelitian ini dipimpin Eric Salazar, assistant professor Bidang Patologi dan Pengobatan Genomik dari Houstan Methodist Hospital and Research Institute, bersama dengan James M Musser, Ketua Departemen Patologi dan Pengobatan Genomik dari Houston Methodist.

Sejak 28 Maret 2020, Houston Methodist menjadi pusat medis akademis pertama di Amerika menggunakan terapi plasma yang didonasikan dari pasien Covid-19 yang sembuh. Para dokter menggunakan perawatan tersebut pada 350 pasien d delapan jaringan Rumah Sakit Houston Methodist. Studi ini melacak pasien Covid-19 yang sakit parah yang dirawat dari 28 Maret hingga 6 Juli.

Para pasien dilacak selama 28 hari setelah transfusi plasma dan dibandingkan dengan kelompok kontrol pasien Covid-19 serupa yang tidak menerima plasma penyembuhan. Analisis yang cocok dengan skor kecenderungan observasi digunakan untuk menyeimbangkan karakteristik peserta dan memungkinkan interpretasi yang obyektif dari hasil pada tahap ini.

Hasilnya menunjukkan adanya bukti ilmiah bahwa transfusi plasma kepada pasien Covid-19 yang sakit kritis dengan plasma antibodi terbukti efektif mengurangi tingkat kematian. “Studi kami sampai saat ini menunjukkan pengobatan ini aman dan, pada sejumlah pasien cukup efektif,” kata Musser.

Dia menambahkan,”Kami sekarang memiliki lebih banyak bukti daripada sebelumnya bahwa terapi plasma yang telah berusia seabad ini bermanfaat, aman, dan membantu mengurangi tingkat kematian akibat virus ini.”

Kajian ini menemukan, mereka yang dirawat di awal penyakit dengan plasma donor yang memiliki konsentrasi antibodi anti-Covid-19 tertinggi lebih mungkin bertahan hidup dan pulih dibandingkan pasien serupa yang tidak diobati dengan plasma. Namun ini tidak disarankan kepada pasien dengan riwayat reaksi parah terhadap transfusi darah, dan yang berada dalam stadium akhir atau dalam kondisi lain yang akan meningkatkan risiko transfusi plasma.

Beberapa penelitian lain menunjukkan lebih dari 34.000 pasien Covid-19 di AS yang telah menerima transfusi plasma konvalesen tidak menunjukkan efek samping signifikan. Meski demikian, Musser mengingatkan, terapi plasma penyembuhan ini masih eksperimental dan perlu lebih banyak riset untuk mengumpulkan data.

Eksperimental
Di Indonesia, sejauh ini terapi dengan plasma konvalesen untuk pasien Covid-19 belum secara resmi jadi panduan pengobatan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. “Ini baru digunakan dalam rangka terapi berbasis riset,” kata Humas Ikatan Dokter Indonesia Halik Malik.

Karena sifatnya masih eksperimen, sejumlah rumah sakit sudah menerapkan ini, walaupun biaya pengobatannya dibebankan ke pasien. “Kalau statusnya uji klinis harusnya biayanya ditanggung negara,” kata Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David Muljono Handojo.

Dia berharap pengobatan yang sudah dijalankan di beberapa rumah sakit menggunakan standar uji klinik. Selain memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan pasien, uji klinis juga harus memenuhi standar ilmiah. Oleh karena itu, peserta donor maupun pasien harus dicatat dengan baik.

Menurut David, dari segi pemberi donor, yang seharusnya diambil yakni pasien yang pernah punya gejala dan sembuh. Sementara orang yang pernah terinfeksi namun tanpa gejala kemungkinan tidak memiliki antibodi cukup. “Harus diukur apakah plasmanya punya antibodi spesifik dan sesuai kadarnya,” tuturnya.

David menjelaskan, tidak semua plasma penyintas Covid-19 mengandung antibodi yang spesifik dan dibutuhkan pasien. “Antibodi yang ada di tubuh kita bisa macam-macam. Ada yang spesifik SARS-CoV-2 dan itu diharapkan bisa menetralkan. Namun, bisa jadi ada antibodi SARS yang lain atau bahkan dari infeksi lain. Oleh karena itu, harus dites dan Eijkman saat ini sedangn mengembangkan tesnya,” kata dia.

Berikutnya, dalam uji klinik harus dipilih pasien yang tepat. “Tidak bisa diujikan kepada pasien yang tanpa gejala atau pasien kritis atau yang memiliki komordibitas lain,” ungkapnya.

Selain aspek keamanan dan keselamatan pasien, menurut David, uji klinis juga harus memenuhi standar ilmiah. Oleh karena itu, peserta donor maupun pasien harus dicatat dengan baik.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 15 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: