Home / Featured / Satria Arief Prabowo, Pemburu Vaksin Baru

Satria Arief Prabowo, Pemburu Vaksin Baru

Ilmuwan termuda dunia dalam riset vaksin baru tuberkulosis. Meneliti vaksin yang lebih canggih ketimbang BCG.

Satria Arief Prabowo, 24 tahun, adalah periset termuda dalam proyek pengembangan vaksin baru tuberkulosis bersama 20 negara yang didanai Uni Eropa. Berbeda dengan vaksin biasa yang bertujuan mencegah penyakit, vaksin yang sedang diteliti alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini dapat diberikan kepada penderita untuk membangkitkan sistem kekebalan tubuh dan berpotensi memperpendek masa pengobatan.

Keunikannya terletak pada kandungan latency antigen yang belum terdapat dalam vaksin BCG. Satria menjelaskan, kuman tuberkulosis memiliki kemampuan menjadi dorman (TB persisters). Jenis kuman inilah yang menyebabkan pengobatan menjadi lama karena tidak mudah diberantas. “Dalam kandidat vaksin yang kami kerjakan, diperkenalkan latency antigen agar kuman TB persisters dapat dideteksi oleh sistem imun tubuh dan tertanggulangi secara paripurna,” kata dia, pekan lalu.

Kepedulian Satria pada vaksin tuberkulosis didorong oleh masih tingginya ancaman tuberkulosis pada masa mendatang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) masih menempatkan tuberkulosis sebagai ancaman global. Setiap tahun, 10 juta orang di dunia menderita penyakit ini dengan rasio kematian 1 dari 10 penderita. Indonesia mendapat perhatian khusus karena jumlah penderitanya terbanyak kedua di dunia setelah India.

Satria mengatakan tuberkulosis berpotensi menjadi masalah serius lantaran adanya jenis tuberkulosis yang kebal terhadap pengobatan alias multi-drug resistant tuberculosis. Keberhasilan terapi tuberkulosis jenis ini hanya 50 persen dengan jangka waktu pengobatan hingga 20 bulan. “Tuberkulosis ini dilaporkan semakin meningkat di Indonesia dan lebih sulit diobati,” ucap Satria.

Adapun vaksinasi BCG yang diandalkan sebagai penangkal tuberkulosis hanya efektif mencegah tuberkulosis meningitis dan milier pada dua tahun pertama masa kanak-kanak. Sedangkan efektivitas pencegahan tuberkulosis paru pada orang dewasa hanya maksimal 50 persen. Beragam kondisi tersebut melatarbelakangi riset doktoralnya.

Selain meneliti vaksin tuberkulosis, Satria sudah melakukan berbagai riset di bidang penyakit tropis
dan infeksi. Semasa mahasiswa, dia meneliti malaria dan kuman MRSA (Methicillin-resistant taphylococcus aureus) yang turut menjadi masalah di bidang kesehatan. Riset ini dipresentasikan dalam berbagai kongres internasional dan mengantarkannya meraih penghargaan “Best Presenter Award” di International Student Congress of (bio) Medical Sciences di Groningen, Belanda; dan International Medical Student Congress di Novi Sad, Serbia, pada 2012.

Ketertarikan Satria pada riset penyakit tropis dan infeksi berawal saat ia mendapatkan beasiswa dari University of Groningen, Belanda, untuk program clinical dan research internship pada 2012. Dia melihat Belanda, yang bukan merupakan negara tropis, sangat peduli pada penyakit tropis dan infeksi.

Sebagai dokter asli Indonesia, dia merasa terpanggil. Satria berpikir, sudah saatnya anak bangsa
menciptakan sendiri inovasi bidang penyakit tropis dan infeksi. Risetnya saat ini sudah berhasil
mengidenti?kasi regimen vaksinasi terapeutik yang optimal untuk diterapkan pada manusia. Temuan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Vaccine edisi Desember 2016. Hasilnya juga sudah dipresentasikan di European Society for Paediatric Infectious Diseases di Madrid, Spanyol, Mei lalu.

Kini Satria tengah menempuh program doktoral di London School of Hygiene and Tropical Medicine. Pendidikan ini dijalaninya tanpa harus melewati jenjang master. Satria punya mimpi, dalam usia ke-100 tahun kelak, Indonesia bisa sejajar dengan negara maju dalam bidang inovasi dan pelayanan kesehatan.

Dia ingin Indonesia menjadi pusat riset penyakit tropis dan infeksi dunia. “Dan dapat menghasilkan peraih Nobel yang selama ini masih didominasi peneliti dari negara-negara maju,” kata dia.

Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Daeng M. Faqih, mengatakan riset yang dilakukan Satria merupakan jawaban bagi Indonesia. Potensi penyebaran tuberkulosis di Nusantara tetap tinggi.

Jika Satria berhasil menemukan vaksin yang lebih komprehensif, Daeng berujar, itu adalah kemenangan melawan tuberkulosis.“Karena mencegah lebih baik ketimbang mengobati,” kata dia.

Sumber: Koran Tempo Edisi Khusus Kemerdekaan, 16 Agustus 2017
—————-
Satria Arief Prabowo, Pria Gifted 21 Tahun yang Sudah Jadi Dokter

SEORANG laki-laki berpenampilan dewasa berjalan di lorong aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair). Dengan style kemeja, celana kain, jas lab, plus kacamata, pria itu sudah pantas disebut PPDS (sebutan bagi dokter yang menempuh pendidikan dokter spesialis).

Kenyataannya tidak demikian. Pria bernama Satria Arief Prabowo itu baru berusia 21 tahun. Dia baru saja mendapat gelar dokter pada Maret 2014.

Tidak hanya cara berpakaian yang membuat Satria –panggilan akrabnya– tampak dewasa. Dia juga piawai berkomunikasi. Nada bicaranya santai dengan tutur bahasa sopan.

Ya, Satria benar-benar jauh lebih dewasa daripada umurnya. Pada umumnya seorang mahasiswa lulus profesi dokter di usia 23 atau 24 tahun. Tetapi, Satria bisa merampungkan tiga tahun lebih cepat.

’’Saat SMP dan SMA, saya ikut kelas akselerasi,’’ papar alumnus SMPN 1 dan SMAN 5 Surabaya tersebut.

Jadi, Satria masuk FK Unair melalui jalur prestasi (sekarang SNM PTN) pada 2008. Saat itu usianya masih 15 tahun. Bisa dibayangkan, saat usianya 15 tahun yang seharusnya masih duduk di kelas I SMA, Satria sudah berjibaku dengan buku tebal mahasiswa FK.

Namun, hal itu sama sekali tidak menjadi kendala bagi Satria. Bagi dia, rutinitas tersebut merupakan hal yang menyenangkan. Sebab, sejak kecil dia memang hobi membaca dan belajar.

Bagi Satria, belajar bagai candu. Rasanya menyenangkan dan bisa membuatnya fokus dalam waktu yang lama.

Awalnya, Satria dan orang tuanya menganggap hal itu biasa. Namun, saat kelas I SMP, saat akan mengikuti tes masuk kelas akselerasi, pihak sekolah mempertemukan Satria dan orang tuanya dengan psikolog.

Di situlah laki-laki kelahiran Surabaya, 13 Oktober 1992 tersebut baru tahu bahwa dirinya adalah gifted atau anak berbakat. ’’Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, saya menikmati hidup saya,’’ ungkap pengagum Nabi Muhammad tersebut.

Termasuk dalam hal pergaulan. Saat masuk FK Unair, mayoritas teman-temannya berusia 18 tahun. Hal itu tidak menjadi sandungan dalam bergaul. Satria tetap bisa membaur dengan teman-temannya.

Untuk kasus tertentu, dia sebagai yang termuda di angkatannya selalu ’’dijaga’’ teman-temannya. ’’Ini artikel soal saya. Saya pernah diliput Jawa Pos ketika mau masuk kuliah,’’ ucap anak pertama di antara tiga bersaudara pasangan Chairul Siswanto dan Siti Nur Elly Yani itu seraya menyodorkan koran Metropolis Jawa Pos edisi Minggu, 20 April 2008.

Sebenarnya yang membuat lucu adalah fotonya. Dalam foto tersebut, Satria masih sangat anak-anak. Wajahnya menggemaskan dengan pipi tembem, kacamata, rambut plontos, dan badan yang tidak seberapa tinggi. Sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia adalah mahasiswa kedokteran.

Meski begitu, proses perkuliahan berjalan lancar. Satria lulus program sarjana kedokteran pada 2012 dengan IPK 3,79. Ketika itu penikmat lagu-lagu Taylor Swift tersebut menyabet gelar Wisudawan Terbaik Program Sarjana Kedokteran.

Hadiahnya, Satria berhak mengikuti training penyakit infeksi dan tuberkulosis (TB) di University of Groningen, Belanda, selama enam bulan.

Program itu merupakan kerja sama antara FK Unair dan University of Groningen. Jadi, setelah lulus kedokteran, Satria tidak langsung mengambil co-ass (dokter muda). Dia harus terbang dulu ke Belanda untuk menikmati hadiah berupa training itu.

Satria mengatakan benar-benar menikmati hadiah tersebut. Dia berkesempatan untuk bergabung dengan bidang yang disukainya. Yakni, vaksin. Sebab, sejak kuliah dia tertarik dengan vaksin. ’’Sesampainya di Belanda, saya malu,’’ papar kakak Safina Nurlita Sari dan Shaleh Azim Prabowo tersebut.

Maksudnya, untuk Belanda yang merupakan negara dengan angka kejadian TB sangat kecil, Satria mengira penelitian seputar TB pasti jarang dilakukan. Kenyataannya, Belanda sangat intens melakukan penelitian seputar TB.

Apalagi, lanjut dia, penelitian terbaru menunjukkan bahwa vaksin belum menjadi pencegahan yang efektif. Sebab, seseorang yang sudah vaksin masih mempunyai faktor risiko terkena suatu penyakit. ’’Efektivitasnya hanya 0–50 persen,’’ ucap Mahasiswa Berprestasi FK Unair 2012 tersebut.

Meski begitu, vaksin masih dirasa perlu daripada tidak sama sekali. Hal itulah yang terjadi di Indonesia. Satria juga bergabung dengan penelitian seputar MDR-TB atau multidrug resistant tuberculosis. Yaitu, kuman TB yang resistan.

Bila seorang pasien TB harus minum obat selama enam bulan berturut-turut, penderita MDR-TB minum obat selama 20 bulan berturut-turut.

’’Selain vaksin TB, di Groningen juga sedang dilakukan penelitian vaksin untuk MDR TB,’’ ujarnya sambil menunjukkan bukti karya ilmiahnya berjudul Targeting Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) by Therapeutic Vaccines yang sudah dipublikasikan dalam jurnal internasional tersebut.

Selama wawancara dengan Jawa Pos, Satria tidak hanya berbicara panjang dan detail. Dia juga membawa banyak bukti karya ilmiah, surat-surat yang menunjukkan prestasinya.

Bagi dia, hitam di atas putih sangat penting untuk bukti. Barangkali hal itu terjadi pada gifted yang lain.

Tetapi, hal penting bagi Satria selama di Belanda adalah mengenal Prof Tjip S. Van Der Erf MD PhD, internist-infectiologist. Karena berkat Prof Tjip, Satria mendapatkan beasiswa untuk menempuh S-3 di London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Ya, Satria berkesempatan menempuh pendidikan S-3 meski dia belum mempunyai gelar master. Itu terjadi berkat rekomendasi Prof Tjip.

Meski begitu, Satria tidak langsung diterima. Dia melakukan wawancara lewat Skype dengan Dr Helen A Fletcher, dosen senior di Faculty of Infectious and Tropical Disease, London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Wawancara tersebut dilakukan pada Maret lalu. Satria menyatakan tidak menemukan kendala yang berarti selama wawancara. Sesuai dengan prediksinya, pertanyaannya tidak jauh-jauh dari apa yang sudah dia lakukan di Belanda.

’’Yang saya takutkan saat itu adalah koneksi internet, tapi alhamdulillah semuanya lancar,’’ ucap Satria yang ingin menjadi dokter spesialis anak tersebut.

Dia pun diterima menjadi mahasiswa PhD dengan beasiswa kuliah. Untuk biaya hidup, Satria sedang mengusahakan beasiswa unggulan (BU) dari Kemendikbud.

Rencananya, Satria berangkat ke London pada awal September mendatang. Sebab, kelas dimulai pada 29 September 2014. Sekarang yang dipersiapkannya adalah membaca dan membaca. ’’Pastinya seputar vaksin supaya punya referensi,’’ terangnya.

Bagaimana dengan kegiatan lain selain akademis? Satria mengatakan tetap hang out seperti anak normal lain. Nonton film di bioskop atau jalan ke mal. Tapi, dia lebih merasa fun ketika berkumpul dengan anak-anak

Karena itu, sejak 2013, dia bergabung dengan Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus. Dalam yayasan yang mengadvokasi anak berkebutuhan khusus (ABK) dari kalangan menengah ke bawah tersebut, awalnya Satria menjadi relawan.

Namun, sudah dua bulan ini dia didapuk menjadi wakil ketua oleh dr Sawitri Retno Hadiati, pendiri yayasan itu.

Ditanya seputar tambatan hati, Satria mengaku masih jomblo. Bukan karena tidak ingin pacaran, tapi hanya belum menemukan yang cocok.

Apa juga mencari perempuan yang gifted seperti dirinya? Satria langsung menggeleng. Satria menyatakan hanya mencari perempuan yang seiman, cantik, dan cerdas. Yang bisa nyambung ketika diajak ngobrol mengenai hal apa pun. (Dinda Lisna Amilia/c7/ib)

Sumber: JPNN, Rabu, 02 Juli 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: