Home / Artikel / Vaksin: Komersial atau Sosial?

Vaksin: Komersial atau Sosial?

Kalbe (Indonesia) dan Genexine (Korsel) merencanakan uji klinik atas vaksin GX-19 berbasis DNA. Pengembangan vaksin ini tentu tidak didasarkan pada perhitungan komersial.

Penemu vaksin cacar, Edward Jenner, dengan susah payah mendapat pengakuan atas keberhasilannya. Berkat penemuan itu, penyakit cacar dapat diusir dari muka bumi setelah hampir 180 tahun. Negara berkembang memperoleh donasi vaksin cacar dari negara-negara maju, termasuk pihak-pihak yang berseberangan akibat Perang Dingin, tetapi bahu-membahu mendukung program eradikasi cacar sejak 1967 sampai 1977.

Albert Calmette dan Camille Guerrin yang bekerja di Institut Pasteur, Perancis, berhasil menjinakkan bakteri tuberkulosis yang berasal dari sapi untuk dijadikan vaksin, dinamakan BCG. Vaksin ini berhasil mencegah infeksi tuberkulosis pada manusia.

Para penemu BCG tak sempat menikmati pengakuan secara bulat atas manfaat vaksin BCG, terutama setelah stok lokal vaksin yang tercemar kuman tuberkulosis mengakibatkan belasan korban meninggal akibat infeksi tuberkulosis di Lubec, Jerman, tahun 1930. Tahun-tahun berikutnya dapat dibuktikan BCG mampu melindungi sebagian masyarakat di negara berkembang dari infeksi tuberkulosis, khususnya radang selaput otak dan penyebaran kuman melalui aliran darah.

Tahun 1951 Hadiah Nobel untuk bidang kedokteran, satu-satunya terkait penemuan vaksin, diberikan kepada Max Theiler yang berhasil mengembangkan vaksin demam kuning yang efektif dan aman. Dalam pidato penerimaan penghargaan bergengsi itu, Dr Theiler justru mengingatkan betapa besar peran para pekerja di laboratorium, para peneliti yang berjuang keras di masyarakat dan di tengah hutan. Mereka jadi martir ilmu pengetahuan agar orang lain tetap hidup.

Jonas Salk 65 tahun lalu mengembangkan vaksin melawan penyakit polio secara efektif tanpa mengharapkan paten. ”Dapatkah Anda mendapat hak paten atas Matahari?” demikian jawabnya ketika ditanya siapa pemilik paten vaksin polio itu.

Saat ini GlaxoSmithKline (GSK) merupakan produsen vaksin paling unggul disusul Merck, Sanofi, dan Pfizer, yang telah mengembangkan beberapa vaksin melalui teknologi biomolekuler. Produksi vaksin butuh investasi mahal dengan keuntungan yang relatif kecil. Berbeda dengan produksi obat untuk penyakit kronik seperti diabetes, hipertensi, dan jantung, bahkan penyakit kanker, yang dikonsumsi setiap hari, sehingga penjualan dapat mencapai volume yang lebih besar.

Kelangkaan vaksin yang dibutuhkan negara berkembang atau mereka yang tidak mampu membeli dengan harga tinggi dapat terjadi jika produksi vaksin dihentikan atas pertimbangan bisnis. Untuk mengatasi keengganan memproduksi vaksin bagi negara berkembang, lembaga internasional mengembangkan social venture capital yang mampu mengucurkan modal investasi bagi perusahaan farmasi, misalnya GSK yang mengembangkan vaksin BCG melalui rekayasa genetika.

Vaksin Covid-19
Bagaimana dengan vaksin untuk mencegah Covid-19? Ada 120 calon vaksin dikembangkan di pelbagai laboratorium atau perusahaan biofarmasi di seluruh dunia. Sekurang-kurangnya uji klinik (percobaan pada manusia) telah dilakukan terhadap 10 calon vaksin. Perusahaan Sinovac Biotech (China) menggunakan virus yang sudah dimatikan (inaktivasi) telah berhasil menimbulkan kekebalan pada monyet dan aman bagi manusia. Uji klinik fase dua sedang dilakukan dengan melibatkan 1.000 sukarelawan. Uji klinik fase tiga sudah dirancang dengan subyek lebih banyak lagi.

Perusahaan Moderna di AS menggunakan materi genetik virus, mRNA, sebagai bahan vaksin, sudah menjalani uji klinik. Satu peserta uji klinik melaporkan efek samping setelah pemberian vaksin kedua, menggigil, mual, dan nyeri otot. Patut dicatat, vaksin mRNA belum ada yang digunakan secara luas pada manusia. Pfizer (AS) menggandeng Biontech (Jerman) juga sedang melakukan uji klinik terhadap empat calon vaksin, kombinasi antara mRNA dan antigen virus yang memicu kekebalan.

Vaksin yang dikembangkan Universitas Oxford tak menimbulkan kekebalan pada monyet. PM Inggris Boris Johnson, yang selamat dari Covid-19, meragukan pengembangan vaksin akan berhasil. ”Kita harus menemukan cara lain untuk mengendalikan virus ini,” katanya.

Kalbe (Indonesia) dan Genexine (Korsel) merencanakan uji klinik atas vaksin GX-19 berbasis DNA (sesuai informasi dari RNA virus) yang sudah terbukti dapat mencegah infeksi virus penyebab Covid-19 pada monyet. Pengembangan vaksin ini tentu tidak didasarkan pada perhitungan komersial, tetapi mengisi celah kemungkinan jika jumlah unit vaksin yang dibutuhkan di seluruh dunia tak mencukupi. Sebagaimana moto sosial kemanusiaan di era pandemi: ”Jangan sampai ada seorang pun yang tertinggal”.

Hari Kusnanto, Guru Besar, Departemen Kedokteran Keluarga dan Komunitas FKKMK Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sumber: Kompas, 3 Juni 2020

Share
x

Check Also

Tantangan Kelola Riset dan Inovasi

Inovasi selalu multipihak dan bertahapan jamak. Ia tak pernah akan bisa dipaksa, tetapi prosesnya bisa ...

%d blogger menyukai ini: