Home / Berita / Saatnya Pantau Rutin Fitoplankton di Teluk Jakarta

Saatnya Pantau Rutin Fitoplankton di Teluk Jakarta

Berbagai lembaga sibuk melakukan pengujian setelah kasus kematian massal ikan di Teluk Jakarta. Semestinya pengujian dilakukan secara rutin, maksimal sebulan sekali, untuk pencegahan kematian massal ikan dan risiko bagi masyarakat. Salah satu yang utama adalah pengujian kadar fitoplankton.

“Paling bagus pemantauan itu dua minggu sekali,” kata peneliti plankton pada Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), Hikmah Thoha, saat dihubungi pada Rabu (2/12). Dengan adanya pemantauan rutin, informasi terkait waktu-waktu potensial terjadi ledakan populasi fitoplankton bisa diprediksi.

Hasil survei cepat tim P2O LIPI terhadap contoh air laut dan ikan yang diambil pada Selasa (1/12) menunjukkan, kematian ribuan ikan di Pantai Ancol, Senin (30/11), diduga akibat kekurangan oksigen karena ledakan populasi fitoplankton Coscinodiscus spp.

Menurut Hikmah, pada 2004 dan 2005 terjadi ledakan populasi fitoplankton di bulan Mei dan November. Mei merupakan awal musim kemarau dan November awal musim hujan. Peneliti butuh data dengan frekuensi pemantauan lebih rapat agar prediksi waktu bisa lebih baik.

Tujuan pemantauan rutin tidak hanya untuk mengantisipasi kematian massal ikan, tetapi juga membuat masyarakat terhindar dari risiko kesehatan akibat ledakan populasi fitoplankton. “Tahun ini, fitoplankton yang populasinya meledak tergolong tidak berbahaya, tetapi kita harus mengantisipasi ke depan jika yang meningkat adalah fitoplankton yang beracun,” kata Hikmah.

Jika hasil pemantauan menunjukkan jumlah fitoplankton meningkat signifikan, pemerintah bisa memberikan peringatan dini kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan asal Teluk Jakarta dulu. Setelah hasil pengujian memastikan fitoplankton tersebut tidak beracun, pemerintah dapat mengumumkan ikan aman bagi kesehatan. Pemantauan rutin ini perlu didasari kerja sama multipihak, antara lain P2O LIPI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pengelola Ancol, dan seluruh pihak yang berada di area Teluk Jakarta.

36af881721e84612b922bede02bb2470KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS–Tim dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta dan petugas Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya melakukan pemantauan dan pengambilan sampel di Teluk Jakarta, Selasa (1/12). Hal ini terkait dengan matinya ribuan ikan yang terdampar di Pantai Ancol, Jakarta Utara, sehari sebelumnya.

Menurut Kepala P2O LIPI Dirhamsyah, Coscinodiscus spp merupakan spesies umum di perairan Indonesia. “Spesies ini tidak berbahaya, tidak mengandung toksin. Namun, karena populasi meledak, oksigen di perairan itu tersedot untuk kebutuhan miliaran sel jenis tersebut,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (1/12).

Hal tersebut berdasarkan hasil survei cepat tim P2O LIPI terhadap contoh air laut dan ikan yang diambil pada Selasa (1/12). Dari kajian, kematian massal ikan di Pantai Ancol pada 29-30 November akibat ledakan populasi Coscinodiscus spp.

Kepala Sub-Bidang Diseminasi dan Kerja Sama P2O LIPI Indra Bayu Vimono menuturkan, tim mengambil contoh pukul 11.00-13.00. Terdapat tujuh titik pengambilan sampel yang semuanya berada di antara penahan gelombang dengan Pantai Ancol. Contoh di tiga titik di area laut diambil menggunakan kapal, empat titik lain diambil di bagian pantai. Data yang diukur berupa kepadatan fitoplankton, kandungan fosfat dan nitrat di air, serta kandungan oksigen terlarut.

Mati lemas
Coscinodiscus spp sebagai fitoplankton berperilaku seperti tumbuhan. Nitrat dan fosfat berfungsi sebagai pupuk bagi makhluk itu. “Ketika nitrat dan fosfat melimpah, fitoplankton aktif berfotosintesis dan membelah diri secara cepat,” ujar Indra.

Pada malam hari, fitoplankton aktif menyerap oksigen. Karena membentuk hamparan, fitoplankton sangat efisien dalam menyerap oksigen sehingga tidak menyisakan oksigen untuk makhluk hidup lain. Ikan-ikan pun mati lemas.

Tim peneliti P2O LIPI menyatakan, kadar oksigen terlarut di air pada stasiun satu, dua, dan tiga yang berada di area laut sangat rendah, hanya 0,765 mililiter per liter atau 1,094 miligram per liter (keadaan normal 4-5 mg per liter). Kadar oksigen minim akibat tersedot oleh banyaknya Coscinodiscus spp. Tim menemukan bahwa kepadatan fitoplankton ini mencapai 1-2 juta sel per liter.

Kesimpulan tersebut sesuai dengan hasil wawancara sejumlah pekerja di Pantai Karnaval Ancol dan Karyawan PT Jaya Ancol yang mengawasi kondisi perairan. Pada Sabtu dan Minggu, air berwarna lebih gelap dengan banyak bintik-bintik hitam. Kepiting dan ikan mulai lemas pada hari Minggu. Kematian massal ikan mencapai puncaknya Senin pagi.

Data survei, kadar fosfat dan nitrat di stasiun satu, dua, dan tiga sangat rendah. Kondisi tersebut menunjukkan terdapat penyerapan bahan nutrisi tersebut oleh fitoplankton sebelum berkembang dalam jumlah luar biasa. “Ini karena kami mengukur setelah kejadian. Jika kami mengukur sebelum peristiwa kematian massal ikan, kadar fosfat dan nitrat pasti tinggi,” kata Indra.

Pada lokasi pengamatan lain di tepi pantai, kadar fosfat dan nitrat cenderung tinggi. Ini kemungkinan akibat pembusukan dari bangkai ikan sehingga data tidak terlalu ditonjolkan karena bias.

Aktivitas manusia
Dirhamsyah menyatakan, ledakan populasi Coscinodiscus spp yang diikuti dengan kematian massal ikan bukan sekadar kejadian alami. Terdapat faktor aktivitas manusia yang memengaruhinya. Dengan demikian, kematian massal sesungguhnya dapat dicegah.

Menurut Dirhamsyah, pembangunan penahan gelombang agar tidak mencapai area wisata Pantai Ancol membuat jalan keluar masuk air yang menghubungkan Pantai Ancol dengan laut hanya satu jalan. Akibatnya, pola arus alami laut terganggu. Air pun stagnan karena tertahan oleh penahan gelombang sehingga memungkinkan pertumbuhan fitoplankton menjadi cepat dalam skala lokal.

a971b18e352b4827b0422e19c3fde2c9KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS–Petugas dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI dan Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri mengambil contoh air di tiga lokasi di perairan Teluk Jakarta, Selasa (1/12). Sejumlah instansi, termasuk dari kementerian dan kepolisian, ikut turun mengecek kondisi air di Teluk Jakarta setelah kejadian matinya ribuan ikan di Pantai Ancol, Jakarta Utara.

Selain itu, terdapat air hujan serta sampah dari darat yang masuk laut melalui sungai di sebelah baratnya. Arus dari Laut Jawa yang mengarah ke Jakarta membuat air hujan serta sampah masuk ke perairan di antara tanggul, tetapi tidak bisa kembali ke laut karena tertahan. Padahal, air hujan dan sampah menyebabkan fosfat dan nitrat yang merupakan makanan fitoplankton naik.

Menurut Dirhamsyah, pengelola Pantai Ancol sebaiknya menata kembali pengelolaan tanggul. Pemantauan kadar oksigen, nitrat, fosfat, dan kandungan lain perlu dijalankan setiap bulan sehingga bisa mengantisipasi kejadian serupa. Jika nitrat dan fosfat terpantau naik, misalnya, penanganan bisa berupa mengatur keluar masuknya air serta menggunakan zat kimia tertentu untuk menurunkan nitrat dan fosfat.

Jadi perbincangan
Kematian massal ikan di Pantai Taman Impian Jaya Ancol, Senin lalu, masih menjadi buah bibir sebagian warga, Rabu (2/12). Layanan aplikasi Topsy pada pukul 10.42 WIB mencatat bahwa dalam 18 jam terakhir terdapat 3.336 kali frasa “ikan mati” digunakan di linimasa Twitter. Jumlah itu cenderung mengalami peningkatan menjelang siang hari.

Salah satu topik yang cukup banyak diperbincangkan ialah mengenai kelayakan ikan-ikan tersebut untuk dikonsumsi. Sejumlah pengguna Twitter mengkhawatirkan dampak kesehatan jika ikan-ikan tersebut dikonsumsi sekalipun Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memastikan ikan-ikan tersebut aman untuk dikonsumsi.

Kekhawatiran tersebut antara lain diutarakan Gita Hastarika dengan akun ?@hastarika yang mengatakan: “Ada ribuan ikan mati di Teluk Jakarta. Puasa makan ikan dulu. Kecuali yakin ikannya gak berasal dari situ”.

Hal senada disampaikan Asep Pratama dengan akun ?@asave7777 yang mengatakan: “750kg ikan mati di pantai ancol. Padahal masuk ancol aja bayar tapi ga bisa menjaga ekosistem laut. Ga mau makan ikan dulu deh..”.

Andi Arief dengan akun ?@AndiArief_AA menulis: “Kalau jaman kita SD mah ini penyebab ikan mati disebut Ganggang merah”.

Sementara itu, pengguna akun ?@initemanbudi mengatakan: “Wah banyk ikan mati dan terdampar di ancol jakarta utara, pemprov jakarta meneliti apkh limbah domestik atau industri”.

J GALUH BIMANTARA DAN INGKI RINALDI

Sumber: Kompas Siang | 2 Desember 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: