Home / Artikel / ‘Red Tide’ Hadir di Pantai Utara Jakarta

‘Red Tide’ Hadir di Pantai Utara Jakarta

Beberapa waktu terakhir, berbagai kejadian alam datang beruntun. Banjir bandang, gempa, tanah longsor hingga badai tropis disertai angin kencang dan gelombang pasang melanda. Begtu pun badai “lena”, yang berdampak luas terutama pada ekosistem di laut. Berkaitan dengan itu di sekitar perairan Teluk Jakarta hingga Februari lalu terdeteksi gejala alam ‘red tide‘ yang luput dari perhatian. ‘Red tide’, atau ‘pasang merah‘, merupakan fenomena alam yang terjadi akibat pelimpahan fitoplankton di laut.

Peristiwa ‘red tide’ kerap melanda sebagian besar perairan Asia Tenggara. Gejala ini sejak 1983 sering terjadi, dan menjadi ‘issue’ yang mengemuka bagi gara pakar biologi kelautan. Yang merisaukan gejala alam ini mengeluarkan suatu toksin yang tidak saja mematikan hewan laut, namun secara ekonomis juga merugikan kekayaan laut, bahkan dapat membahayakan manusia bila kebetulan mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi toksinnya.

Dari hasil pemantauan P3O (Pusat Panelitian dan Pengembangan Oseanologi) LIPI, gejala ‘red tide’ di pantai utara Jakarta terdeteksi sejak pertengahan Nopember 1992 hingga Februari 1993. Peristiwa ini ditandai dengan perubahan warna air Iaut. Teluk Jakarta, mulal garis pantai terlihat berubah warna menjadi hijau tua. Kira-kira 1 km ke arah laut air berubah menjadi hitam pekat, dan pada 2 km selanjutnya air terbentang berwarna coklat kemerahan. Keadaan ini meliputi perairan yang amat luas, muiai dari bagian timur ke arah barat. Air di sekitar lokasi tercium berbau amis karena proses pelimpahan algae yang bercampur air laut.

Gejala ‘red tide‘ di pantai Jakarta kali ini sangat menarik diamati, karena terbilang khas, yakni tidak menimbulkan zat racun seperti dijumpai pada beberapa kasus serupa sebelumnya. Hal ini terbukti dan tidak adanya laporan mengenai kematian masal hewan dasar laut pada kasus itu, berbeda dengan kejadian ‘red tide‘ di pantai Jakarta pada 1991. Fenomena ‘red tide’ saat itu disebabkan oleh algae Trichodesmium erythraeum, yang menyebabkan kematian biota laut, seperti bintang laut, timun laut,
udang, ikan-ikan, kerang dan lain-lain mati lemas karena kekurangan oksigen di dalam air.

Yang menarik pada kejadian ‘red tide’ di pantai utara Jakarta yang baru lalu ialah organisme penyebabnya tidak didapati di perairan Indonesia pada umumnya. Contohnya, Gonyaulax polygramma yang mencapai pertumbuhan 91% di semua area pelacakan. Jenis fitoplanklon Iain yang ikut membentuk ‘red tide’: Prorocentrum micans, Gymnodinium breve, Coscinodiscus excentricus dan Thalassiosira sp. Hasil identifikasi perhitungan sampel menunjukkan kandungan Gonyaulax paling tinggi terdapat sekitar 3 km dari pantai. Jumlah ini melimpah hingga 128.000 sel/liter. Begitu juga dengan kandungan organisme lain.

Eutrofikasi dan Dampak Sekunder
‘Red tide’ dapat terjadi di mana saja dan kejadiannya tak dapat diramalkan. Kendati begitu, proses alam ini erat berkaitan dengan perubahan cuaca di laut, terutama menyusul datangnya musim hujan dan angin topan.

Pelimpahan fitoplankton dari proses ini sebetulnya merupakan indikator bahwa perairan sedang mengalami tekanan. Keadaan ini disebut ‘eutrofikasi‘: proses pengayaan yang berlebihan dari sisa-sisa nutrisi di suatu perairan yang ditandai melimpahnya fitoplankton. Jika eutrofikasi berlangsung beberapa saat kemudian di dasar perairan dijumpai keadaan kekurangan oksigen atau ‘Oxygen Defisiency’. Keadaan ini dapat meluas sampai ke dekat permukaan, dan jika makin parah, hewan-hewan dasar laut akan mati massal. Bila ini berlangsung lama, kemungkinan ekosistem akan rusak.

Eutrofikasi dibedakan ke dalam 2 type: yang bersifat alami dan yang disebabkan ulah manusia. Type pertama biasa terjadi di laut lepas, terbentuk dalam waktu sekitar 10 tahun. Type kedua, berupa pencemaran lingkungan di laut, terbentuk dalam 2 atau 3 tahun saja. Diduga kuat, kasus ‘red tide’ di pantai Jakarta itu disebabkan kedua jenis eutrofikasi. Karena ada indikasi, wilayah tersebut telah mengalami polusi berat.

Didapat hipotesa, proses alam ini merupakan dampak sekunder dari bencana alam akhir-akhir ini, diawali gempa dengan disertai gelombang “tsunami”. Akibat dari gempa yang sama terjadi penurunan dasar laut yang menimbulkan gelombang pasang, hingga kondisi perairan berubah, yang efeknya meliputi perairan Teluk Jakarta. Arus pada saat itu bergerak menjadi arus global yang mengarungi lautan dunia. Perkiraan itu didapat berdasarkan kehadiran badai ‘lena’ yang terdeteksi satelit NASA pada 20 dan 22 Januari 1993. Badainya meliputi Samudera Indonesia, Laut Maluku, dan Teluk Australia. Di Australia utara badai “lena” menyatu dengan badai tropis yang berada lantara 5 derajat LU dan 5 derajat LS Australia, dan menimbulkan pasang tinggi di daerah itu serta mempengaruhi angin kencang dan badai di selatan P. Jawa beberapa waktu lalu.

Pemanfaatan Fitoplankton
Proses terbentuknya ‘red tide’ ditandai dengan pelimpahan salah satu jenis algae. Algae yang dimaksudkan ialah fitoplankton. Di dalam suatu perairan, fltoplankton terdiri dari ribuan jenis. Pengolahan algae bagi kegiatan yang lebih bermanfaat hingga kini terbilang jarang, kendati tidak tertutup kemungkinan di dalam tubuh organism-organisme pembentuk ‘red tide’ terdapat zat-zat yang sangat berguna. Melalui pengembangan lebih lanjut, zat ini mungkin dapat dimanfaatkan sebagai pembentuk vitamin, zat antibiotik, pakan alami, serta pengendali lingkungan, dsb. Di Korea –melalui metoda bioteknologi— telah dihasilkan vitaamin berbentuk makanan alam ‘Sun Chlorella’ dari pengembangan lebih lanjut algae Chlorella sp.

Di wilayah kita, fitoplankton sebagai mikro-algae penting untuk menunjang agro-industri, terutama udang dan ikan. Di Jawa Timur seluruh industri udang mengambil fitoplankton jenis Skeletonema costatum langsung dari perairan sebagai pakan hidup. Sedangkan Spirulina platensis dengan kandungan protein 80% telah dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan manusia.

Di lain pihak, ‘red tide” masih menjadi ‘momok’ karena berpotensi menimbulkan akibat yang sangat merugikan. Fenomena ‘red tide’ pada Mei 1991 di Lampung mencemarkan hampir seluruh pantai timur Lampung, menghancurkan ratusan hektar tambak udang, dan menurunkan secara drastis hasil tangkapan nelayan. Catatan pada P3O-LIPI menyebutkan, keseluruhan wilayah NTT, Ujungpandang, dan P. Sebatik, Kaltim pernah menjadi ajang ‘red tide’, dan mengakibatkan 414 kasus keracunan karena mengkonsumsi ikan yang tercemar, 15 orang meninggal.

Pemantauan masalah ‘red tide’ di Indonesia masih terkesan adem ayem. Sebaiknya masalah penanganan ‘red tide’ disebarluaskan dengan melibatkan berbagai kalangan. Perguruan tinggi dan pihak swasta dapat meneliti lebih lanjut pemanfaatan algae. Pada akhimya, penggalangan perhatian yang meluas mengenai ‘red tide’ akan berguna untuk memperkecil berbagai kerugian. Di sisi lain, sebagai negara kepulauan, wilayah kita sangat berpotensi terhadap fenomena alam ‘red tide’. Oleh karena itu, kita harus mengantisipasinya jauh-jauh hari.

Quraisyin Adnan, Staf Peneliti pada P3O – LIPI

Sumber: Republika, Rabu, 14 April 1993

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: