Home / Berita / Eutrofikasi; Ikan ”Pembersih” Cegah Maut

Eutrofikasi; Ikan ”Pembersih” Cegah Maut

Kematian massal ikan berkali-kali terjadi di beberapa wilayah perairan di Indonesia. Kasus itu umumnya muncul di danau dan waduk. Pencegahan bisa dilakukan, mulai dari memasang sistem peringatan dini, menyedot limbah, hingga menebar spesies ikan ”pembersih”.

Di antara danau-danau tempat budidaya ikan di keramba jaring apung (KJA), kasus kematian ikan paling banyak terjadi di Danau Maninjau, Sumatera Barat. Masalah itu muncul sejak memulai budidaya ikan KJA pada awal 1900-an.

Tahun 2010, kematian mencapai 500 ton lebih. Kerugian setahun sebelumnya bahkan lebih besar lagi, 13.413 ton. Kerugiannya Rp 150 miliar dan menyebabkan 3.143 warga kehilangan mata pencarian.

Pangkal masalahnya adalah penumpukan pakan ikan di dasar danau yang tidak termakan ikan di KJA. Feses ikan dan sisa pakan, karena mengandung fosfor dan nitrogen, merangsang pertumbuhan fitoplankton atau alga serta meningkatkan produktivitas perairan (eutrofikasi). Namun, unsur hara berlebihan itu memicu ledakan perkembangbiakan alga sehingga mengancam kehidupan organisme di badan air, termasuk ikan. Ancaman kematian meningkat saat terjadi kenaikan suhu udara dan tiupan angin kencang yang menyebabkan pergolakan air danau sehingga mengangkat massa air yang mengendap (upwelling).

Massa air membawa senyawa beracun hasil penguraian limbah pakan hingga mengakibatkan kandungan oksigen di badan air berkurang. Rendahnya oksigen di air itulah penyebab kematian ikan secara mendadak.

13833042hSelain faktor itu, menurut Didik Wahju Hendro Tjahjo, peneliti utama pada Balai Penelitian, Pemulihan, dan Konservasi Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dari dasar Danau Maninjau yang berada di bekas kawah gunung terjadi rembesan sulfur alam. Unsur sulfur yang mengurangi daya ikat oksigen dalam darah berefek melemaskan ikan. Karena itu, Danau Maninjau sesungguhnya tak direkomendasikan jadi kawasan budidaya ikan.

Peringatan dini
Sistem peringatan dini buatan peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pernah diuji coba di Danau Maninjau tahun 2010. Sistem itu mengukur arus balik dari dasar danau dan eutrofikasi yang diketahui sebagai penyebab kematian massal.

Alat peringatan dini itu mendeteksi pola fluktuasi oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) di dasar danau sebelum arus balik sampai ke bagian tengah dan atas danau. Sistem tersebut dilengkapi perangkat telemetri yang mengirim data ke kantor pusat untuk dianalisis guna mengeluarkan peringatan dini kepada pihak terkait.

Hasil rekaman di pusat data, terlihat penurunan DO hingga di bawah 3 miligram per liter (mg/l) dengan nilai DO terendah 2,72 mg/l. Ketika itu, sistem telah mengeluarkan peringatan dini sebelum DO terus menurun 13 jam kemudian. Kandungan DO mencapai 1,54 mg/l dan mulai mengakibatkan kematian ikan massal. Nilai terendah penurunan oksigen 0,92 mg/l.

Dengan mengetahui pola fluktuasi dan penurunan DO, pemilik KJA diberi tahu kedatangan ancaman kematian ikan. Karena peringatan dini itu, mereka dapat mengantisipasi dengan memanen ikan lebih awal.

Pencegahan kematian ikan massal juga bisa dengan mengurangi endapan limbah organik yang terus bertambah. ”Mau tak mau endapan harus disedot,” kata Iwan Eka, peneliti lingkungan dan perikanan BPPT yang diperbantukan di Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
Ikan ”pembersih”

Untuk mengatasi eutrofikasi, pernah dilakukan penebaran ikan ”pembersih” di beberapa danau dan waduk, antara lain di Waduk Jatiluhur. Di sana, kandungan oksigen terlarutnya rendah. Di bawah 30 meter dari permukaan air tak ada oksigen.

Ikan yang disebarkan adalah jenis herbivora pemakan fitoplankton atau alga, yakni bandeng, patin, nila, dan gurami. Ikan itu memiliki pola pergerakan dan jelajah berbeda. Nila banyak bergerak di pinggir waduk, patin di bagian median, dan bandeng di tengah waduk serta lebih dalam. Introduksi untuk mengatasi pencemaran pernah dilakukan di Danau Toba (Sumatera Utara), Limboto dan Tondano di Sulawesi, serta beberapa waduk di Pulau Jawa (Malahayu, Wadaslintang, Wonogiri, dan Darma).

Di Danau Tondano, penebaran ribuan benih ikan koan atau grass carp (Ctenopharyngodon idella) dilakukan Suparman, pegiat lingkungan hidup yang juga Wakil Ketua Bidang Sumber Daya Mineral Persatuan Insinyur Indonesia. Di Danau Tondano, pelepasan ikan koan bertujuan menekan hama eceng gondok.

Introduksi ikan spesies asing memang mengatasi pencemaran organik pada tingkat tertentu. Namun, keberadaannya bisa berefek negatif, yaitu punahnya ikan lokal, antara lain karena kalah bersaing soal pakan atau dimangsa ikan ”pendatang” itu. Pengenalan ikan mas atau karper (Cyprinus carpio) di Danau Toba, misalnya, menyebabkan ikan batak (Neolissochilus thienemanni) nyaris punah. Oleh karena itu, penyebaran benih ikan harus berdasarkan rekomendasi dinas perikanan atas riset perilaku ikan dan pola hidupnya.

Penebaran ikan, selain mengatasi pencemaran dan melestarikan sumber daya ikan, secara tak langsung menyadarkan masyarakat lokal soal pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem untuk keberlanjutan mata pencarian dan perekonomian.

Pada penyebaran bibit ikan, antara lain nila, patin, nilem (Osteochilus vittatus), dan gurami, di Sungai Cikapundung, Jawa Barat, Oktober 2013, Suparman melibatkan mahasiswa Universitas Parahyangan. Mereka mengajak masyarakat sekitar sungai memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk dan biogas. Bukan dibuang ke sungai.

Menurut Suparman, pendekatan sosial lebih penting daripada pendekatan keteknikan untuk rehabilitasi lingkungan perairan. Itu juga yang mungkin bisa dilakukan di danau-danau.

Oleh: Yuni Ikawati

Sumber: Kompas, 30 Agustus 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: