Home / Berita / Astronomi / Planetarium Jakarta, Bangkit dan Mandiri Melintasi Jagat Raya

Planetarium Jakarta, Bangkit dan Mandiri Melintasi Jagat Raya

“Gantungkanlah cita-cita setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Pernyataan Soekarno yang terkenal itu barangkali sesuai dengan mimpinya saat akan mendirikan Planetarium dan Observatorium Jakarta lima puluh tahun yang lalu.

Harapan Soekarno cukup ambisius. Ia berharap keberadaan Planetarium Jakarta bisa membawa Indonesia unggul di antara negara-negara tetangganya dari sisi kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan, terutama ilmu astronomi. Segala upaya pun dilakukan untuk mewujudkannya.

Mengamati Gerhana Matahari – Seorang anak menggunakan kaca mata filter untuk menyaksikan proses gerhana matahari di Gedung Planetarium Jakarta, Jumat (15/1). Peristiwa gerhana matahari tetap bisa diamati dari wilayah Jakarta meski pun sesekali terhalangi awan mendung.–Kompas/Priyombodo (PRI)–15-01-2010

KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI)–Seorang anak menggunakan kaca mata filter untuk menyaksikan proses gerhana matahari di Gedung Planetarium Jakarta.

Namun, harapan itu kini sepertinya masih menjadi mimpi. Keberadaan Planetarium Jakarta belum signifikan membantu Indonesia menguasai ilmu astronomi. Alih-alih mendekati mimpi, kondisi planetarium justru semakin rapuh.

Pihak pengelola saat ini mulai mengurangi pertunjukan yang ditampilkan. Jika awalnya, planetarium bisa menyuguhkan enam kali pertunjukan dalam sehari, pngunjung sekarang hanya bisa mendapatkan dua kali pertunjukan. Alasannya, alat yang dimiliki oleh planetarium sudah tua. Alat ini tak lagi bisa memberikan performa yang maksimal.

Staf Planetarium dan Observatorium Jakarta Widya Sawitar mengatakan, berbagai keterbatasan menjadi kendala untuk memaksimalkan fungsi planetarium yang berada di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta itu. Infrastruktur, sumber daya ahli, juga dukungan pendanaan menjadi pokok kendala yang disampaikan. Planetarium belum dianggap penting untuk dikembangkan oleh pemerintah daerah.

Padahal jumlah kunjungan yang ada tidak sedikit. Dalam sehari di hari kerja, jumlah rata-rata kunjungan bisa mencapai 740 orang dan pada akhir pekan meningkat menjadi 1.250 orang. Bagi sebagian orang, planetarium menjadi tempat belajar yang menyenangkan mengenai luar angkasa dan “ilmu langit”.

Planetarium dan Observatorium Jakarta berada di bawah Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Disdikmenti) Provinsi DKI Jakarta. Tugas pokok dan fungsi yang dijalankan cukup terbatas. Target capaiannya pun lebih pada bilangan pengunjung yang datang.

Memperbaiki Star Ball – Pekerja memperbaiki komponen star ball yang rusak di ruang teater peraga Planetarium Jakarta di Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (25/5). Star ball memiliki 36 lensa buatan Carl Zeiss (Jerman) yang berfungsi untuk memproyeksikan gambaran bintang dan planet dalam sistem alam semesta. Ruang ini digunakan untuk menjelaskan gambaran tata surya dan alam semesta kepada pengunjung planetarium.
Kompas/Iwan Setiyawan (SET)–25-05-2012

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET)–Pekerja memperbaiki komponen star ball yang rusak di ruang teater peraga Planetarium Jakarta di Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sejumlah pihak pun mengusulkan agar pengelolaan planetarium bisa lebih mandiri. Salah satu usulannya yakni mendorong Planetarium Jakarta menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

“Setidaknya dengan menjadi BLUD, planetarium bisa lebih kreatif mengelola pendapatannya,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid dalam acara sarasehan HUT ke-50 Planetarium dan Observatorium Jakarta, Sabtu (27/4/2019).

Usulan itu pun menjadi upaya yang ingin didorong oleh Planetarium Jakarta. Widya mengakui, kreativitas yang ingin dituangkan dalam upaya mengembangkan eksistensi planetarium terhambat dengan kebijakan struktural.

Jika masih berada di bawah pengelolaan Disdikmenti seperti saat ini, kemajuan planetarium mungkin akan berjalan lambat atau bahkan menurun. Gebrakan dan inovasi perlu dilakukan mengingat planetarium merupakan salah satu lembaga yang spesifik dan krusial. Pemahaman terkait ilmu pengetahuan astronomi bisa diperbarui melalui tempat ini.

Sejarah
Secara resmi, Planetarium Jakarta pertama kali beroperasi untuk umum pada 1 Maret 1969. Keberadaan planetarium saat itu menjadi salah satu kebanggaan bangsa. Kalangan pemerhati astronomi menaruh harapan besar karena Planetarium Jakarta merupakan yang terbesar di Asia Tenggara.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Diskusi yang diadakan dalam rangkaian acara sarasehan HUT ke-50 Planetarium dan Observatorium Jakarta, Sabtu (27/4/2019).

Namun, tidak sedikit pula yang menganggap sinis pada proyek besar ini. Pasalnya, sumber daya serta rakyat Indonesia dinilai belum mampu memikirkan ilmu yang dianggap berat itu. Memikirkan masalah mendasar terkait kebutuhan hidup saja masih kesulitan.

Meski begitu, proyek mandataris tersebut nyatanya tetap berjalan. Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) menyambut rencana pembangunan dengan mengucurkan seluruh pendanaan yang dibutuhkan. Pemerintah tidak mengeluarkan dana sepeser pun.

Mimpi semakin besar. Di lokasi bekas Kebon Binatang Raden Saleh Cikini itu, pusat kunjungan iptek akan dibangun. Planetarium dan observatorium akan dilengkapi dengan perpusatakaan kota dan bioskop. Sayangnya, proyek terhenti pada 1966 karena gejolak politik yang setelah tiang pancang pertama dibangun tahun 1964.

Himpunan Astronomi Amatir Jakarta menyelenggarakan Pekan Astronomi di Planetarium TIM, Jakarta, dalam rangka HUT ke 2 sekaligus menyongsong komet Halley, Selasa (8/4/1986).–Kompas/Kartono Ryadi–Kegiatan itu diisi dengan pameran, bazar, ceramah, pemutaran film, dan penualan peralatan astronomi. Pada pembukaan hari Selasa (8/4), Prof Bambang Hidayat menyampaikan ceramah berjudul Sekitar Galaksi Kita. Bekas Menlu Prof Soenario (kiri), menyempatkan diri menyaksikan pameran. Pembangunan baru berlanjut pada 1968. Pemerintah DKI kala itu akhirnya mendirikan pusat kesenian di kawasan tersebut. Dalam pekembagannya, konsep pusat kunjungan iptek yang awalnya digadang-gadang justru beralih. Masyarakat kini lebih familier mengenal kompleks Taman Ismail Marzuki sebagai pusat kesenian.

Pendidikan, hiburan, dan kesenian
Planetarium Jakarta yang telah memasuki usia senja dan berbagai keterbatasan yang dialami saat ini tidak berarti memudarkan asa pendiriannya untuk memajukan ilmu pengetahuan astronomi di Indonesia. Formulasi baru terus diupayakan agar masyarakat bisa menerima ilmu ini secara lebih mudah dan menarik.

KOMPAS/KARTONO RYAD–Bangunan Planetarium di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akhir Oktober 1971. Planetarium adalah gedung teater untuk memperagakan simulasi susunan bintang dan benda-benda di langit.

Kepala Observatorium Bosscha, Premana W Premadi menyebutkan, Planetarium Jakarta seharusnya bisa menggabungkan fungsi edukasi, hiburan, dan seni dalam pertunjukan yang disajikan ke masyarakat. “Dengan cara ini ilmu astronomi menjadi lebih populer. Ekosistem kolaborasi para ahli dari lintas disiplin bisa dilakukan,” ujarnya.

Inovasi mutlak diperlukan agar Planetarium dan Observatorium Jakarta tidak sekadar bertahan namun bisa terus berkembang. Mimpi awal Soekarno menjadikan ilmu astronomi Indonesia lebih unggul dari negara lain memang belum terwujud. Namun, keberadaan planetarium setidaknya bisa memberikan pendidikan mengenai jagat raya secara lebih nyata sehingga bisa mendorong generasi muda menggantungkan cita-cita setinggi langit.–DEONISIA ARLINTA

Editor M FAJAR MARTA

Sumber: Kompas, 30 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: