Sambut Gerhana Matahari Total, Planetarium Sajikan Sarana Edukasi Astronomi

- Editor

Rabu, 31 Januari 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerhana Bulan Total pertama di 2018 menjadi peristiwa langka karena bersamaan dengan fenomena Bulan super dan Bulan biru atau biasa disebut Bulan super darah biru. Hal tersebut dimanfaatkan Planetarium dan Observatorium Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki untuk menyelenggarakan Peneropongan Umum Gerhana Bulan Total sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.

Hingga Selasa (30/1), jumlah pendaftar yang akan mengikuti kegiatan itu sebanyak 5.500 orang, yang di antaranya ada sekitar 700 anak-anak.

Kepala Satuan Pelaksana Teknis Pertunjukan dan Publikasi Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, Eko Wahyu Wibowo, mengatakan sebanyak 37 astronom yang berasal dari Planetarium Jakarta dan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) disiapkan untuk mendampingi para pengunjung, serta memberikan informasi terkait fenomena yang terjadi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

–Pegawai Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mengeset teleskop, Selasa (30/1). Rencananya di tempat tersebut akan diadakan nonton bareng supermoon.

“Kami ingin para pengunjung tidak sekadar menikmati fenomenanya tetapi juga mendapatkan pengetahuan baru tentang astronomi. Sehingga, mereka tak lagi percaya hal-hal yang takhayul terhadap fenomena alam yang terjadi,” ujar Eko di Planetarium, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Para pengunjung yang telah mendaftar kegiatan tersebut melalui internet diharapkan melakukan registrasi pada hari ini, Rabu (31/1) pukul 17.00 WIB. Namun, bagi mereka yang tidak mendapatkan kesempatan pakai teleskop, panitia telah menyediakan satu proyektor yang telah terhubung pada salah satu teleskop. Proyektor itu juga dipersiapkan untuk mengambil siaran dari situs internet, seperti National Aeronautics and Space Administration (NASA), apabila cuaca hujan dan menutupi fenomena Gerhana Bulan Total (GBT).

“Proyektor rencananya akan dipasang mobil observasi di halaman Planetarium. Jadi masyarakat tetap bisa menikmati proses Gerhana Bulan Total yang langka ini,” ujar Eko.

16 Teleskop disiapkan
Pada saat GBT terjadi, jarak bulan ke bumi diperkirakan mencapai 356 ribu kilomter. Sebanyak 16 teleskop telah disiapkan untuk memantau fenomena tersebut. Dari 16 teleskop tersebut, sebanyak 12 teleskop untuk umum, tiga teleskop khusus untuk pemotretan, dan satu teleskop untuk dihubungkan ke proyektor.

Astronom dari Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) Muhammad Rayhan mengatakan, melihat antusiasme pendaftar kegiatan peneropongan GBT, para pengunjung diharapkan tertib saat proses peneropongan. Setiap orang hanya bisa diberikan waktu 5-10 detik.

“Pasti kurang (teleskop) kalau sampai ribuan yang dating. Jadi tentunya orang yang mau lihat lewat teleskop harus tertib dan sabat karena dipastikan akan ada antrian yang panjang,” ujar Rayhan.

Para pengunjung juga diminta untuk selalu mengikuti arahan dari astronom yang mendampingi dalam peneropongan. Para pengunjung diharap tidak boleh menyentuh teleskop karena dapat mengubah titik koordinat sasaran bulan. Oleh karena itu, para pengunjung hanya diperbolehkan meletakkan mata dekat dengan lensanya.

“Jadi masyarakat tidak boleh main sendiri teleskopnya tanpa arahan astronom,” kata Rayhan.

Rayhan juga mengatakan, para pengunjung yang tidak mendapat kesempatan pakai teleskop tidak perlu khawatir karena fenomena GBT dapat dilihat dengan mata telanjang. “Meskipun jauh lebih menarik melihat fenomena tersebut dengan teleskop, sebenarnya fenomena ini juga bisa terlihat tanpa alat bantu, sama seperti kita melihat bulan biasa,” katanya. (DD18)

Sumber: Kompas, 31 Januari 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru