Peta Kajian Geologi Kereta Api Cepat Disusun

- Editor

Jumat, 9 Maret 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Badan Geologi tengah menyusun peta kajian geologi rinci pada lokasi pembangunan stasiun kereta api cepat Jakarta-Bandung di Walini, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Peta tersebut menjadi rekomendasi untuk pemanfaatan lahan di kawasan itu.

“Peta kajian geologi ditargetkan selesai dalam dua bulan. Selanjutnya akan diserahkan ke Kementerian Agraria dan Tata Ruang sebagai rekomendasi untuk pemanfaatan lahan,” ujar Kepala Subbidang Pengembangan Geologi Lingkungan di Badan Geologi Tantan Hidayat saat berkunjung ke lokasi pembangunan Stasiun Walini, Kamis (8/3).

Kereta api cepat Jakarta-Bandung menjadi salah satu proyek besar pemerintah mulai 2016 hingga tiga tahun ke depan. Keberadaannya akan memangkas waktu tempuh jarak Jakarta-Bandung sejauh 150 kilometer, dari 3-4 jam menjadi 30-45 menit. Kereta api cepat juga diharapkan memicu pusat perekonomian baru di Karawang, Walini (Bandung Barat), dan Gedebage (Kota Bandung).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tantan mengatakan, peta kajian geologi tersebut terdiri dari tiga bagian, yaitu kajian daya dukung tanah dan bebatuan, kajian stabilitas lereng, serta mikrozonasi. Ketiga kajian itu dibutuhkan agar pembangunan di stasiun dan kawasan transit oriented development (TOD) Walini sesuai dengan kondisi lahannya.

Proyek kereta cepat di Walini tidak hanya meliputi pembangunan trase dan stasiun. Di lokasi itu juga diproyeksikan pembangunan kota baru sebagai kawasan penyangga. Untuk itu, dibutuhkan kajian geologi lebih kompleks agar beban pembangunan infrastruktur tidak melebihi daya dukung lingkungan.

Kerentanan lahan
“Rekomendasi Badan Geologi bukan untuk menyimpulkan boleh atau tidak membangun di lokasi tertentu. Tetapi, apabila ingin membangun, kami memberikan saran terkait pola infrastrukturnya yang disesuaikan dengan kerentanan lahannya,” ujarnya.

Mikrozonasi, kata Tantan, diperlukan untuk memetakan kawasan potensi bencana dalam kategori tinggi, sedang, atau rendah. Potensi bencana itu terkait dampak goncangan dan kerentanan gerakan tanah.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA–Tim Badan Geologi melakukan kajian geologi pada lokasi pembangunan transit oriented development (TOD) Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Walini, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (8/3). Tim itu akan membuat peta kajian geologi rinci sebagai rekomendasi pemanfaatan lahan di kawasan tersebut.

Pemetaan mikrozonasi dilakukan dengan mengukur amplifikasi tanah di 240 titik yang berjarak 500 meter antartitik. Pengukuran itu untuk mengetahui secara detail kondisi kapasitas lahan terhadap kerentanan gempa.

“Tujuannya agar lahan dimanfaatkan dengan tepat. Jadi, zona potensi bencana berdasarkan kategorinya dibangun sesuai dengan peruntukannya,” ucapnya.

Berdasarkan peta kerawanan bencana, Walini memiliki potensi tinggi. Walini didominasi kawasan berbukit dan lembah. Lokasi tersebut banyak dimanfaatkan untuk kebun teh. Kawasan tersebut termasuk zona merah dampak guncangan gempa dan gerakan tanah.

Sumber gempa yang diperkirakan berdampak terhadap jalur kereta cepat adalah tiga sesar: Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, dan Sesar Baribis dengan asumsi kekuatan gempa magnitudo 7,0 dengan kedalaman 10-20 kilometer. Selain itu, ada gempa dari zona subduksi dengan magnitudo momen (Mw) 8,5-9,0 kedalaman 20-25 kilometer (Kompas, 30/1/2016).

Kepala Subbidang Pemetaan Tematik di Badan Geologi Isnu Hajar Sulistyawan mengatakan, walaupun berpotensi kerawanan bencana tinggi, kawasan Walini tetap dapat dimanfaatkan untuk pembangunan. Namun, pemanfaatannya harus disesuaikan dengan peta kajian geologi yang sedang disusun.

“Tetap bisa digunakan untuk pembangunan. Namun, sangat penting mengikuti peta kajian geologi agar dimanfaatkan dengan aman,” ucapnya.–TATANG MULYANA SINAGA

Sumber: Kompas, 9 Maret 2018

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 28 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB