Home / Berita / Kereta Cepat Picu Usaha Lokal

Kereta Cepat Picu Usaha Lokal

Kota Baru Walini Bisa Terungkit
Pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung diyakini mampu memacu pertumbuhan ekonomi mencapai 10 persen jika diintegrasikan dengan moda transportasi lain. Proyek itu harus disertai analisis lingkungan yang tepat agar keberadaannya kian menghidupkan usaha lokal.

“Moda itu akan membuat laju transportasi manusia dan barang menjadi lebih tinggi, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Apabila sebelumnya Jakarta- Bandung ditempuh 3-4 jam, jarak 150 kilometer itu bisa ditempuh menjadi 30-45 menit menggunakan kereta api cepat,” kata Wali Kota Bandung Ridwan Kamil di Bandung, Selasa (6/1).

KA cepat Jakarta-Bandung yang berada di bawah pengelolaan PT Kereta Cepat Indonesia China (PT KCIC) ini akan mulai dibangun 21 Januari 2016, dan ditargetkan rampung tiga tahun kemudian. Rel KA cepat dibangun di tepi jalan tol itu akan menghubungkan kawasan Halim Perdanakusuma di DKI Jakarta-Karawang-Walini (Bandung Barat), hingga Gedebage (Kota Bandung).

Khusus Gedebage yang menjadi stasiun terakhir, kereta cepat berpotensi mendukung rencana kawasan teknopolis Kota Bandung, termasuk akses bagi stadion terbesar di Jawa Barat, Gelora Bandung Lautan Api. Bahkan, diyakini mampu mendukung kemudahan transportasi melalui Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan hingga Bandar Udara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka.

Kamil mengatakan, KA cepat menjadi momentum tepat bagi warga Bandung mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih ideal, seperti wisata, transportasi, dan investasi. Momentum itu juga positif memicu perbaikan daya beli masyarakat Kota Bandung.

KA ringan
Kamil juga menilai, pembangunan KA cepat menjadi tantangan besar bagi penataan transportasi Kota Bandung. Misalnya, dibutuhkan sarana transportasi dari terminal KA cepat di Gedebage menuju pusat Kota Bandung. Salah satu solusi yakni mengintegrasikan KA cepat dengan light rail transport (LRT) atau KA ringan Kota Bandung.

LRT adalah salah satu megaproyek di masa kepemimpinan Ridwan Kamil. Untuk Koridor I jaraknya sekitar 10,15 kilometer dan Koridor II 20,05 km. Untuk 1 km diperlukan biaya Rp 500 miliar. Rencana ini telah disampaikan juga kepada Presiden Joko Widodo sehingga akan diterbitkan peraturan presiden agar LRT Koridor II Cimindi-Gedebage dikerjakan oleh PT KCIC.

Kepala Bappeda Kota Bandung Kamalia Purbani menambahkan, selain integrasi LRT Koridor II, pihaknya tengah mengkaji angkutan massal lainnya dari Gedebage menuju Kota Bandung. Hal itu akan dibahas Badan Koordinasi Transportasi Kota Bandung dalam waktu dekat.

Kota Baru
Dalam kaitan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyambut baik rencana membangun pabrik perakitan KA cepat di Kawasan Perkebunan Walini, Kabupaten Bandung Barat. Pembangunan pabrik diproyeksikan bakal mempercepat pembangunan Kota Baru Walini yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.

“Ini akan menjadi pengungkit, akselerator terciptanya kota mandiri yang dirancang pemerintah pusat, BUMN, dan Pemprov Jabar. Kami menyambut baik dan akan mendukung sesuai kompetensi kami sebagai regulator,” ujar Gubernur Jabar Heryawan. Pabrik perakitan ini dipersiapkan terutama untuk KA cepat Bandung-Jakarta.

Di pabrik ini, sejumlah BUMN, seperti PT INKA dan PT Len Industri, bekerja sama merakit sekaligus transfer ilmu dari perusahaan patungan pengelola, PT KCIC. KCIC diproyeksikan akan mengelola kereta cepat di ASEAN dan Timur Tengah. Selain Kota Walini, daerah lain yang dibidik adalah kawasan industri di Karawang.

Kota Walini akan dibangun di area seluas 3.000 hektar, tepatnya di Desa Maswati, Cikalong Wetan, Bandung Barat.

Di kawasan tersebut akan terdapat perumahan, pusat bisnis, pusat pemerintahan, dan Kampung Asia Afrika. Dengan lahan seluruhnya milik PT Perkebunan Nusantara VIII, menurut rencana akan dioptimalkan lahan tidak produktif dari perusahaan negara tersebut.

Untuk aksesnya, Pemprov Jabar akan memanfaatkan Jalan Tol Cipularang dan sinergitas pembangunan Jalan Tol Ciawi-Sukabumi, Sukabumi-Cianjur, dan Cianjur-Padalarang. Akses itu ditambah jalur jaringan KA cepat dan KA konvensional yang sudah ada di sekitar lokasi.

Kawasan Walini yang berjarak 22 km dari Kota Bandung dan berada pada Km 103 Tol Cipularang dikenal sebagai afdeling Panglejar. Pengembangan fungsi kawasan ini sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Barat Nomor 2 Tahun 2012 dan rencana tata ruang wilayah (RTRW) tahun 2009.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jabar Dadan Ramdhan menilai, pemerintah belum terbuka mengenai kajian lingkungan hidup di wilayah yang akan dilintasi KA cepat. Padahal, dia yakin KA cepat tidak sekadar pemenuhan sarana transportasi. Namun, rentan memicu alih fungsi lahan yang untuk bisnis properti dan usaha lainnya dengan potensi bencana.(CHE/DMU)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Januari 2016, di halaman 22 dengan judul “Kereta Cepat Picu Usaha Lokal”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: