Home / Berita / Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Dikaji

Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Dikaji

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi berencana menuntaskan Prastudi Kelayakan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya pada Desember 2017. Laporan itu akan diserahkan kepada Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Percepatan pelaksanaan kajian itu akan melibatkan perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Bandung; Universitas Diponegoro, Semarang; dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Keterlibatan perguruan tinggi itu meliputi perencanaan, pemilihan teknologi, analisis kelayakan proyek, serta kajian lingkungan dan sosial.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Unggul Priyanto seusai menandatangani nota kesepahaman bersama Rektor ITB Kadarsah Suryadi, di ITB, Bandung, Jawa Barat, Selasa (6/6).

Kajian awal kelayakan kereta cepat itu selama tujuh bulan. Kajian di jalur kereta Jakarta-Cirebon akan digarap ITB. Survei jalur Cirebon-Semarang oleh Undip, dan survei Semarang-Surabaya ditangani ITS. “Tim studi awal akan memaparkan hasil kajian sementara kepada Presiden RI, terutama kelayakan pembiayaan dan kecepatan kereta,” kata Unggul, dihubungi dari Jakarta.

Deputi Teknologi Industri, Rancang Bangun, dan Rekayasa BPPT Wahyu Pandoe menambahkan, kecepatan kereta ditingkatkan jadi 160 kilometer per jam dan waktu tempuh 4 jam. Itu perlu meniadakan sekitar 900 persimpangan atau lintasan kendaraan di jalur kereta tersebut sepanjang 750 km. Hal itu juga akan mengurangi tikungan dan melandaikan lokasi tanjakan. Riset kondisi tanah dan topografi dilakukan dengan teknik geolistrik dan survei geospasial.

Kolaborasi riset
Menurut Kadarsah, dengan 99 kelompok keahlian, pihaknya akan berkolaborasi mendukung riset tersebut. Karena itu, sumber daya manusia akan dilatih terlibat dalam pembangunan perkeretaapian, termasuk perancangan kereta dan suku cadang, serta pemeliharaannya.

“Untuk mendukung pengembangan kereta cepat di Indonesia, ITB merintis pembangunan Pusat Perkeretaapian Nasional,” kata Harun al Rasyid Lubis, Kepala Program Studi Magister dan Doktor Teknik Sipil yang juga peneliti di Pusat Teknologi Transportasi Berkelanjutan ITB.

Unggul menjelaskan, revitalisasi moda transportasi kereta kecepatan menengah di jalur itu direncanakan mengurangi volume lalu lintas udara sampai 30 persen. Penumpang pesawat antarkota besar itu meningkat dari 8 juta orang tahun 2016 menjadi 20 juta orang pada 2030.

Kereta yang dirancang jenis kereta listrik berkecepatan 166 km per jam sehingga waktu tempuh Jakarta-Surabaya hanya 4 jam 20 menit. Selama ini, dengan memakai lokomotif diesel, kecepatan kereta 60 km per jam dengan waktu tempuh 10 jam. Harapannya, 30 persen penumpang pesawat pindah ke kereta cepat atau ekspres. (YUN)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Juni 2017, di halaman 14 dengan judul “Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Dikaji”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: