Perguruan Tinggi Masih Bergulat dengan Masalah Mutu

- Editor

Jumat, 27 Februari 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masih sulit mengandalkan perguruan tinggi untuk dapat memperkuat daya saing bangsa lewat inovasi. Perguruan tinggi di Indonesia masih bergulat dengan masalah mutu. Oleh karena itu, peningkatan kualitas perguruan tinggi masih penting, selain perluasan akses pendidikan tinggi bagi generasi muda.


Dari sekitar 4.000 perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia, tahun lalu hanya ada dua perguruan tinggi yang masuk top 500 dunia. Terkait dengan akreditasi institusi, hanya 21 perguruan tinggi terakreditasi A. Jumlah publikasi internasional 4.843 karya, sementara paten yang terdaftar sebanyak 1.427 paten.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir menyampaikan hal itu dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bertema ”Peningkatan Daya Saing Bangsa Melalui Peningkatan Mutu Pendidikan dan Inovasi” di Jakarta, Kamis (26/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Nasir, kemampuan inovasi Indonesia dalam penilaian Indeks Daya Saing Dunia sebetulnya membaik, tetapi masih perlu meningkatkan jumlah paten. Adapun untuk kualitas perguruan tinggi dan pelatihan, masih tertinggal jauh.

Pusat sains
Menurut Nasir, perguruan tinggi akan didorong untuk meningkatkan kerja sama dengan pemerintah dan dunia usaha. Pendirian pusat sains dan teknologi didorong tumbuh menjadi pusat keunggulan di daerah.

”Adanya pusat-pusat sains dan teknologi yang melibatkan perguruan tinggi akan mendorong peningkatan produk lokal sehingga industri di daerah bisa tumbuh dan menyerap tenaga kerja,” tutur Nasir.

Untuk itu, perguruan tinggi didorong meningkatkan publikasi ilmiah. Pemerintah akan menyediakan skema-skema riset bagi perguruan tinggi. Bagi perguruan tinggi milik pemerintah, sekitar 30 persen dana bantuan operasional perguruan tinggi negeri dialokasikan untuk riset. Ada pula skema bagi perguruan tinggi untuk membuat jurnal ilmiah berskala nasional dan internasional.

Sejumlah perguruan tinggi juga didukung untuk menghasilkan inovasi hingga menjadi prototipe yang bisa diproduksi industri. Pengembangan riset difokuskan pada tujuh bidang, yakni pangan, energi, teknologi informasi komunikasi, transportasi, kesehatan dan obat-obatan, material maju, serta kemaritiman.

Forum inovasi
Dalam upaya menyinergikan perguruan tinggi atau lembaga penelitian, pemerintah, dan industri, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi akan menggelar Forum Inovasi Indonesia. Dalam forum itu, peneliti dan industri akan dipertemukan. Ada 42 produk inovasi yang akan diluncurkan untuk bisa dimanfaatkan industri.

Terkait dengan pengembangan pusat sains dan teknologi, Nasir menyatakan, pemerintah serius mewujudkan pusat-pusat keunggulan. Dia mencontohkan Iran, yang baru mengembangkan pusat sains dan teknologi pada 2004. Namun, kini kebijakan itu mampu menyerap tenaga peneliti Iran serta menghasilkan riset dan inovasi. Bahkan, seribu perusahaan di Iran memanfaatkan inovasi dari pusat riset.

Ahli fisika dari Universitas Osaka, Jepang, Hideaki Kasai, mengatakan, perguruan tinggi dapat menghasilkan riset yang dilirik industri. Contohnya, lewat computational materials design di Universitas Osaka, para fisikawan material mengembangkan penelitian yang sesuai kebutuhan sehingga digandeng industri.

Ketua Panitia Rapat Kerja Nasional Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Patdono Suwignjo mengatakan, rapat tersebut diikuti 463 peserta antara lain perwakilan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan Dewan Pendidikan Tinggi. Mereka melakukan evaluasi dan koordinasi serta membangun komitmen terkait kebijakan dan penuntasan program-program prioritas untuk peningkatan mutu pendidikan tinggi. Muara dari kegiatan-kegiatan itu ialah peningkatan daya saing bangsa.

Sejumlah topik yang dibahas dalam rapat kerja nasional tersebut ialah implementasi standar nasional pendidikan tinggi, akreditasi program studi dan institusi, serta inovasi dan hilirisasi hasil penelitian. Topik lain adalah peningkatan peran industri pada pendidikan tinggi dan penataan lembaga pemerintah non-kementerian dalam lingkup Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. (ELN)

Sumber: Kompas, 27 Februari 2015

Posted from WordPress for Android

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 51 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB