Pendidikan Vokasi Semakin Penting

- Editor

Kamis, 25 Januari 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendidikan vokasi akan menjadi pusat perhatian pemerintah dalam menyambut era revolusi industri 4.0 yang didominasi dengan otomatisasi dan digitalisasi. Kemampuan antisipasi ini akan menentukan dalam mengurangi tingkat ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat.

Teknologi informasi harus menjadi bagian dari kurikulum utama dalam pendidikan vokasi untuk tingkat sekolah menengah, politeknik, ataupun di tingkat teknik. Pendidikan vokasi juga harus diperkuat dengan sertifikasi. Pendidikan vokasi yang diperkuat dengan sertifikasi dan diakui oleh pemberi kerja akan mencegah kemungkinan terjadinya pengangguran akibat berkembangnya ekonomi digital.

”Pemerintah akan melakukan perbaikan besar-besaran dalam pendidikan vokasi, tidak hanya kurikulum atau fasilitasnya, tetapi bahkan sampai pada bagaimana mengubah mindset pendidikan vokasi agar tidak terpaku hanya pada ilmu-ilmu dasar. Kita harus adaptif terhadap perkembangan teknologi,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro seusai memberikan pidato kunci pada seminar internasional ”Inequality and the Role of Technology in Shaping the Future of Work” di Hotel Tentrem, Yogyakarta, Selasa (23/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

DEONISIA ARLINTA UNTUK KOMPAS–Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro.

Seminar diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Bank Indonesia. Seminar internasional yang dihadiri 250 undangan dari negara- negara anggota G-20 dibuka Deputi Keuangan G-20 Rionald Silaban.

Ketimpangan
Bambang mengutip studi Mckinsey tahun 2016 yang menyebutkan bahwa akan ada 52,6 juta pekerjaan yang berpotensi digantikan oleh mesin dan hanya 3,7 juta pekerjaan baru akan tercipta atas majunya teknologi dalam tujuh tahun ke depan.

Diakui oleh Bambang, makin berkembang teknologi akan bisa membantu mengurangi ketimpangan atau malah memperlebar ketimpangan. ”Salah satu contoh pengurangan ketimpangan, petani yang biasa menggunakan
gadget (gawai) bisa mendapatkan informasi mengenai benih yang cocok, ramalan cuaca, sampai harga komoditas di pasar sehingga memiliki daya tawar lebih tinggi,” ujarnya.

Dalam pidato pembukaan, Rionald mengatakan bahwa penggunaan teknologi memiliki peran penting sebagai alat untuk mengatasi ketimpangan dalam perekonomian. Teknologi dapat memperbaiki konektivitas antardaerah, pulau, ataupun negara dan juga memfasilitasi pertukaran informasi.

”Implementasi penggunaan teknologi untuk pembangunan yang merata dan inklusif perlu didukung oleh infrastruktur yang memadai, sumber daya manusia yang andal, legislasi yang mendukung, dan pembiayaan yang cukup,” ujar Rionald.

Meskipun kebijakan mengatasi tantangan ketidaksetaraan memerlukan kebijakan domestik suatu negara sebagai pembuat kebijakan utama, lanjutnya, sebuah platform global untuk mengakomodasi pemikiran inovatif dan berbagi pengalaman mengenai perumusan kebijakan yang pernah dilakukan sangat diperlukan. (sig)

Sumber: Kompas, 24 Januari 2018

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB