Pendidikan Vokasi; Diploma dan Politeknik Belum Diminati

- Editor

Jumat, 2 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendidikan vokasi jenjang diploma 1 hingga 4 di perguruan tinggi belum diminati banyak anak muda. Hal itu terlihat dari jumlah mahasiswa program diploma atau politeknik yang sedikit jumlahnya, yakni sekitar 250.000 mahasiswa dari total 6,8 juta mahasiswa yang ada di perguruan tinggi.

Direktur Pembelajaran, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Paristiyanti Nurwardani di Jakarta, Rabu (30/9), mengatakan, perlu upaya untuk meningkatkan minat lulusan sekolah menengah atas atau sekolah menengah kejuruan jenjang diploma atau politeknik. Daya saing pendidikan vokasi memang perlu ditingkatkan agar diminati dan juga sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan industri.

Salah satunya dengan mengharmonisasikan kurikulum diploma dan sekolah menengah kejuruan. Menurut Paristiyanti, nanti ada pengakuan hasil belajar dari sekolah menengah kejuruan yang diakui di jenjang diploma.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kurun dua tahun ke depan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menyiapkan 34 politeknik model sebagai proyek percontohan untuk mencari pola pendidikan yang baik. Program tersebut dalam rangka meningkatkan mutu lulusan pendidikan tinggi vokasi agar tidak lagi menyumbang jumlah penganggur.

Penguatan juga dilakukan di Akademi Komunitas. Sebanyak 90 Akademi Komunitas akan dijadikan proyek percontohan.

Bidang teknik
Pendidikan tinggi vokasi didominasi bidang teknik 40 persen, kesehatan 29 persen, dan nonteknik 25 persen. Adapun bidang pertanian hanya sekitar 6 persen. Ke depan, pendidikan diploma 1 hingga 4 bidang pertanian akan ditingkatkan.

Direktur Sekolah Menengah Kejuruan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mustaghfirin Amin mengatakan, saat ini angkatan kerja dari lulusan sekolah menengah kejuruan baru berkisar 10 persen. Targetnya, pada tahun 2025, bisa meningkat hingga 25 persen.

Menurut Mustaghfirin, di jenjang pendidikan menengah, sekolah menengah kejuruan berkembang pesat di daerah-daerah. Sebanyak 70 persen sekolah menengah kejuruan didirikan masyarakat alias swasta.

Pendidikan sekolah menengah kejuruan akan dikembangkan dengan lama pendidikan tiga tahun dan empat tahun. Pada tahun 2016, ada 30-40 bidang keahlian di sekolah menengah kejuruan yang diselesaikan dengan pendidikan empat tahun.(ELN)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Oktober 2015, di halaman 11 dengan judul “Diploma dan Politeknik Belum Diminati”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB