Home / Berita / Vokasi di Universitas dan Politeknik Sama Pentingnya

Vokasi di Universitas dan Politeknik Sama Pentingnya

Penguatan pendidikan vokasi di Indonesia, baik di jenjang menengah maupun tinggi, terus digaungkan. Ada harapan, penguatan pendidikan vokasi yang sebenarnya sudah lama didambakan dan dibutuhkan bangsa ini tidak lagi sekadar wacana.

Di jenjang perguruan tinggi, lewat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, ditegaskan bahwa pendidikan tinggi vokasi bukan hanya level sarjana terapan, melainkan juga magister terapan dan doktor terapan. Dampaknya, guru besar alias profesor juga bisa dihasilkan dari perguruan tinggi vokasi.

Namun, dalam merevitalisasi pendidikan tinggi vokasi, pemerintah dinilai hanya berpihak kepada politeknik. Padahal, pendidikan tinggi vokasi justru lebih dulu dikembangkan di perguruan tinggi akademik, seperti di universitas, institut, sekolah tinggi, dan akademi (unista).

Indikasi “diabaikan” dari perhatian Kemristek dan Dikti, dalam merevitalisasi vokasi di PT, sempat dipersoalkan Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI). Forum ini mewadahi pendidikan vokasi di unista. Ada harapan bukan politeknik saja yang “dianakemaskan” dalam penguatan PT vokasi, melainkan juga vokasi yang sudah berjalan di unista.

“Indonesia makin perlu menguatkan pendidikan vokasi bidang manufaktur dan jasa sesuai kebutuhan industri. PT vokasi yang sudah berjalan di unista juga punya kontribusi yang signifikan dan harus sama-sama didorong menjalankan pendidikan vokasi sesuai dengan tuntutan perkembangan masa kini dan masa depan,” kata Ketua FPTVI Sigit Pranowo Hadiwardoyo di sela-sela seminar dan rapat kerja FPTVI di Bali, Februari lalu.

Melalui FPTVI, pendidikan tinggi vokasi dari PT berstatus badan hukum, berstatus satuan kerja, dan PT swasta berhimpun. Dengan saling “berguru”, ada komitmen supaya kemajuan pendidikan tinggi vokasi di unista tidak lagi senjang.

Tantangan pendidikan vokasi harus bisa membalikkan anggapan yang sudah telanjur kuat jika vokasi sebagai pendidikan “kelas dua”. Hal itu terlihat dari jumlah mahasiswa S-1 yang mencapai 84,8 persen dari total mahasiswa, sedangkan yang D-IV (S-1 Terapan) hanya 2 persen, yang D-III sekitar 13 persen. Jika pemerintah juga membedakan vokasi di unista dan politeknik, perjuangan untuk membuat vokasi sama pentingnya dengan akademik justru sulit terwujud.

Pendidikan tinggi vokasi di unista umumnya masih di bawah masing-masing fakultas sehingga pengembangannya tidak optimal. Sementara di PTN badan hukum, pendidikan vokasi dikelola secara terpisah, setara fakultas. Sebagai contoh, di Universitas Indonesia (UI) dinamakan Program Pendidikan Vokasi. Di Universitas Gadjah Mada diberi nama Sekolah Vokasi. Universitas Airlangga memilih nama Fakultas Vokasi.

Pendidikan tinggi vokasi di unista juga jauh lebih banyak daripada politeknik. Yang di akademi saja ada 1.105 institusi, belum lagi di unista lainnya. Jumlah politeknik 251 institusi.

Menurut Sigit, yang juga Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, pendidikan vokasi di Indonesia harus didorong menjadi pendidikan vokasi sesungguhnya. Industri dan PT harus bisa terus bersinergi dengan dukungan pemerintah. Dengan demikian, jelas perbedaan antara pendidikan akademik dan vokasi.

“Kita bisa puas dengan pendidikan vokasi di level menengah saja dari SMK. Kebutuhan tenaga terampil di level manajemen untuk industri manufaktur dan jasa harus kita siapkan. Di sinilah peran PT vokasi unista dan politeknik menyiapkannya. Jadi, kedua jalur PT vokasi ini harus sama-sama dianggap penting untuk dikembangkan,” kata Sigit.

Selaraskan kurikulum
Lewat FPTVI, 78 pendidikan tinggi vokasi unista berupaya meningkatkan mutu, yang dimulai dengan menyelaraskan kurikulum dengan kerangka kualifikasi nasional Indonesia. Hal ini menuntut kesiapan PT untuk bekerja sama dengan industri agar bisa menyelaraskan kurikulum. Kemudian penguatan riset dan publikasi terapan, penyiapan akreditasi dan sertifikasi, hingga penyiapan seleksi masuk mahasiswa baru yang tepat dengan pendidikan vokasi.

Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi Sumarna F Abdurahman mengatakan, revitalisasi pendidikan vokasi harus dilakukan secara menyeluruh agar dapat membuahkan hasil yang baik bagi Indonesia yang mengalami bonus demografi. Sebab, kebutuhan akan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi meningkat, tetapi ketersediaan di level yang dibutuhkan masih minim. Kondisi ini berisiko mengundang masuknya tenaga kerja asing.

Ia melihat pendidikan tinggi vokasi di unista dan politeknik sudah ada semangat guna menyiapkan standar kompetensi agar lulusannya kelak berhak mendapat sertifikat kompetensi. (ELN)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Maret 2017, di halaman 12 dengan judul “Vokasi di Universitas dan Politeknik Sama Pentingnya”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: