Home / Berita / Pemerintah Rencanakan Larangan Bawa Gawai

Pemerintah Rencanakan Larangan Bawa Gawai

Pelarangan Dinilai Bukan Solusi yang Tepat
Terjadinya sejumlah kasus anak yang terpapar materi pornografi atau gagasan-gagasan negatif lewat gawai membuat pemerintah mempertimbangkan untuk melarang siswa membawa gawai ke sekolah. Namun, larangan semacam ini dinilai bukan solusi yang tepat.

“Kajian tengah dilakukan bersama oleh kementerian dan lembaga yang terkait,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise dalam acara Kampanye Gerakan Perlindungan Perempuan dan Anak, Minggu (14/2), di Jakarta. Turut hadir, antara lain, Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sujatmiko serta Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Dedi Kuswenda.

Menurut Yohana, penelitian mendapati lama penggunaan gawai yang ideal bagi anak adalah dua hingga tiga jam setiap hari. Penggunaan itu pun hendaknya dilakukan di bawah pengawasan orangtua atau guru.

Tidak efektif
Dihubungi terpisah, psikolog pendidikan dari Universitas Katolik Atma Jaya, Darma Juwono, menjelaskan, pelarangan bukan solusi yang efektif. Lebih baik dilakukan pengendalian penggunaan gawai di rumah dan di sekolah. “Pada kenyataannya, siswa memang membutuhkan gawai untuk membantu mereka mengerjakan tugas sekolah. Gawai merupakan media mencari informasi di luar buku teks,” ucap Darma.

Josephine Theophialia (16), siswa kelas XI-IPS SMAN 21 Jakarta Timur, mengatakan, penggunaan gawai membantu proses belajar-mengajar di sekolahnya. Ia menceritakan, saat pelajaran Sosiologi, guru meminta siswa untuk menganalisis konflik kemanusiaan dari berita di internet yang diakses lewat gawai.

Selain itu, menurut dia, pelarangan membawa gawai ke sekolah akan menyulitkan siswa untuk menghubungi keluarga guna memberikan kabar soal jadwal dan agenda di sekolah ataupun di luar sekolah.

“Tidak perlu dilarang, aturan penggunaan gadget cukup dibuat oleh sekolah, seperti kapan boleh tidaknya digunakan. Saat tidak boleh digunakan, kumpulkan saja di guru, lalu kembalikan saat pulang sekolah,” kata Josephine saat dihubungi Kompas, Minggu (14/2).

Dihubungi di waktu berbeda, Yeza (17), siswa kelas XII IPS di SMA Labschool Kebayoran, mengatakan, larangan membawa gawai ke sekolah akan menyulitkannya dalam pembelajaran di kelas. Menurut dia, guru dan siswa di sekolahnya menggunakan gawai untuk berbagi informasi dan mengerjakan tugas.

Ranny Kartabrata, Kepala Sekolah Menengah Cikal, Jakarta, mengungkapkan, keberadaan gawai penting karena membantu siswa berkomunikasi dengan orangtua dan guru. Gawai bisa membantu untuk memastikan bahwa siswa berada dalam keadaan aman.

Akan tetapi, khusus ketika jam belajar, gawai dikumpulkan oleh guru dan baru bisa diambil seusai sekolah. Di dalam kelas, mereka difasilitasi dengan komputer pangku yang tersedia di setiap ruang kelas.

Kepala SMAN 3 Jakarta Selatan Ratna Budiarti menjelaskan, komputer hanya tersedia di laboratorium, sementara di kelas hanya tersedia jaringan Wi-Fi. Ia mengakui, beberapa siswa menggunakan gawai untuk bermain atau berselancar di dunia maya ketika tidak diminta oleh guru.

“Hal ini memang mengganggu pelajaran. Jadi, pekan depan, kami akan menerapkan peraturan semua gawai dikumpulkan sebelum pelajaran dimulai dan baru boleh dipakai ketika guru menyuruh mereka mencari materi di internet,” ujarnya.(C05/C06/DNE)
———
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Februari 2016, di halaman 12 dengan judul “Pemerintah Rencanakan Larangan Bawa Gawai”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: