Home / Berita / Menjadi Peneliti Itu Seru dan Menyenangkan

Menjadi Peneliti Itu Seru dan Menyenangkan

Seru juga saat kami mengikuti kompetisi unik, yang pesertanya hanya siswa perempuan. Kompetisi yang kami ikuti diselenggarakan perusahaan kosmetik L’Oréal. Perusahaan itu menggelar lomba penelitian bagi siswa SMA di seluruh Indonesia. Tema penelitian tahun ini terkait air, yakni Oceanography.

Dari ratusan sekolah yang diundang dan mengajukan ide penelitian, terpilih 15 sekolah dari Sabang hingga Merauke untuk proses final di Jakarta. Setiap tim sekolah terdiri dari tiga orang. Alhasil, ketika kami semua diundang berkumpul di Taman Impian Jaya Ancol, suasana seru pun tercipta.

Selama dua hari, pada 15-16 Mei, kami berkumpul dan mengikuti L’Oréal Girls Science Camp (LGSC) 2014. Lomba serupa dilaksanakan setiap tahun dan telah berlangsung selama 10 tahun terakhir,

Kami juga mengikuti berbagai kegiatan, seperti kunjungan ke Pusat Oseanografi LIPI, bermain peran sebagai bajak laut dalam acara Pirate Party, dan wajib mempresentasikan karya tulis kami di hadapan juri.

Setelah melalui proses pembuatan karya tulis dalam rangka lomba, akhirnya terpilih 15 sekolah dari seluruh Indonesia yang akan mengikuti final di Jakarta, yang bertempat di Ancol. Kami bersyukur karena kami menjadi salah satu sekolah yang terpilih untuk mengikuti acara bergengsi ini.

Seluruh acara itu sangat bermanfaat bagi kami. Selain menambah banyak teman dari seluruh Indonesia, kami juga mempelajari beragam hasil laut dan permasalahan laut di Indonesia dengan cara yang menyenangkan.

Masalah air
Pada putaran final, kami wajib menemukan ide atau gagasan mengenai masalah kekurangan air bersih, terutama bagi warga pesisir di Indonesia. Untuk tantangan ini, kami menciptakan prototipe alat destilasi dan filtrasi air dengan menggunakan buah bintaro sebagai alternatif pengganti karbon aktif.

L?Oréal Girls Science Camp 2014Arsip LGSCAlat ini menggunakan prinsip pengelolaan air hujan melalui beberapa tahapan, yaitu evaporasi (penguapan) dan kondensasi (pengembunan). Setelah air laut didestilasi, kami pun mendapat air tawar. Namun, agar dapat diminum, air tawar tersebut harus difiltrasi dan melalui beberapa proses selanjutnya. Tujuan proses filtrasi mengembalikan tingkat keasaman (PH) air ke PH normal, yaitu 5-7.

Alasan kami mengkaji buah bintaro sebagai alternatif pengganti karbon aktif karena di wilayah tempat tinggal kami, banyak dijumpai tanaman bernama Latin Cerbera manghas ini. Buahnya berserakan di mana-mana dan terbuang sia-sia.

Melalui penelitian dengan bantuan beberapa guru pembimbing, ternyata buah bintaro mengandung selulosa sebagai bahan dasar karbon aktif. Setelah proses pembakaran pada buah yang sudah kering akan menghasilkan arang yang bagus dan dapat digunakan sebagai salah satu komponen dalam filtrasi air. Tanaman bintaro dapat tumbuh di daerah pesisir pantai.

Kami menuangkan penelitian ini berupa makalah berjudul ”Teknik Destilasi Air sebagai Solusi Alternatif Pengubah Air Laut Menjadi Air Bersih: Edukasi bagi Masyarakat Pesisir akan Krisis Air Bersih”.

Kami gembira penelitian ini membawa kami menjadi juara pertama dan memenangi hadiah terbang ke laboratorium L’Oréal R&I di Shanghai, Tiongkok.

 

Buat kosmetik sendiri
Minggu (15/6) dini hari, kami pun terbang ke Shanghai dan transit di Hongkong. Selanjutnya, kami singgah di Yu Yuan Garden dan mempelajari kebudayaan Tiongkok serta ke Shanghai TV Tower untuk melihat kota Shanghai dari atas menara.

Hari yang ditunggu pun tiba, berkunjung ke Laboratorium L’Oréal. Seusai berkeliling laboratorium, kami mendapat kesempatan khusus membuat produk kecantikan sendiri dengan bantuan beberapa peneliti muda sebagai mentor kami.

Kami bertiga mendapat jenis kosmetik berbeda, yakni lipstik, krim BB untuk pria, dan krim BB untuk perempuan. Pengalaman tersebut sangat berarti bagi kami karena baru pertama kali tahu cara membuat kosmetik. Para ahli di laboratorium L’Oréal membuat kami paham material kosmetik menggunakan mineral serta bahan alami yang aman terhadap manusia.

Kami pun akhirnya tahu, kehidupan sebagai peneliti tidak serumit bayangan kami semula. Namun, tetap harus bereksperimen untuk mendapat hasil terbaik dan berguna bagi kehidupan.

Sebelum kembali ke Jakarta, kami berwisata ke Museum Ilmu Pengetahuan di Pudong dan wilayah Shanghai yang terkenal, Nan Jing Road plus pasar bawah tanah yang termasuk destinasi malam favorit di Shanghai.

Kami berharap kompetisi-kompetisi seperti ini dapat terus ada setiap tahun. Dengan demikian, dapat menginspirasi remaja putri seperti kami untuk lebih mengenal dan mencintai sains.

Tim Penulis SMA Pembangunan Jaya: Deananda Ayusaputri, Fiona Ayu Larasati, dan Yuke Vahira Agatha

———–
KATA MEREKA…

Hana Laisanna (siswa SMA Kristen Kalam Kudus Ambon)
Saya belajar banyak hal seperti metode penelitian mikrobiologi, cara mengetes kandungan logam-logam berat, serta organisme yang terkandung dalam air laut. Dunia sains bukan dunia yang membosankan, sains itu menyenangkan dan mengasyikkan. Teman bertambah, pengetahuan pun meningkat.

Berlina Sampeliling (siswa SMA Kristen Kalam Kudus Ambon)
Berangkat ke Jakarta, saya tak percaya diri. Namun, senang sekali akhirnya dapat bergabung dan berteman dengan banyak sahabat baru yang cantik-cantik dan keren. Kegiatan ini seru banget, apalagi permainan Treasures Hunt. Saya tak menyangka tim kami juara ketiga. Duh, jantung berdebar kencang sekali serasa bertemu harimau dan singa galak.

Anniesa Oktaviandari Putri (siswa SMA Negeri 10 Malang)
Saya sering berlomba menyanyi dan modeling. Kompetisi ilmiah, ya, baru kali ini. Ternyata sangat berkesan, meriah, dan jauh dari membosankan. Kompetisi ini memberi saya ilmu lebih mendalam soal kelautan Indonesia.

Ikramah Maghfirah (siswa SMAN 10 Malang)
Banyak pengalaman penting dan pelajaran hidup saya dapat. Berkumpul dengan 45 siswa dari 15 sekolah sungguh mengesankan. Serasa keluarga besar yang saling peduli. Meski kalah, saya senang menjadi finalis dan berteman dengan siswa-siswa Indonesia yang cerdas.

Made Sudana (guru SMAN 1 Singaraja)
Kompetisi ini mengajak siswa berpikir ilmiah sesuai nalar dan fakta serta prosedur ilmiah. Selain presentasi ke juri siswa juga harus menerapkan konsep tersebut. Saya berharap lomba serupa ada juga di luar Jakarta agar lebih banyak sekolah berpartisipasi.

Sumber: Kompas, 12 September 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: