Home / Berita / Jatuh Cinta pada Pendengaran Pertama

Jatuh Cinta pada Pendengaran Pertama

Tahun 2010 di Auditorium Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, ketika kami masih mahasiswa baru, kami mendengar kegiatan bernama L’Oreal Brandstorm. Rekan kami pernah mengikuti ajang tersebut dan menjadi juara nasional. Dia kemudian dikirim ke Perancis.

Pada waktu itu pun kami sudah berpikir untuk berpartisipasi dan bisa menjuarai kompetisi tersebut. Momen itu juga menjadi awal dari persahabatan kami, Amadea Novia Ferty, Aditya Kristanto, dan Agita Nalsalia.

Sejak tahun pertama berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), kami bersiap agar dapat ikut serta dalam kompetisi tersebut pada tahun terakhir kuliah. Dosen Manajemen Distribusi, Adi Zakaria, memberi nama tim kami Triple A karena huruf awal nama kami sama-sama A.

Untuk ajang tersebut, kami harus mempunyai kemampuan berdebat, kemampuan pemasaran bak pakar marketing, dan kemampuan analisis laksana konsultan. Kami pun rajin mengikuti aneka kompetisi Marketing Debate, Marketing Plan, Business Case, Business Plan, dan lainnya demi mencapai tujuan menjuarai L’Oreal Brandstorm 2014 dan mewakili Indonesia di Perancis.

Desember 2013, kami berada pada tahun terakhir kuliah. Selain menyiapkan tugas akhir, kami juga dapat mengikuti lomba impian kami. Ketika itu, merek produk yang diangkat untuk lomba adalah Kiehl’s. Ini sesuatu yang relatif baru bagi kami.

44ac6461846841108dd5f83df852de3aKasus untuk kompetisi kali ini adalah produk kosmetik untuk pria. Tugas semua peserta adalah menjadi direktur pemasaran Kiehl’s dan menciptakan produk untuk konsumen pria. Peserta juga harus menciptakan strategi pemasaran secara in-store dan digital.

Selain kemampuan memasarkan, menjadi konsultan, dan wirausaha, perlu pula komitmen, determinasi, dan kemampuan peserta untuk memperbaiki produk agar lebih berkualitas. Lomba ini berlangsung dari Januari hingga Juni 2014.

Janggut dan kumis
Kami membuat proposal, membaca data pangsa pasar, menganalisis industri terkait, mencari peluang pasar, serta mewawancarai para pria untuk konsumen kami.

Delapan tim maju ke semifinal pada Februari. Kami pun lolos ke babak final bersama tim Ganariddhi dari Seksi Mahasiswa (SM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Three on Fame juga dari ITB, dan Enorme dari Prasetiya Mulya Business School Jakarta.

Kami semua kemudian mengikuti pelatihan dari L’Oreal dan agensi periklanan Mc Cann. Di sini kami belajar banyak, selain juga mengerjakan banyak tugas, termasuk mengubah konsep pemasaran.

Oleh karena ide kami terkait janggut dan kumis pria, kami pun rajin mencari pria berjenggot dan berkumis di sejumlah pusat perbelanjaan untuk riset pasar. Banyak pengalaman seru dan lucu kami alami sebagai pemburu pria berewok. Selain itu, kami juga harus menyiapkan yel-yel tim.

Presentasi proyek berlangsung pada 10 April. Kami mendapat giliran kedua setelah Three on Fame ITB. Meskipun presentasi berlangsung kurang mulus, kami berusaha menjawab pertanyaan juri sebaik mungkin.

Juri kemudian mengumumkan Ganariddhi SM ITB meraih penghargaan sebagai Best Supporter serta juara ketiga, Three on Fame ITB memenangi People Choice Award, dan Enorme Prasetiya Mulya sebagai juara keempat.

Kami gembira ketika Presiden Direktur PT L’Oreal Indonesia Vismay Sharma dan Head of HR PT L’Oreal Indonesia Restu Widiati menyebutkan Triple A FEUI sebagai juara. Pengumuman itu berlangsung di Usmar Ismail Hall, Kuningan, Jakarta.

Mimpi yang terwujud
Mimpi kami ke Perancis pun tercapai. Juni lalu, kami pun terbang ke Paris untuk berkompetisi pada tingkat final internasional dengan peserta 43 tim dari seluruh dunia. Moto kami dari Indonesia adalah plays to win, not to loose.

Sejak dulu, impian kami adalah membawa nama Indonesia di dunia internasional sebagai negara berpotensi bagus dan memiliki begitu banyak hal baik. Kami sedih jika Indonesia hanya dikenal sebagai sumber tenaga kerja Indonesia (TKI), mudah tersulut perang agama, penghasil teroris, dan berbagai isu buruk lainnya.

Final berlangsung dua hari. Dari 43 tim peserta, antara lain dari Amerika Serikat, Brasil, Belanda, Filipina, India, Italia, Jepang, Kanada, Lebanon, Malaysia, Pakistan, Perancis, Rusia, Spanyol, Swedia, Taiwan, Thailand, Tiongkok, dan Uni Emirat Arab, hanya terpilih tiga tim yang lolos ke babak final.

Untunglah, mulai dari presentasi, pemutaran video kampanye, hingga tanya jawab bisa kami lewati dan relatif berjalan lancar. Walaupun dalam waktu yang singkat, hanya 15 menit. Tim yang kemudian lolos ke tiga besar adalah Jepang, Malaysia, dan Pakistan.

Namun, kami gembira karena mendapat penghargaan The Best Digital Prize bersama tim Spanyol. The Best Digital Prize adalah kategori untuk tim dengan strategi komunikasi marketing dan digital terbaik.

Walaupun bukan sebagai juara pertama, kami tak kecewa karena seperti kata Vismay Sharma, digital adalah marketing untuk masa depan.

Oleh: Aditya Kristanto/Agita Nalsalia/Amadea Novia FertyMahasiswa Jurusan Marketing Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Sumber: Kompas, 7 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: