Home / Berita / Mengukur Efektivitas Minyak Kayu Putih

Mengukur Efektivitas Minyak Kayu Putih

Minyak kayu putih diduga berkhasiat mempercepat penyembuhan penderita Covid-19. Namun, sejauh ini belum ada penelitian terkait efektvitasnya terhadap SARS-C0V-2. Karena itu, perlu penelitian untuk memastikan.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA—Buruh tani memetik daun kayu putih yang dikembangkan di lahan milik Perum Perhutani di Desa Cungkup, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Senin (17/9/2018). Kapasitas produksi minyak kayu putih yang dikembangkan Perhutani mencapai 400 ton per tahun.

Beberapa bulan ini minyak kayu putih banyak dibicarakan karena diduga berkhasiat mempercepat penyembuhan penderita Covid-19.

Hal itu tak terlepas dari pengalaman Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar, Idrus Paturusi, yang sembuh dari infeksi Covid-19 antara lain dengan baluran minyak kayu putih. Ia pun membentuk tim untuk meneliti efektivitas minyak kayu putih membantu penyembuhan pasien Covid-19.

Sementara itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian juga mengumumkan potensi minyak kayu putih untuk menghambat virus korona. Hal itu berdasarkan uji laboratorium pada virus alpha corona, beta corona dan gamma corona. Namun diakui virus tersebut bukan jenis SARS-CoV-2, penyebab Covid-19.

KOMPAS/—-Bentuk produk olahan minyak eukaliptus yang dikembangkan Balitbangtan Kementerian Pertanian.

Hal itu menimbulkan pertanyaan di masyarakat, apakah minyak kayu putih atau eukaliptus mampu menghambat SARS-CoV-2 atau hanya untuk virus korona lain.

Virus korona telah dikenal setidaknya tahun 1965, saat DA Tyrrell dan ML Bynoe dari Rumah Sakit Harvard, Inggris, mengisolasi virus dari saluran pernapasan orang dewasa dengan flu biasa. Sejak saat itu ditemukan berbagai strain virus korona baik pada manusia maupun binatang.

Pada binatang, virus korona menyebabkan penyakit antara lain hepatitis pada tikus, radang lambung pada babi. Sedangkan pada manusia, korona menyebabkan batuk pilek, bronkhitis, hingga pneumonia.

Tahun 2002-2003 timbul SARS akibat virus korona. Disusul tahun 2012 dengan MERS. Akhir tahun lalu, muncul virus korona baru (SARS-CoV-2) penyebab Covid-19.

Antimikroba
Ada lebih dari 400 spesies eukaliptus. Hasil penyulingan daun Eucalyptus globulus merupakan sumber utama minyak eukaliptus yang digunakan di dunia.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO—Daun eukaliptus atau lebih dikenal sebagai kayu putih di laboratorium nanoteknologi Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, Bogor, sebagai tempat penelitian untuk mengembangkan minyak eukaliptus menjadi sediaan berbasis nanoteknologi, Senin (6/7/2020). Sejumlah balai penelitian di lingkup Kementerian Pertanian melakukan penelitian terhadap eukaliptus sebagai pencegah virus dalam katagori obat herbal.

Eukaliptus sebagai salah satu aromaterapi telah digunakan selama ribuan tahun di Mesir, China, dan India untuk mengobati berbagai penyakit. Aktivitas antimikroba dan antivirus dari minyak atsiri kemudian dikonfirmasi oleh berbagai penelitian.

Aktivitas anti virus influenza dari sejumlah uap minyak atsiri seperti Citrus bergamia (bergamot), Eucalyptus globulus (eukaliptus), Pelargonium graveolens (geranium), Cinnamomum zeylanicum (kayu manis), dan Cymbopogon flexuosus (serai) telah dilaporkan. Mekanisme penghambatan itu didasarkan pada inaktivasi protein eksternal utama dari virus influenza.

Dalam laman Medicalnewstoday disebutkan, eukaliptus sejak lama digunakan untuk mengurangi gejala batuk, pilek, hidung mampet, mengurangi nyeri otot dan sendi serta sebagai antiseptik.

Hingga akhir abad 19, minyak eukaliptus digunakan banyak rumah sakit di Inggris untuk membersihkan kateter urine. Februari 2016, para peneliti dari Serbia melaporkan bukti kemampuan antimikroba eukaliptus. Yakni, dari interaksi positif antara minyak eukaliptus dengan antibiotik sehingga diharapkan bisa mengurangi penggunaan antibiotik.

Sebuah penelitian yang dimuat di Clinical Microbiology & Infection menyatakan, minyak ekapliptus mampu menghambat bakteri patogen di saluran pernapasan atas termasuk Haemophilus influenzae, dan sejumlah strain Streptococcus.

Minyak eukaliptus juga bisa menstimulasi respons sistem imunitas, demikian hasil penelitian di BMC Immunology. Menurut peneliti, minyak eukaliptus meningkatkan respons fagositas (proses sistem imunitas merusak dan memakan partikel asing) terhadap patogen pada tikus percobaan.

Arun Dev Sharma dan Inderjeet Kaur dari Departemen Bioteknologi, Lyallpur Khalsa College, Punjab, India, dalam artikel yang dimuat di situs Preprints (www.preprints.org), 31 Maret 2020, melaporkan hasil penelitian potensi eucalyptol (1,8 cineole) menghambat infeksi SARS-CoV-2 lewat penelitian docking molekuler.

Eucalyptol adalah senyawa aktif dari minyak atsiri eukaliptus. Adapun docking adalah teknik pemodelan molekuler untuk memprediksi bagaimana suatu protein (enzim) berinteraksi dengan molekul kecil (ligan).

Dalam laporan yang belum dikaji oleh sejawat itu, peneliti mendapatkan, ada pengikatan eucalyptol terhadap proteinase SARS-CoV-2 berdasarkan perhitungan sejumlah parameter dan kesamaan situs pengikatan. Senyawa tersebut diduga bisa menghambat aktivitas Mpro, proteinase utama pada virus yang berperan dalam proses reproduksi SARS-CoV-2. Dengan demikian diharapkan pertumbuhan virus korona juga terhambat.

Sementara itu, Lee-Yan Sheen dan kolega dari Universitas Nasional Taiwan mengulas pemanfaatan sejumlah makanan dan obat herbal untuk pencegahan Covid-19. Ulasan dimuat dalam Journal of Traditional and Complementary Medicine, 30 Mei 2020.

—Yusuf Elton Porwayla (37) , warga Hukurila, Ambon, Maluku, yang membuat minyak atsiri dari kayu putih, cengkeh, dan pala memperlihatkan contoh dari minyak buatannya, Selasa (19/3/2013).

Salah satu obat herbal adalah minyak esensial eukaliptus yang dilaporkan berpotensi meningkatkan respons imunitas bawaan. Eukaliptus dalam bentuk aerosol dan uap disebut mampu menghambat virus flu burung (H11N9).

Di Indonesia, Guru Besar Ilmu Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB University) Hanny Wijaya, sejak 24 tahun lalu, meneliti kandungan atsiri minyak kayu putih asli Indonesia (Melaleuca cajuputi). Minyak atsiri yang mengandung cajuputol/eucalyptol (1,8 cineole) itu kemudian diproduksi dalam bentuk permen yang diklaim mampu mengurangi karies gigi, bau mulut, serta “menghangatkan” tubuh.

“Namun harap diingat ini merupakan pangan. Jadi berfungsi sebagai pencegahan, bukan obat,” kata Hanny dalam sebuah seminar daring, 30 Juni lalu.

Demikianlah, meski eucalyptol disebut berpotensi sebagai penghambat virus flu burung (H11N9) serta virus penyebab Covid-19, namun belum ada penelitian khusus in vivo untuk SARS-CoV-2. Karena itu, perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan.

Sebelum obat dan vaksin untuk SARS-CoV-2 ditemukan, protokol kesehatan seperti menjaga jarak, mengenakan masker di tempat umum, mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah harus secara disiplin diterapkan.

Oleh ATIKA WALUJANI MOEDJIONO

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 29 Juli 2020

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: