Home / Berita / Mencari Bibit Unggul Kayu Putih

Mencari Bibit Unggul Kayu Putih

Tanaman kayu putih memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Akan tetapi, potensi tanaman tersebut belum termanfaatkan dengan baik. Karena itu, tim peneliti berusaha memuliakan tanaman itu untuk mencari bibit unggul.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO—Tanaman Eucalyptus atau lebih dikenal dengan kayu putih di laboratorium nanoteknologi Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, Bogor, sebagai tempat penelitian untuk mengembangkan minyak Eucalyptus menjadi sediaan berbasis nanoteknologi, Senin (6/7/2020).

Tanaman kayu putih dikenal masyarakat sebagai bahan baku industri minyak atsiri yang memiliki banyak manfaat pengobatan. Selama 25 tahun, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta melaksanakan program pemuliaan kayu putih. Melalui pengelolaan lebih lanjut, kayu putih berpotensi jadi produk swasembada Indonesia.

Tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi) merupakan tanaman asli Indonesia yang sangat penting dalam industri minyak kayu putih. Terdapat tiga subspesies kayu putih yang terdapat di Indonesia, yakni subspesies cajuputi Powell, subspesies cumingiana Barlow, dan subspesies platyphylla Barlow.

Tiga jenis kayu putih itu tersebar alami di wilayah bagian barat dan timur Indonesia. Subspesies cajuputi tumbuh di Kepulauan Maluku dan Timor, sedangkan subspesies cumingiana tumbuh di Sumatera, Jawa Barat, dan Kalimantan bagian selatan. Sementara subspesies platyphylla Barlow tumbuh di bagian selatan Papua, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar.

Minyak kayu putih telah menjadi bagian dari budaya di Indonesia. Sebagian masyarakat menyimpan minyak kayu putih dan menggunakannya untuk membantu mengatasi masalah kesehatan ringan seperti masuk angin, menghangatkan badan, dan gigitan serangga.

Ketergantungan sebagian masyarakat Indonesia terhadap minyak kayu putih membuat permintaan produk herbal ini tinggi. Namun, hal itu tidak diikuti dengan upaya meningkatkan produksinya.

Menurut catatan Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH), produksi kayu putih setiap tahun hanya 650 ton, sedangkan permintaan mencapai 3.500 ton. Kondisi ini membuat ketimpangan produksi dan permintaan sangat besar.

Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan produksi minyak kayu putih belum bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri. Faktor tersebut meliputi, antara lain, rendahnya produktivitas tanaman dalam hal biomassa, rendemen minyak, dan kadar senyawa 1,8 cineole yang ada dalam tanaman kayu putih yang memiliki banyak khasiat pengobatan.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI—Daun kayu putih siap disuling.

Untuk mengatasi kekurangan bahan baku itu, industri farmasi mengimpor minyak ekaliptus untuk dicampurkan dengan minyak kayu putih. Tanaman ekaliptus memiliki kandungan senyawa 1,8 cineole sama dengan kayu putih.

Maka dari itu, sejak tahun 1995 atau 25 tahun lalu, BBPBPTH Yogyakarta telah melaksanakan program pemuliaan kayu putih. Penelitian tersebut bertujuan meningkatkan kadar 1,8 cineole dan rendemen minyak kayu putih dengan menyeleksi individu atau famili unggul.

Mengembangkan benih
Peneliti kayu putih BBPBPTH Yogyakarta, Noor Khomsah Kartikawati, saat dihubungi, Sabtu (25/7/2020), menyampaikan, tim peneliti BBPBPTH fokus mengembangkan benih tanaman kayu putih pada subspesies cajuputi. Proses pemuliaan terdiri atas beberapa kegiatan.

Sebagai tahap awal, pemuliaan dilakukan dengan mengoleksi benih atau membangun populasi dasar. Secara keseluruhan, jumlah individu pohon yang dipilih berdasarkan kadar 1,8 cineole, yaitu 256 pohon, yang berasal dari 23 populasi alami.

Selanjutnya, tim peneliti menyeleksi kebun benih uji keturunan dalam dua tahap. Seleksi pertama dilaksanakan pada umur 12 bulan dengan menggunakan kriteria per tumbuhan. Adapun seleksi kedua pada umur 17 bulan dengan kriteria kadar 1,8 cineole dan rendemen minyak.

Kemudian persilangan dilakukan untuk meningkatkan keragaman maupun mutu genetika. Umumnya persilangan dilakukan pada pohon-pohon unggul dan memperhatikan sifat kandungan minyak serta rendemennya. Terakhir, uji perolehan genetik tanaman kayu putih hasil seleksi uji keturunan generasi pertama (F1).

Hasil pemuliaan yang dilakukan selama bertahun-tahun itu didapatkan benih unggul F1 dengan rendeman 1,2 persen dan F2 dengan rendeman 2 persen. ”Selain benih unggul, kami kembangkan juga klon-klon unggul. Ke depan akan diversifikasi produk dari minyak kayu putih itu,” ujar Kartika.

Selain pengembangan benih unggul, BBPBPTH membuat proyek percontohan kebun kayu putih seluas 5 hektar dalam skala kelompok tani di Biak, Papua, yang dimulai pada tahun 2015. Penanaman baru dimulai pada 2016 dengan total 12.000 bibit yang sudah ditanam. Setelah dua tahun, tanaman bisa diproduksi dan penyulingan perdana dilakukan pada tanaman berumur 18 bulan.

Dalam skala perusahaan, BBPBPTH juga bekerja sama dengan PT Sanggragro Karyapersada untuk membangun kebun seluas 4.000 hektar di Desa Katupa, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Sampai kini sudah ada enam juta bibit unggul yang ditanam dan disusul dengan pembangunan pabrik penyulingan berkapasitas 15 ton.

”Panen pertama rata-rata umur dua tahun dan panen lagi setiap sembilan bulan. Sampai tanaman berumur 25 tahun baru dibongkar dan replanting lagi. Jadi menguntungkan karena investasinya hanya di tahun pertama,” tutur Kartika.

Meski menguntungkan, produksi minyak kayu putih di Indonesia saat ini mayoritas masih menggunakan cara tradisional. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi yang tepat untuk menghasilkan minyak kayu putih sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Essential Oil Association (EOA).

Uji antivirus
Tanaman kayu putih dapat menghasilkan minyak dan mengandung senyawa 1,8 cineole atau dikenal juga dengan nama cajuputol atau eukaliptol. Senyawa ini yang membuat minyak kayu putih beraroma kuat dan khas serta menimbulkan rasa hangat.

Dari sejumlah penelitian, eukaliptol bermanfaat sebagai obat anti-inflamasi atau peradangan dan memiliki kemampuan antioksidan pada penyakit saluran pernapasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Eukaliptol juga dapat mencegah infeksi virus influenza yang dapat menyebabkan pneumonia.

Sementara laporan terbaru dari peneliti Departemen Bioteknologi dan Pengetahuan Lyallpur Khalsa College Jalandhar, India, Arun Dev Sharma dan Inderjeet Kaur, menyebutkan, eukaliptol membantu menghambat infeksi virus korona dan memberi perlindungan terhadap paru-paru. Namun, pada bagian akhir jurnal, kedua peneliti menekankan riset itu baru pada tahap awal dan belum dikaji lebih lanjut.

Menurut Kepala B2PBPTH Yogyakarta Nur Sumedi dalam webinar beberapa waktu lalu, eukaliptol pernah diuji pada virus beta dan gama korona lainnya. Akan tetapi, secara umum eukaliptol hanya berfungsi sebagai komponen pernyertaan atau pelengkap untuk anti-Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona tipe baru.

”Mungkin ada beberapa komponen lain yang secara bersama-sama dapat menghambat Covid-19. Namun, ini sangat menjanjikan karena benih unggul hasil pemuliaan yang telah dimanfaatkan swasta dan masyarakat bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam menambahkan, riset mengenai khasiat produk berbahan eukaliptus untuk Covid-19 baru pada tahap in vitro di tingkat sel. Riset tersebut juga masih membutuhkan waktu yang panjang (Kompas, 7/7/2020).

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 3 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: