Budidaya Ubi Kayu Sangat Potensial

- Editor

Minggu, 9 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komoditas ubi kayu perlu menjadi program nasional karena nilai pasarnya sangat besar dan dapat memberdayakan masyarakat petani. Pembudidayaan ubi kayu pun sangat potensial karena dapat memanfaatkan lahan marjinal di sejumlah daerah.

Untuk itu, perlu pembentukan konsorsium ubi kayu yang menghimpun semua pemangku kepentingan. Dengan adanya konsorsium, aspek penanganan ubi kayu (singkong) mulai dari hulu hingga hilir dapat tertangani secara terpadu. Dengan demikian, komoditas ini dapat memberi nilai tambah bagi industri dan menyejahterakan masyarakat.

Hal ini mengemuka dalam lokakarya tentang peran riset dan kebijakan untuk penguatan rantai nilai ubi kayu Indonesia yang diadakan Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong, Banten, Kamis (7/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama ini, ubi kayu diolah dan dimanfaatkan oleh industri makanan, tekstil, kertas, farmasi, hingga bioenergi. Menurut Achmad Subagio dari Universitas Jember, Jawa Timur, nilai pasarnya mencapai Rp 100 triliun, melebihi nilai pasar kedelai yang hanya Rp 25 triliun.

Namun, tingkat kebutuhan yang tinggi ini belum dapat diimbangi pasokan bahan baku dari pertanian lokal meski didukung oleh inovasi teknologi atau hasil penelitian. Inilah penyebab utama impor masih tinggi. Tidak adanya tata niaga yang baik membuat petani enggan melanjutkan peranannya dalam rantai nilai ekonomi ubi kayu.

“Peran dan perhatian pemerintah diperlukan melalui kebijakan yang mengatur tata niaga dan produksi. Semua pihak, terutama petani, akademisi, peneliti, serta praktisi, perlu didorong untuk meningkatkan kualitas produksi dan daya saing produk ubi kayu dalam negeri,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati.

Menurut Achmad, perlu dibentuk konsorsium untuk menangani ubi kayu mulai dari aspek pertanian hingga pascapanen. Pengembangan pertanian ubi kayu dapat dilakukan di lahan marjinal atau lahan tak subur di Indonesia yang mencapai 60 persen. Namun, pertanian ubi kayu dalam skala besar harus diinisiasi pemerintah pusat dengan melibatkan masyarakat melalui sistem pertanian inti plasma.

Salah satu sentra produksi ubi kayu terbesar di Indonesia adalah Lampung. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Lampung tahun 2014, produksi ubi kayu Lampung mencapai 8,03 juta ton atau sekitar 30 persen dari total produksi ubi kayu nasional (Kompas, 3/9/2016). (YUN)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 September 2017, di halaman 10 dengan judul “Budidaya Ubi Kayu Sangat Potensial”.

Informasi terkait

Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Berita ini 164 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:40 WIB

Memahami Manusia dari Dua Jalan

Berita Terbaru

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB