Home / Berita / Mapram, Sekadar Menjadi “Kenangan Manis”

Mapram, Sekadar Menjadi “Kenangan Manis”

Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mengecam keras cara-cara yang kurang wajar dalam Masa Prabakti Mahasiswa atau Mapram di Jakarta. Kecaman itu dilontarkan Bang Ali karena masih ada praktik-praktik penggojlokkan atau penugasan tanpa memperhitungkan kemampuan mahasiswa baru. Meskipun Mapram sudah menjadi tradisi mahasiswa, belakangan ini menjadi kegelisahan dan keprihatinan para orangtua. Mapram dilakukan hingga lewat tengah malam sampai pukul 02.30, dan pada pukul 06.30 mahasiswa baru harus berkumpul lagi.

Berita tersebut dimuat harian Kompas yang terbit tanggal 2 Februari 1971, atau 47 tahun lalu.

KOMPAS/KARTONO RYADI–Untuk menyambut para mahasiswa baru tahun ini, tidak ada lagi perpeloncoan di UI (Universitas Indonesia). Program tersebut diganti dengan Ospek (Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus) yang akan berlangsung di kampus UI tanggal 4 dan 5 Agustus 1982.

Mapram adalah sebutan untuk menyambut bergabungnya mahasiswa baru di perguruan tinggi sampai sekitar pertengahan 1970-an. Setelah itu, sebutannya berubah-ubah, seperti masa perkenalan mahasiswa (maperma), orientasi studi pengenalan kampus (ospek), orientasi studi (OS), dan orientasi mahasiswa baru (OMB). Sebutan-sebutan untuk kegiatan itu memang berubah, tetapi dalam praktiknya relatif tak jauh berbeda. Sampai sekitar tahun 2014 kegiatan ini seakan menjadi ajang ”balas dendam” sebagian mahasiswa senior terhadap mahasiswa baru. Kekerasan kerap menyertai kegiatan ini, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa.

Padahal, salah satu tujuan perpeloncoan agar mahasiswa baru berhasil melewati suatu tahap pendewasaan, membangun komunikasi yang lebih dekat dengan sesama mahasiswa baru dan para mahasiswa senior, serta penyesuaian dengan suasana kampus. Arsip Kompas mencatat, perpeloncoan sudah ada sekitar tahun 1958.

Meskipun perpeloncoan sudah berusia hampir 60 tahun, pro dan kontra tentang kegiatan ini masih berlangsung hingga kini. Sebagian orang meragukan hasil positif perpeloncoan dalam membantu mahasiswa baru melewati salah satu tahap kehidupannya. Perpeloncoan menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi sebagian mahasiswa senior, tetapi membuat ”sakit perut” sebagian mahasiswa baru dan orangtua.

KOMPAS/ROBERT ADHI KSP–Calon mahasiswa mengikuti ospek diperguruan tinggi pilihanya. Mereka memakai helem yang dianjurkan pimpinannya, 23 Agusutus 1980.

Kekhawatiran banyak orang pada perpeloncoan masuk akal mengingat korban kekerasan bisa mengakibatkan nyawa melayang. Perpeloncoan terus berlangsung meskipun menurut catatan Kompas, 14 September 2003, Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi pada 26 Februari 2000 telah mengeluarkan peraturan baru untuk mengatasi kegiatan perpeloncoan. Peraturan itu antara lain menyebutkan bahwa penanggung jawab dan penyelenggara ospek harus ditangani rektor perguruan tinggi (PT) setempat, bukan oleh mahasiswa. Ospek juga harus menekankan pada kegiatan akademik, bukan bersifat fisik.

Soal perpeloncoan kembali diatur dalam Surat Keputusan Dirjen Dikti Tahun 2008. Dalam surat keputusan ini, ospek bertujuan memberi pengenalan awal untuk mahasiswa baru yang antara lain meliputi sejarah kampus, lembaga yang ada di kampus, jenis kegiatan akademik, dan sistem kurikulum (Kompas, 6 Agustus 2015).

Namun, tak lagi bisa melakukan kekerasan lewat ospek, sebagian mahasiswa mengadakan perpeloncoan pada unit kegiatan mahasiswa. Kompas, 29 September 2017, memuat berita tentang vonis majelis hakim Pengadilan Negeri Karanganyar, Jawa Tengah, terhadap dua orang yang menjadi panitia pendidikan dasar Mahasiswa Pencinta Alam Unisi, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Mereka adalah Muhammad Wahyudi (divonis 5 tahun 6 bulan penjara) dan Angga Septiawan (6 tahun penjara) yang terbukti menganiaya korban selama pendidikan dasar di Tlogodringo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, pada 14-22 Januari 2017. Penganiayaan yang mereka lakukan, antara lain berupa pukulan, tendangan, dan tamparan, telah mengakibatkan tiga mahasiswa meninggal. Mereka yang menjadi korban adalah Muhammad Fadhli (20), Syaits Asyam (19), dan Ilham Nurpadmy Listia Adi (20).

Dini hari
Pada 1960-an mapram biasanya diadakan selama 10 hari. Selama masa itu, mahasiswa baru harus berkumpul di kampus pukul 05.00-06.30 dan baru meninggalkan kegiatan pada malam hari, bahkan lewat tengah malam. Masyarakat setempat pun tahu apabila PT tengah mengadakan perpeloncoan. Ini antara lain bisa dilihat dari lalu lalangnya mahasiswa dengan bersepeda dan mengenakan atribut yang ”aneh-aneh”.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ–Mahasiswa baru Universitas Negeri Medan (Unimed) mengikuti acara pembukaan Pembekalan Awal Mahasiswa (PAM) di Aula Unimed, Medan, Kamis 5 Agustus 2010. PAM yang merupakan pengganti orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) dikemas secara dialogis dan nirkekerasan

Pada masa mapram, mahasiswa baru biasanya diharuskan memotong rambutnya sampai gundul. Sementara mahasiswi baru harus mengikat rambutnya menjadi beberapa ikatan, dan masing-masing ikatan rambut itu diberi pita berwarna-warni, tergantung kehendak mahasiswa senior. Selama mapram, mahasiswa baru diharuskan naik sepeda dengan hiasan sesuai perintah mahasiswa senior. Mereka mengenakan topi berupa anyaman untuk kukusan atau berupa tampah.

”Kota ini dimeriahkan dari jam enam pagi sampai jauh malam oleh regu-regu pramahasiswa yang berduyun-duyun, mondar-mandir menuju tempat tugasnya masing-masing atau sedang menjalankan suruhan-suruhan berupa membersihkan jalan, minta sumbangan dan sebagainya,” demikian catatan Kompas, 25 Februari 1967, tentang suasana Kota Bandung saat perpeloncoan berlangsung.

Serupa dengan Bandung, di Jakarta pun selama mapram banyak terlihat mahasiswa baru menyusuri jalan-jalan Ibu Kota dengan sepeda. Wajah mereka lesu, terutama saat kembali dari mapram pada tengah malam. Pada pagi hari, ketika matahari belum lagi bersinar, mereka sudah kembali muncul di jalan-jalan.

Laksanakan perintah
Setiap hari selama mapram biasanya ada saja perintah mahasiswa senior yang harus dipatuhi mahasiswa baru. Pada Mapram UI tahun 1968, misalnya, para mahasiswa baru diminta mengumpulkan dana dengan cara memasang iklan di karton yang dipasang pada setang sepedanya. Selama tiga hari, mahasiswa baru berkeliling Jakarta membawa iklan kartonnya (Kompas, 29 Januari 1968).

KOMPAS/KARTONO RYADI–Masa Perkenalan Mahasiswa Universitas Indonesia 1971. Mereka beristirahat di serambi masjid Kampus UI Salemba.

Sementara di Akademi Bank Indonesia (ABI) Jakarta, mereka diharuskan membawa semir dua kaleng berwarna hitam dan coklat, karung, dan koran 20 lembar. Ada pula mahasiswa baru yang disuruh mahasiswa senior membelikan rokok tanpa diberi uang (Kompas, 8 Februari 1969). Atas semua perintah itu, mahasiswa senior umumnya beralasan, lewat mapram, mahasiswa baru belajar menderita dan menumbuhkan empati karena bisa merasakan beratnya harus mengayuh sepeda jarak jauh. Mereka juga belajar disiplin, bisa mengerjakan banyak tugas dalam kondisi badan lelah dan kurang tidur (Kompas, 3 April 1969).

Sayangnya, perlakuan sebagian mahasiswa senior selama mapram kerap melampaui batas ”kewajaran”. Tahun 1970 di sebuah PT swasta di Jakarta sang senior tega menampar dan meludahi mahasiswi baru karena dianggap tak bisa menjalankan perintahnya dengan baik. Ada lagi mahasiswa senior yang hendak membakar kuku mahasiswi baru dengan api lilin. ”Praktik semacam itu menandakan mahasiswa (senior) tak mau tahu batas. Ia mau memuaskan diri dengan menunjukkan kemahakuasaannya kepada orang lain, atau melakukan pembalasan pada apa yang dia alami di waktu sebelumnya,” demikian ditulis Kompas, 18 Maret 1970.

Pada mapram tahun 1969 ada mahasiswa baru dipaksa sang senior makan nasi dengan lauk ikan asin mentah dan minyak ikan, atau sarapan dengan jengkol. Mereka juga diguyur dengan telur busuk dan baru diizinkan pulang setelah lewat tengah malam (Kompas, 23 Februari 1972). Kompas, 19 Januari 1996, menurunkan tulisan tentang ospek yang berlangsung dari pukul 04.00 sampai 02.00 esok harinya. Ini berarti mahasiswa baru hanya memiliki waktu ”istirahat” dua jam! Mereka juga kerap disuruh sang senior merayap dengan punggung tanpa berpakaian, atau berguling-guling di aspal saat panas menyengat. Akibatnya, punggung mereka penuh luka.

Tahun 1970 sebanyak 42 senat mahasiswa PT di Jakarta mengadakan mapram bersama. Mapram dibagi dalam 5 gelombang, dan setiap gelombang diikuti rata-rata delapan PT. Mapram bersama antara lain diisi karnaval, dengan peserta mahasiswa baru yang membawa poster-poster berisi kritik terhadap kondisi sosial-politik-ekonomi bangsa Indonesia (Kompas, 11 Februari 1970 dan 28 Februari 1970).

Uang mapram
Mapram umumnya bersifat wajib bagi mahasiswa baru. Untuk mengikuti mapram, mahasiswa baru di ABI Jakarta, misalnya, harus membayar uang mapram Rp 3.000. Apabila mereka terlambat datang, didenda Rp 25 atau lebih (Kompas, 8 Februari 1969). Mapram pun dianggap sebagai pemborosan. Ini karena mahasiswa baru harus membeli barang-barang sesuai perintah para senior meskipun tak jelas benar manfaatnya. Barang yang harus mereka beli seperti balon, jengkol, kangkung, tahu, gula pasir, minuman, dan minyak ikan.

KOMPAS/KARTONO RYADI–Mahasiswa peserta Maperma UI sedang beristirahat (1971).

Kompas, 4 Maret 1970, menulis, uang Mapram UI, misalnya, Rp 4.000. Rinciannya Rp 2.500 untuk panitia pusat dan sisanya guna memenuhi kebutuhan panitia fakultas. Selain itu, setiap mahasiswa baru juga diharuskan mengumpulkan sumbangan Rp 1.000.

Apabila diasumsikan jumlah mahasiswa baru UI 800 orang, berarti total biaya mapram mencapai Rp 4 juta. Uang sebesar itu bisa digunakan untuk mendirikan laboratorium, atau dipakai membangun perpustakaan yang bagus. Uang sebesar itu juga cukup untuk beasiswa setahun bagi 133 mahasiswa tak mampu.
Ironisnya, pada saat bersamaan senat mahasiswa memprotes kenaikan uang kuliah. Akan tetapi, untuk kegiatan mapram, dengan mudah mereka menghambur-hamburkan uang (Kompas, 4 Maret 1970).

Soal keuangan mapram yang tak beres antara lain dicatat Kompas pada 3 Maret 1971. Anggaran belanja Panitia Mapram UI dinilai tak dapat dipertanggungjawabkan karena harga yang dipakai terlalu tinggi dibandingkan harga di pasaran. Contoh, harga topi yang diajukan panitia Rp 75 per unit, sementara Panitia Mapram Fakultas Sastra UI bisa membeli dengan harga Rp 30. Ada pula seksi yang tak ada kegiatannya, tetapi masuk dalam anggaran. Mahasiswa mengaku tak terlalu mempersoalkan uang, tetapi mereka protes karena penyelewengan itu berkaitan dengan moral mahasiswa. Mapram seharusnya bebas dari manipulasi dan korupsi.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada mulai mengenakan jas almamater saat mengikuti pembukaan Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB) di lapangan Grha Sabha Pramana UGM, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (18/8). Kegiatan ini diikuti 9.133 mahasiswa baru. Selama seminggu mereka akan dikenalkan dengan berbagai hal tentang lingkungan kampus serta sistem pendidikan di perguruan tinggi.

Korban
Kompas, 3 Februari 1967, mencatat, menjelang tengah malam, Sri Susiati, mahasiswi baru Universitas Indonesia (UI), meninggal karena mengalami kecelakaan saat pulang dari mapram. Tak dijelaskan bagaimana korban mengalami kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kematian itu. Akan tetapi, sebagian orang menilai hal itu terjadi karena korban kelelahan.
Tahun 1971 mapram yang berlangsung di Institut Teknologi 10 Nopember di Surabaya (ITS) menghasilkan 19 mahasiswa baru menderita luka bakar karena diciprati cairan bekas laboratorium oleh sebagian seniornya (Kompas, 17 Februari 1971). Setelah dibawa ke RSUP Dr Soetomo, 9 mahasiswa diperbolehkan pulang, tetapi 10 lainnya harus dirawat.

”Badan mereka penuh luka. Ada bagian-bagian badan dengan bintik-bintik hitam seperti bekas terbakar. Kebanyakan yang terluka punggung mereka, tetapi ada pula (mahasiswa baru) yang lecet di bagian kepala, kelopak mata, wajah, leher, bahkan terluka pada bibir dan lidahnya,” demikian ditulis Kompas. Hal itu terjadi setelah pada pukul 21.00-22.00 peserta mapram disuruh sang senior merangkak di bawah bangku. Tiba-tiba mereka diciprati cairan yang mengakibatkan badan terkena pedih. Oleh karena kesakitan, mereka lari, tetapi dikejar para senior sambil terus diciprati cairan. Bahkan, ada mahasiswa baru yang disuruh minum cairan tersebut. Akibatnya, bibir dan lidahnya luka terbakar.

Ketika mereka hampir pingsan, tindakan senior baru berhenti. Para korban pun dilarikan ke rumah sakit. Akibat peristiwa itu, pada pukul 01.30 Rektor ITS menghentikan pelaksanaan mapram sampai waktu yang tak ditentukan. Dari penyelidikan polisi, cairan yang digunakan dalam mapram itu adalah kaustic soda bercampur air seni. Di lokasi peristiwa terdapat tiga drum kaustik soda untuk keperluan laboratorium ITS (Kompas, 19 Februari 1971).

Survei
Peristiwa ITS membuat banyak pihak berpikir ulang soal mapram. UKI dan Unas, misalnya, tetap mengadakan mapram, tetapi pelaksanaannya jauh dari perpeloncoan. Mapram diisi dengan mengajak mahasiswa baru melakukan survei untuk membantu Pemda DKI Jakarta (Kompas, 3 Maret 1971).

KOMPAS/JB SURATNO–Dari 47.000 pendaftar, hanya 7.000 yang diterima sebagai calon mahasiswa di lima Perguruan Tinggi yang tergabung dalam Proyek Perintis-I, meliputi Universitas indonesia (Jakarta), Institut Teknologi Bandung (Bandung), Universitas Gajah Mada (Yogyakarta), Universitas Airlangga (Surabaya) dan Institut Pertanian Bogor (Bogor). Senin 6 Februari 1978 diumumkan calon mahasiswa yang diterima secara serentak.

Tahun 1972 acara mapram di UI berlangsung selama 7 hari pada pagi dan sore. Setelah magrib, mahasiswa baru sudah pulang. Selain membawa mahasiswa baru mengenal kampus lebih dekat, mapram lebih banyak diisi ceramah dan diskusi. Pelaksana mapram pun minimal mahasiswa tahun ketiga (Kompas, 13 Januari 1972 dan 18 Januari 1972).
Mahasiswa baru UI juga diarahkan menjadi pekerja riset dengan menemui para tukang becak, pemungut putung rokok, tukang batu, dan calo bus. Mereka dibekali 20 pertanyaan yang harus diselesaikan dalam empat jam (Kompas, 23 Februari 1972).

Seakan sudah lupa pada para korban mapram, pada tahun berikutnya, 1973, Mapram di Akademi Pemimpin Perusahaan (APP) Jakarta kembali memakan korban. Frits Hutabarat, mahasiswa baru yang disebut si Kroco, mendapat perlakuan keras sampai pingsan dan harus mendapat perawatan (Kompas, 2 Maret 1973).
Kompas, 19 Januari 1996, kembali menulis tentang perpeloncoan yang mengakibatkan seorang mahasiswa baru meninggal, 3 orang dirawat, dan sekitar 175 orang lainnya berobat jalan. Perilaku brutal mahasiswa senior yang diberi ”kekuasaan” ternyata masih berlanjut. Kali ini terjadi pada ospek di ITB.

Korban meninggal berikutnya yang dicatat Kompas, 4 September 1999, adalah Suryowati Hagus Darayanto, mahasiswa baru Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta. Ospek dengan kekerasan pun kembali muncul. Di PT negeri ataupun swasta di Jakarta, bentakan-bentakan tak jelas, sebutan melecehkan seperti ”perek”, tamparan, pukulan di punggung dan kaki kembali mewarnai kegiatan ini (Kompas, 9 September 1999).

Lagi, tahun 2003 Wahyu Hidayat, mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, meninggal karena dianiaya seniornya (Kompas, 14 September 2003). Di kampus yang sama, tetapi dengan nama berbeda, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) pada 2007 kembali terjadi penganiayaan yang berakibat meninggalnya Cliff Muntu, praja asal Sulawesi Utara (Kompas, 14 April 2007).

Larangan
Efek negatif mapram sudah diketahui setidaknya sejak akhir 1960-an. Kompas, 16 Januari 1969, menulis, dirjen PT memutuskan mengganti istilah mapram menjadi maperma. Kalau mapram berlangsung 10 hari, maperma maksimal 5 hari. Pada maperma, mahasiswa baru harus diberi kesempatan beribadah, istirahat, dan makan. Kegiatan malam maperma maksimal sampai pukul 22.00 dan diisi dengan ceramah dan malam kesenian.

KOMPAS/PRAMONO BS–Pengakuan Indah Sri Mujiyati (tengah) calon mahasiswa FK Universitas Diponegoro, Semarang yang diminta menggigit katak saat mengikuti masa orientasi program studi dan pengenalan kampus (Opspek). Ia didampingi kedua orangtuanya menceritakan pengalamannya saat opspek.

Namun, keputusan dirjen PT itu ditentang dewan-dewan mahasiswa (DM), seperti DM UI, DM Institut Pertanian Bogor (IPB), DM Universitas Kristen Indonesia (UKI), DM Universitas Trisakti, DM Universitas Nasional (Unas), dan DM Institut Agama Islam Negeri Jakarta (IAIN Jakarta). Mereka menolak Keputusan Dirjen PT Nomor 118 Tahun 1968 dengan alasan, keputusan itu mengebiri hak-hak mahasiswa, menghilangkan pembelajaran kepemimpinan, dan bisa mengadu domba antara mahasiswa dan pimpinan PT.
Tampaknya mengambil jalan tengah, Mapram UI tahun 1969 tetap berlangsung selama 10 hari, tetapi 5 hari di antaranya menjadi masa perkenalan mahasiswa sesuai keputusan dirjen PT dan 5 hari berikutnya sesuai program DM (Kompas, 14 Februari 1969).

Tahun 1971 mapram di UI tak lagi 10 hari, tetapi dipersingkat menjadi 7,5 hari. Sebanyak 1.294 mahasiswa baru mengalami mapram yang relatif tak ”sekejam” sebelumnya. Ketua DM UI Hardjadi Darmawan mengingatkan, ada 3 hal yang disorot masyarakat terhadap mapram, yakni sifatnya yang wajib, hukuman fisik yang cenderung menunjukkan balas dendam, dan pemborosan keuangan (Kompas, 30 Januari 1971).

Pada 22 Februari 1971 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri membatalkan semua keputusan mengenai mapram, dan menggantinya dengan pekan orientasi studi yang dipegang langsung pimpinan PT. Pekan orientasi studi hanya boleh berlangsung pada jam kuliah, dan maksimal selama satu minggu.
Mapram atau ospek dengan semangat perpeloncoan itu kembali dihapus lewat surat edaran Dirjen Dikti Nomor 5 Tahun 1995. Di sini ditegaskan, ospek dilakukan dengan lebih lunak dan di bawah koordinasi purek untuk tingkat PT dan pudek di tingkat fakultas/jurusan (Kompas, 14 September 2003).

Namun, tetap saja, sepanjang tak ada korban, ospek dengan kekerasan fisik ataupun psikis terus berlangsung. Kebanyakan orang pun tak peduli. Mereka baru bereaksi apabila sudah jatuh korban. Kalau sudah ada korban mahasiswa dirawat di rumah sakit, bahkan meninggal, barulah semua pihak kembali meributkan perlu-tidaknya ospek diadakan.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Sebuah replika tong sampah raksasa dengan tulisan menggelitik diusung mahasiswa baru Universitas Negeri Semarang (Unesa) saat mengikuti Orientasi Kehidupan Kampus, Senin (20/8) di Semarang, Jawa Tengah. Mahasiswa peserta orientasi mengenakan pakaian dan atribut yang unik dan cenderung “nyeleneh”.

Deretan korban mapram pun semakin panjang. Akan tetapi, sebagian orang tetap berpendapat, kalau dalam masa perpeloncoan ada korban mahasiswa baru yang meninggal atau dirawat di rumah sakit, itu adalah ekses. Itu ”sekadar dampak sampingan” dari mapram. Mereka mengatakan, ekses yang harus dihilangkan, tetapi mapram terus berjalan. Mapram diyakini memberi dampak positif bagi mahasiswa baru. Misalnya, membuat mereka mampu menghadapi tekanan yang berat dalam kehidupan, menumbuhkan rasa empati, mendisiplinkan diri, dan mengakrabkan sesama mahasiswa baru ataupun dengan mahasiswa senior.

Akan tetapi, kegiatan itu sudah berusia hampir 60 tahun dan efek negatifnya tetap berlanjut. Sementara hasil positif dari mapram masih bisa diperdebatkan. Apakah bijak kalau kita membiarkan perpeloncoan tetap berlangsung?

Mari kita merenung sejenak. Sesungguhnya apa yang tersisa setelah mapram berakhir? Adakah pengalaman itu menjadi kenangan manis yang membuat orang ingin mengalami mapram lagi? Adakah kerinduan kita pada mapram seperti pada reuni?

Jangan-jangan sampai sekarang pun mapram tetap menjadi momok menakutkan bagi mahasiswa baru dan para orangtua!

CHIRS PUDJIASTUTI

Sumber: Kompas, 2 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: