Pendidikan Kedokteran; Kuota Mahasiswa Baru Uncen Dikurangi

- Editor

Rabu, 11 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setelah beberapa kali jumlah mahasiswa baru ratusan orang dalam sekali penerimaan, Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua, merampingkan kuota mahasiswa baru jadi 50 siswa sejak tahun akademik 2015/2016. Sebab, jumlah mahasiswa FK universitas itu terlalu jauh dari jumlah ideal.

“Ini bagian dari pembenahan kami. Dengan akreditasi C dan jumlah dosen di kampus saat ini 17 orang, penerimaan seharusnya 50 mahasiswa baru saja,” ucap Dekan FK Uncen Trajanus L Yembise di Abepura, Papua. Jumlah dosen tetap di fakultas itu 37 orang, tetapi 20 orang di antaranya menjalani studi tingkat lanjut.

Menurut Trajanus, saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (6/5), pada awal beroperasi 2002, FK Uncen hanya menerima 50-an mahasiswa per penerimaan. Namun, pada 2005, FK Uncen menerima 100 mahasiswa baru dan jumlahnya terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada 2011, jumlah mahasiswa baru 260 orang, pada 2012 bertambah 322 mahasiswa baru, tahun 2013 ada 304 orang, dan pada 2014 ada 198 orang. Pada 2015, sejak dimulainya reformasi pengelolaan FK Uncen, mahasiswa baru 54 orang.

Total mahasiswa FK Uncen saat ini 1.557 orang. Rinciannya, 1.057 mahasiswa program akademik sedang menyelesaikan pendidikan sarjana dan 500 mahasiswa program profesi menyelesaikan program akademik serta berusaha mendapat gelar dokter. Jumlah mahasiswa yang membeludak itu membuat proses belajar-mengajar tak optimal.

Dosen terbebani
Beban dosen mengajar seharusnya 2-4 satuan kredit semester per hari atau 100-200 menit per hari. Nyatanya, mereka mengajar 500 menit atau 8,5 jam. Sekali perkuliahan, ada 200-300 mahasiswa sekelas. Mahasiswa yang lulus sarjana pun frustrasi karena pendidikan profesi di rumah sakit terhenti. Para dosen mogok mengajar dan mahasiswa berunjuk rasa. Akibatnya, pembelajaran di FK vakum setahun, Agustus 2014-Agustus 2015.

Sementara itu, jumlah dokter yang dihasilkan sedikit. Misalnya, dalam uji kompetensi Februari lalu, hanya 9 calon dokter lulus dari total 57 peserta atau hanya 15 persen yang jadi dokter.

Pembatasan jumlah mahasiswa baru itu dilakukan Trajanus yang menjabat dekan sejak 31 Agustus lalu. Ia menghapus jalur masuk lokal dan hanya menerima mahasiswa dari dua pintu masuk, yakni seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) dan jalur undangan. Sebelumnya, kriteria mahasiswa yang masuk lewat jalur lokal tak jelas, kecuali kriteria mahasiswa asal Papua. “Pendidikan dokter tak boleh begini,” ucapnya.

Penerimaan 50 mahasiswa baru per tahun dinilai ideal, melihat pengalaman awal fakultas itu. Pada 2009, 20 orang jadi dokter pertama yang lulus dari pendidikan di FK Uncen, separuhnya sudah menjadi dokter spesialis.

Pengelola FK Uncen menargetkan FK Uncen berakreditasi A dan unggul bidang kedokteran tropis pada 2020, mengingat Papua endemis malaria. Dengan membatasi mahasiswa baru 50 orang per tahun, target visi itu diharapkan tercapai.

Sementara itu, FK Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, kesulitan menambah jumlah dosen tetap. Menurut Rektor Universitas Tanjungpura Thamrin Usman dan Dekan FK Universitas Tanjungpura Arif Wicaksono, itu karena dalam tiga tahun terakhir perekrutan dosen tetap FK, tak ada dokter yang mendaftar.

Sementara Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ainun Na’im menyatakan, pihaknya sudah membuat komite kualitas bersama organisasi profesi terkait untuk mencari solusi masalah sejumlah FK yang ada. “Yang ada sekarang kita perbaiki, ditingkatkan mutunya,” ujarnya.

Masalah pada FK tak berarti pendirian FK baru menambah masalah karena Kemristek dan Dikti minta FK baru bermutu baik. (FLO/JOG/ADH/ESA)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Mei 2016, di halaman 13 dengan judul “Kuota Mahasiswa Baru Uncen Dikurangi”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB