Home / Profil Ilmuwan / Mangestuti Agil Bertahun-tahun Meneliti Jamu Indonesia

Mangestuti Agil Bertahun-tahun Meneliti Jamu Indonesia

Indonesia kaya tanaman obat. Ironisnya justru bangsa lain yang memelihara warisan hebat itu. Orang asing membuat buku soal khasiat tanaman obat Indonesia, bahkan menampilkannya di musium. Itu membuat sedih hati Mangestuti Agil, guru besar ilmu botani farmasi – farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya. Tak henti ia mengajak masyarakat kembali mengonsumsi ramuan tanaman obat tradisional demi tubuh sehat.

April nanti Mangestuti berusia 69 tahun, namun ia tetap bersemangat beraktifitas. Gerakan tubuhnya lincah, dan setiap hari kuat naik tangga ke lantai tiga di kantornya, Fakultas Farmasi Unair. Ia masih mendampingi mahasiswa program pendidikan Vokasi Pengobatan Tradisional Unair praktik membuat aneka jamu di laboratorium dan menyetir sendiri untuk bepergian terutama ke kampus.

KOMPAS/SOELASTRI SOEKIRNO–Prof Dr Mangestuti Agil

Kondisi itu berkat upaya hidup sehat yang ia lakoni sejak puluhan tahun lalu. Tiap hari ia yoga atau senam serta minum ramuan obat tradisional dan rebusan empon-empon (kunyit, jahe, temulawak) atau rebusan daun yang berkhasiat sebagai antioksidan.

“Saya tak bosan mengajak ayo kita kembali ke dapur. Buatlah sendiri ramuan dari bahan herbal hasil tanaman Indonesia yang punya banyak khasiat mencegah penyakit. Aneka daun, akar, umbi bisa dibuat jamu atau rebusan aneka daun membuat badan kita sehat ,” ujar Mangestuti berapi-api saat ditemui di Surabaya pada Rabu (30/1/2019) lalu.

Bagi ibu dua anak tersebut, punya badan sehat itu penting untuk menopang kegiatan belajar, bekerja dan aktifitas lain. “Kalau kita sehat, melakukan apapun bisa. Lha kalau sakit kan jadi beban keluarga dan tak bisa beraktifitas,” lanjutnya.

Pengalaman menakjubkan
Kecintaannya kepada pengobatan tradisional bukan tanpa alasan. Jauh sebelum meneliti khasiat aneka tanaman obat, saat jadi mahasiswa tahun 1968, ia biasa mengonsumsi jamu kunyit asam dan sirih kunci. Ia juga minum jamu seduhan galian puteri.Jamu itu untuk kelancaran haid dan menghilangkan bau tak sedap di badan.

Pengalaman selanjutnya membuatnya terkesan karena jamu terbukti berkhasiat bagi tubuhnya. Waktu itu neneknya membuatkan ramuan yang dikenal dengan nama jamu wejah untuk meningkatkan pengeluaran ASI yang berkualitas. “Waktu itu saya melahirkan anak pertama, tahun 1977. Jamu lain yang saya minum paska melahirkan untuk mempercepat pengembalian kondisi kesehatan. Ramuan dibuat langsung dari bahan tumbuhan segar itu rasanya luar biasa pahit,” kata Mangestuti menceriterakan khasiat jamu buatan sang nenek, eyang Darimah Hardjosubroto.

Pengalaman minum paket jamu bersalin buatan sebuah pabrik jamu tradisional Indonesia usai melahirkan anak kedua makin membuatnya takjub. “Saya gunakan semua jamu dalam paket itu termasuk tapel untuk daerah perut. Hasilnya luar biasa. Area perut cepat kembali normal sehingga dokter yang memeriksa heran,” tambahnya.

Sejak itu ia terlecut mencari tahu seluk beluk jamu tradisional. Mangestuti melakukan penelitian perdana tentang daun katu’ yang dikenal sebagai penambah pengeluaran ASI sejak ia masih kuliah S1 tahun hingga kuliah di S2 dan S3. Langkahnya terus berlanjut ketika ia menjadi dosen dengan meneliti obat tradisional baik melalui survei lapangan maupun studi literatur dan hasil penelitian.

KOMPAS/SOELASTRI SOEKIRNO–Prof Dr Mangestuti (tengah) bersama mahasiswa yang ia bimbing

Jamu Madura
Rasa ingin tahu yang besar tentang khasiat obat tradisional suatu ketika membawanya mengenal jamu Madura yang terkenal yang ternyata dari Keraton Sumenep. “Saya tidak bisa berbahasa Madura. Beruntung ada teman dari Madura menjadi penerjamah,” ujarnya. Ia mencari tahu soal jamu itu namun langkahnya tak mudah, sebab para ahli jamu yang kerabat Keraton Sumenep tak mau menceriterakannya.

“Terus terang saya tertarik tahu seluk beluk jamu Madura karena pemahaman masyarakatnya tentang jamu luar biasa besar. Lelaki Madura bingung loh kalau istrinya tak minum jamu he he.. Tak hanya itu, orang Madura punya rangkaian jenis jamu untuk anak gadis dari anak, remaja, paska melahirkan. Itu luar biasa sekali,” urainya.

KOMPAS/SOELASTRI SOEKIRNO–Prof Dr Mangestuti Agil

Demi mendapat resep jamu mereka, Mangestuti sering ke Sumenep yang berada di ujung pulau Madura. Ia terus menjalin relasi dengan para ahli jamu yang sudah sepuh. Usaha pantang menyerah yang ia lakoni tak sia-sia. Tahun 2015, setelah 10 kemudian ia mendapat kepercayaan dari ahli jamu dari Keraton Sumenep. Mereka memberi resep jamunya. “Senang sekali karena berarti jamu itu tak akan punah. Saya simpan resep itu dengan baik karena ia pusaka keraton Sumenep dan bangsa Indonesia. Saya tak akan buka untuk kepentingan komersial,” katanya lagi.

Buku Primbon
Usahanya menambah pengetahuan tak hanya itu. Di sela mengerjakan pekerjaan rutin mengajar dan meneliti, dosen yang hobi merenda itu menerjemahkan buku Primbon serta manuskrip kuno tentang jamu tradisional. “Dulu saya cuek sama Primbon yang berkonotasi kuno. Ternyata anggapan itu salah. Primbon berisi pengetahuan tentang pengobatan tradisional yang lengkap,” ungkap Mangestuti.

Demi ingin tahu lebih detail ia berburu buku dan manuskrip kuno hingga ke Museum Nasional Jakarta, museum Radya Pustaka Solo dan tempat lain. Meski semua buku berbahasa Jawa halus bahkan ada yang berbahasa Jawa Kawi (kuno), ia tak gentar. “Saya tak pintar berbahasa Jawa kromo, tapi saya coba terjemahkan sendiri. Kalau mentok baru tanya ke ahli manuskrip Jawa,” jelas perempuan berdarah Jawa ini.

Dalam pencariannya itu ia menemukan buku-buku tentang jamu karya penulis asing. Ia kaget tetapi temuan itu makin membuatnya bersemangat belajar tentang pengobatan tradisional. Ia bahkan belajar tentang aroma terapi yang menjadi penenang sekaligus belajar memijat yang menjadi bagian dari pengobatan tradisional.

Ketekunan Mangestuti memberi keuntungan bagi bangsa. Kemampuannya itu membawanya ke Jepang untuk menyusun naskah dan keterangan tentang jamu Indonesia guna dipamerkan di Museum of Materia Medica, Institute of Natural Medicine, Toyama University.

Seperti resep jamu Madura, Toyama University dan Mangestuti membuat perjanjian, naskah itu tidak boleh dikomersialkan. Berkat jasa Mangestuti, jamu tradisional dan bendera Indonesia berkibar di musim tersebut.

Sebagai ilmuwan ia tak mau hanya menyimpan kemampuannya. Sejak tahun 2004 hingga sekarang Mangestuti giat mengenalkan pengobatan tradisional lewat dua kolomnya di tabloid mingguan Nyata Surabaya. Ia juga punya warga binaan di Surabaya yang ia ajari menggunakan tanaman obat keluarga untuk keperluan sehari-hari.

Belakangan, farmasis yang ikut membantu almarhum dr Arijanto mendirikan Klinik Obat Tradisional Indonesia di Rumah Sakit Dr Sutomo Surabaya tersebut lebih berfokus meneliti berbagai bahan alam dan ramuan untuk kesehatan wanita utamanya saat memasuki masa menopause. Ia menemukan daun semanggi ternyata bisa menjadi anti osteoporosis dan pelindung sel saraf otak pencegah alzimer.

Ketika sudah pension nanti, Mangestuti bertekad tetap giat mengedukasi masyarakat agar menggunakan bahan alam dalam negeri untuk membuat mereka sehat jiwa dan raga. (TRI)

Nama : Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS (farmasis)

Tempat/ tanggal lahir : Jakarta, April 1950

Pendidikan : S1 Fakultas Farmasi, S2 Basic Medical Science dan S3 Mathematic and Natural Science di Universitas Airlangga

Pekerjaan : Dosen bidang Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Anak : Rizal Adi Dharma dan Tatum Syarifah Adiningrum

Karya Buku : Medicinal plants of Lombok Ethnic Group (2010), Crude Drugs Used in Indonesian Traditional Medicine (2010), Essential Oil in The Pharmacognosy (2014), Semanggi and Osteoporosis (2016)

SOELASTRI SOEKIRNO

Sumber: Kompas, 9 Februari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria

Sebagai intelektual Tjondronegoro istimewa karena mampu menjelaskan sebab-sebab struktural dan politik agraria dari kemiskinan agraria ...

%d blogger menyukai ini: