Saintifikasi Jamu untuk Terapi Komplementer

- Editor

Kamis, 5 Juni 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah terus mendorong proses saintifikasi jamu. Dengan saintifikasi, masyarakat bisa memanfaatkan jamu untuk terapi komplementer, alternatif pemeliharaan kesehatan, pencegahan, dan pengobatan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan hal itu dalam simposium internasional bertema ”Tanaman Obat dan Obat Tradisional”, Rabu (4/6), di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Dengan proses saintifikasi, jamu yang selama ini telah dimanfaatkan masyarakat memiliki bukti ilmiah. ”Tugas pemerintah memberikan bukti jamu mempunyai dasar ilmiah,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini pemerintah melaksanakan riset untuk menghasilkan tiga jamu saintifik. Jamu-jamu itu untuk pengobatan nyeri sendi (osteoartritis), wasir (hemoroid), dan dispepsia (kembung/mual).

Penelitian tersebut ditargetkan rampung pada akhir 2014. Pihaknya juga menguji 24 formula jamu. ”Saat ini tersedia dua jamu saintifik, yaitu untuk hipertensi ringan dan asam urat,” ujarnya.

bptoMenurut Tjandra, masyarakat telah turun-temurun memanfaatkan jamu secara luas. Hasil Riset Kesehatan Tahun 2013 menunjukkan, sebanyak 30,4 persen rumah tangga di Indonesia memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional dan 49 persen rumah tangga memanfaatkan ramuan atau jamu. Untuk itu, masyarakat diimbau kembali menghidupkan tanaman obat keluarga.

Tjandra memaparkan, hasil riset tumbuhan obat dan jamu (ristoja) pada 2012 menunjukkan, ada 1.889 spesies tumbuhan obat dan 15.671 ramuan untuk kesehatan. Selain itu, juga ada 1.183 pengobat tradisional dari 20 persen etnis, atau 209 etnis dari total 1.128 etnis di Indonesia.

Ristoja akan dilanjutkan pada 2015, hingga terkoleksi data dari 100 persen etnis di Indonesia. Tumbuhan obat yang telah terkoleksi diharapkan segera diteliti untuk mendapat entitas kimia baru dan informasi tentang jamu berbasis kearifan lokal serta melestarikan tanaman obat langka.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu Indah Yuning Prapti mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan 157 petani di Tawangmangu dan daerah lain. Kerja sama itu dilakukan dalam bidang budidaya tanaman obat.

Hasil budidaya tanaman obat tersebut diserap B2P2TOOT dan bisa dijual sendiri ke pasar ataupun industri. Hal itu diharapkan bisa membantu meningkatkan pendapatan rumah tangga. (RWN)

Sumber: Kompas, 6 Juni 2014

Informasi terkait

Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:40 WIB

Memahami Manusia dari Dua Jalan

Berita Terbaru

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB