Home / Berita / Longsor Paling Mematikan

Longsor Paling Mematikan

Kebakaran Hutan Paling Merugikan Sepanjang Sejarah
Longsor menjadi bencana alam paling mematikan di Tanah Air sepanjang tahun 2015 dengan korban 147 jiwa. Sementara dari aspek ekonomi, kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kerugian hingga Rp 221 triliun. Kerugian itu merupakan yang tertinggi dalam sejarah bencana di Indonesia.

Demikian evaluasi penanganan bencana 2015 dan prediksi bencana 2016, yang dipaparkan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (18/12) di Jakarta.

Sepanjang 2015 terjadi 1.582 bencana yang menewaskan 240 orang, 1,18 juta orang mengungsi, 24.365 rumah rusak (4.977 rusak berat, 3.461 rusak sedang, 15.927 rusak ringan), dan 484 unit fasilitas umum rusak. “Lebih dari 95 persen merupakan bencana hidrometeorologi. Puting beliung, longsor, dan banjir paling dominan,” ujarnya.

Dari sebarannya, lima provinsi paling banyak dilanda bencana adalah Jawa Tengah (363 kejadian), Jawa Timur (291 kejadian), Jawa Barat (209 kejadian), Sumatera Barat (93 kejadian), dan Aceh (85 kejadian). Dibandingkan jumlah bencana tahun 2014, menurut Sutopo, terjadi penurunan frekuensi hingga 20 persen. Demikian juga korban dan kerusakan bangunan akibat bencana juga turun signifikan dibandingkan tahun 2014 yang korbannya mencapai 622 jiwa.

“Penurunan jumlah korban jiwa dan kerusakan bangunan ini lebih disebabkan menurunnya frekuensi bencana hidrometeorologi tahun ini. Terlambatnya musim hujan menyebabkan banjir dan longsor yang biasanya menyumbang kerusakan dan korban tertinggi menurun frekuensinya,” ucapnya.

Melihat tren dalam 10 tahun terakhir, bencana hidrometeorologi masih akan mendominasi selama 2016. “Puncak bencana hidrometeorologi diprediksi terjadi pada Januari-Februari 2016,” kata Sutopo.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemungkinan fenomena La Nina menguat pada pertengahan 2016. Namun, dampaknya terasa di musim penghujan 2017 sehingga potensi banjir, longsor, dan puting beliung akan meningkat.

Menanggapi laporan itu, Staf Ahli Kebencanaan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono mengatakan, dominasi bencana hidrometeorologi disebabkan dalam beberapa tahun terakhir tak ada erupsi gunung api dan gempa bumi yang signifikan. Meskipun frekuensinya jarang dan belum bisa diprediksi, bencana geologi bisa sangat mematikan. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap bencana geologi tak boleh kendur.

Ke depan, mitigasi bencana harus lebih ditingkatkan daripada penanggulangan. Tanpa mitigasi, korban bencana akan terus terjadi. “Tantangannya, riset dasar kebencanaan masih amat minim sehingga banyak sumber bencana belum dikenali dengan baik ancamannya,” ujarnya dalam diskusi di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Kamis (17/12).

Surono mengingatkan agar tak menjadikan penanganan bencana sebagai proyek. Misalnya, beberapa badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) menyatakan, zona bahaya gunung api melebihi yang ditetapkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMG). “Mestinya, yang berwenang soal zona bahaya ialah PVMBG,” ucapnya.

Paling merugikan
Sutopo menambahkan, meskipun jumlah korban dan kerusakan bangunan menurun dibandingkan tahun sebelumnya, kerugian ekonomi akibat bencana tahun ini adalah yang tertinggi sepanjang sejarah. Kerugian ekonomi itu disumbangkan dari kebakaran hutan dan lahan yang mencapai Rp 221 triliun.

d8b7838506274290faed6ddpb-39297“Data kerugian ini dari perhitungan Bank Dunia yang dilaporkan kepada kami dalam rapat koordinasi baru-baru ini. Angka ini bahkan dua kali lipat di bandingkan kerugian ekonomi akibat gempa dan tsunami Aceh tahun 2004,” kata Sutopo.

Padahal, kerugian itu belum termasuk dampak terhadap kesehatan dan pendidikan. “Kebakaran hutan dan lahan tahun ini menyebabkan 24 orang meninggal dan lebih dari 600.000 jiwa menderita ISPA (infeksi saluran pernapasan akut),” ujarnya.

Kebakaran hutan dan lahan juga menyedot anggaran penanganan bencana. “Tahun ini BNPB mengeluarkan Rp 720 miliar untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan, dari total anggaran kami Rp 2,5 triliun. Biaya pemadaman kebakaran di luar dana dari kementerian lain,” kata Sutopo. (AIK)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Desember 2015, di halaman 13 dengan judul “Longsor Paling Mematikan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Perusahaan Mulai Bergerak ke Bisnis Ramah Lingkungan

Sejumlah perusahaan mulai bergerak ke model bisnis ramah lingkungan. Ini penting karena mengatasi isu lingkungan, ...

%d blogger menyukai ini: