3 Tahun, Longsor Tewaskan 369 Jiwa

- Editor

Rabu, 25 Juni 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Longsor salah satu bencana paling mematikan di Indonesia sehingga mendesak dimitigasi. Sejak 2012 hingga pertengahan 2014, longsor menewaskan 369 orang dan menyebabkan 16.332 orang luka-luka. Selasa (17/6), longsor kembali terjadi dan menewaskan tujuh warga Bogor, Jawa Barat.

Longsor menimbun lima rumah di Kampung Neglasari, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Selasa pukul 01.30. ”Enam orang ditemukan meninggal, 7 orang selamat, dan 3 orang masih dicari,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho. Data terakhir menyebutkan korban tewas 7 orang.

Menurut Sutopo, lima rumah warga dibangun di daerah rawan longsor berkemiringan 40-50 derajat. ”Longsor dipicu hujan deras sejak Senin malam. Masyarakat di daerah rawan longsor agar waspada karena BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) memprediksi, hujan berintensitas tinggi masih berpeluang di beberapa wilayah,” kata dia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tiga tahun terakhir, menurut Sutopo, longsor jadi bencana paling banyak menimbulkan korban jiwa. Berdasarkan data BNPB, sejak 2022 hingga pertengahan 2014, longsor terjadi 705 kali menyebabkan korban tewas 369 dan 16.332 luka.

dd27eec029b34e7e9dec76e44da4e80cJumlah rumah rusak berat mencapai 1.618 dan pengungsi akibat longsor 27.135 orang. Longsor juga merusak 26 sekolah, 4 fasilitas kesehatan, dan 49 rumah ibadah.

Sepanjang 2012 longsor terjadi 291 kali, tahun 2013 ada 296 kali, dan hingga Juni 2014 terjadi 118 kali. Dari kejadian ini, Jawa Barat merupakan kawasan yang paling banyak dilanda longsor.

”Separuh penduduk Indonesia, sekitar 124 juta jiwa tinggal di daerah rawan longsor di 274 kabupaten/kota,” kata dia.

Deteksi dini
Menurut ahli longsor dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan UGM Teuku Faisal Fathani, potensi bencana longsor sebenarnya dapat dipetakan dengan mempertimbangkan kondisi geomorfologi, geologi, tata guna lahan, dan curah hujannya. Namun, mengingat sumber longsor dan area terdampaknya relatif kecil dibanding bencana lain (gempa, banjir, gunung api, tsunami), hingga kini sulit memprediksi longsor terjadi di mana, kapan, dan seberapa besar.

”Maka, rencana mitigasi harus didahului survei investigasi detail untuk menentukan daerah mana paling tinggi risiko longsor,” kata Faisal, yang juga Koordinator World Center of Excellence bidang Pengurangan Risiko Bencana Longsor (ICL-UNESCO).

Mitigasi longsor bisa struktural dan nonstruktural. Struktural terkait keteknikan, nonstruktural lebih ke sosialisasi dan pemetaan risiko. (AIK)

Sumber: Kompas, 18 Juni 2014

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 43 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB