Home / Berita / Frekuensi Bencana Meningkat dari Tahun ke Tahun

Frekuensi Bencana Meningkat dari Tahun ke Tahun

BNPB merilis kenaikan tajam jumlah bencana dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2018, ada 2.564 kejadian bencana, sedangkan pada tahun ini (hingga 25 November), terdapat 3.326

Badan Nasional Penanggulangan Bencana pertengahan November lalu merilis rekapitulasi kejadian bencana yang terjadi sepanjang tahun 2019. Hal yang paling mencolok dari laporan ini adalah kenaikan tajam jumlah bencana dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2018, ada 2.564 kejadian bencana, sedangkan pada tahun ini (hingga 25 November), terdapat 3.326 kejadian bencana atau meningkat lebih dari 29 persen.

Dilihat dari kecenderungan dalam 10 tahun terakhir, kejadian bencana di Tanah Air memperlihatkan tren meningkat. Tahun 2009, jumlah kejadian bencana tercatat 1.245. Satu tahun kemudian (2010), angkanya meningkat menjadi 1.944 kejadian. Hingga akhir tahun 2015, jumlah bencana yang terjadi di Indonesia masih berada di kisaran kurang dari 2.000 kejadian per tahun. Akan tetapi, menginjak tahun 2016 hingga sekarang, jumlah bencana cenderung naik dan mencapai angka lebih dari 2.000 kejadian per tahun.

Puncaknya berlangsung pada tahun 2019. Sampai dengan menjelang akhir tahun ini, jumlah bencana yang terjadi di Tanah Air sudah lebih dari 3.326 kejadian. Jumlah tersebut adalah rekor tertinggi dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun terakhir.

Bencana hidrometeorologi
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, bencana alam yang menerpa wilayah Indonesia didominasi bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi adalah bencana alam yang terjadi sebagai dampak dari fenomena meteorologi atau cuaca, seperti curah hujan, kelembaban, temperatur, dan angin. Bencana ini menyebabkan banjir, tanah longsor, angin puting beliung, gelombang tinggi, gelombang panas, kekeringan lahan ataupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah-wilayah terdampak.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lebih dari 98 persen bencana alam yang terjadi di Indonesia termasuk kategori bencana hidrometeorologi. Pada 2019, misalnya, sejak Januari hingga pertengahan November, dari 3.326 kejadian bencana, 3.291 di antaranya adalah bencana hidrometeorologi. Jumlah kejadian bencana hidrometeorologi ini akan terus bertambah hingga akhir tahun, mengingat sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan.

Apabila dilihat lebih rinci berdasarkan jenis-jenisnya, seperti pada tahun-tahun sebelumnya, bencana hidrometeorologi didominasi angin puting beliung, banjir, tanah longsor, dan karhutla. Bencana yang paling banyak terjadi, menurut catatan BNPB, adalah bencana akibat angin puting beliung, yakni 1.081 kejadian. Pada peringkat kedua, bencana kebakaran hutan dan lahan dengan 708 kejadian. Bencana banjir dan disusul bencana tanah longsor berada di peringkat berikutnya dengan masing-masing sebanyak 690 dan 662 kejadian.

Kejadian bencana karhutla tahun ini meningkat secara tajam dibandingkan dengan kejadian bencana tahun 2018 yang hanya 370 kejadian. Jumlah bencana kebakaran, hutan, dan lahan tahun ini cukup meningkat dan cakupannya lebih luas dibandingkan tahun lalu.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas karhutla pada Januari hingga September 2019 tercatat 857.756 ha, dengan lahan mineral 630.451 ha dan gambut 227.304 ha. Rinciannya, luas lahan terbakar di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) 134.227 ha, Kalimantan Barat (Kalbar) 127.462 ha, Kalimantan Selatan (Kalsel) 113.454 ha, Riau 75.871 ha, Sumatera Selatan (Sumsel) 52.716 ha, dan Jambi 39.638 ha. Total luasan lahan hingga September 2019 ini merupakan yang paling besar dalam tiga tahun terakhir.

Hal inilah yang menyebabkan bencana karhutla di tahun 2019 menduduki peringkat kedua setelah bencana akibat puting beliung. Pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah kejadian bencana karhutla berada di posisi ke-4, atau di bawah puting beliung, banjir dan tanah longsor. Kendati bencana karhutla meningkat tajam tahun ini, jumlahnya masih jauh lebih sedikit dibandingkan tahun 2015. Tercatat 2,6 juta hektar hutan dan lahan terbakar di tahun 2015.

Posisi bencana karhutla bisa jadi akan tergeser oleh bencana banjir dan tanah longsor hingga mendekati akhir tahun ini. Penyebabnya, di akhir Desember ini, sebagian wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan dan sebagian lagi dalam masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan. Pada periode musim seperti ini, bencana seperti banjir, tanah longsor, ataupun angin puting beliung akan cenderung semakin banyak terjadi.

Tahun ini, kejadian bencana yang tidak disebabkan fenomena hidrometeorologi, yakni bencana geologi, hanya terjadi 35 kali. Menurut catatan BNPB, di sepanjang tahun 2019, setidaknya terdapat 28 gempa bumi dan tujuh kali erupsi/letusan gunung api.

Kerugian bencana
Ditilik dari kerugian yang ditimbulkan akibat bencana, angkanya pada tahun 2019 jauh lebih kecil dibandingkan tahun 2018. Jumlah korban jiwa yang ditimbulkan oleh bencana hingga akhir November ini 461 orang dan 107 orang hilang. Korban yang luka-luka tercatat 3.336 jiwa. Sementara itu, ada 5.958.208 orang yang menderita dan sebagian terpaksa harus mengungsi akibat terdampak bencana.

Kerugian lain yang ditimbulkan oleh bencana adalah kerusakan bangunan, seperti rumah, kantor ataupun fasilitas-fasilitas lain di sekitar daerah bencana. Pada tahun ini, akibat bencana, 67.279 rumah, terdiri dari 14.979 unit rusak berat, 13.686 unit rusak sedang, dan 38.614 unit rusak ringan. Kerusakan kantor akibat bencana dialami 257 unit dan jembatan 409 unit. Sementara itu, kerusakan fasilitas akibat bencana 1.925 unit yang terdiri dari 1.074 fasilitas pendidikan, 644 fasilitas peribadatan, dan 207 fasilitas kesehatan.

Kerugian akibat bencana tahun 2018 sangat tinggi dibandingkan tahun 2019 dan tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya, pada tahun 2018, terdapat bencana gempa bumi dan tsunami, seperti gempa bumi di Lombok serta gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi di beberapa wilayah Sulawesi Tengah yang menelan kerugian yang sangat besar, baik kerugian jiwa, bangunan, maupun fasilitas-fasilitas umum lain.

Tahun 2018, ada 2.426 kejadian bencana atau jauh lebih kecil daripada tahun ini, tetapi mengakibatkan korban jiwa hingga 4.231 orang meninggal dan 6.948 orang dinyatakan hilang. Tak hanya itu, jumlah korban yang terdampak dan mengungsi jumlahnya hingga sekitar 9,9 juta orang.

Gempa bumi yang diikuti dengan tsunami dan likuefaksi yang terjadi di Palu dan beberapa wilayah di Sulawei Tengah mengakibatkan dampak yang sangat besar. Kendati kejadian bencananya hanya satu kali, hal itu menyebabkan 3.397 orang meninggal, 4.426 orang luka-luka, 221.450 orang mengungsi dan terdampak, serta 69.139 rumah rusak berat. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila kerugian akibat bencana tahun 2018 melonjak jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelum maupun dibandingkan tahun 2019.

Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan. Konsekuensinya, ancaman bencana hidrometeorologi meningkat, seiring intensitas hujan yang semakin tinggi. Upaya-upaya untuk mengurangi risiko akibat bencana atau mitigasi bencana harus menjadi perhatian semua pihak terkait.

Di sisi masyarakat, misalnya, bagaimana mereka mengolah dan memanfaatkan lahan untuk pertanian, perkebunan, ataupun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apabila metode yang digunakan tidak tepat atau tak disesuaikan dengan kondisi yang ada, bisa memicu bencana. Perlu ada perubahan perilaku masyarakat dalam pengolahan lahan.

Perlu dihindari pemanfaatan lahan di bagian hulu sungai yang bisa menyebabkan lahan menjadi gembur. Hal ini akan berpotensi mengakibatkan bencana tanah longsor jika intensitas hujan semakin tinggi. Selain itu, diperlukan juga pembangunan infrastruktur bangunan untuk mempertahankan kapasitas aliran, seperti pembangunan tanggul dan pengerukan aliran sungai. Di sisi pemerintah, perlu diimbangi dengan keseriusan, baik itu dari pemerintah pusat maupun daerah, dalam penanganan bencana secara profesional. (Litbang Kompas)

Oleh ANUNG WEDYARTAKA

Sumber: Kompas, 19 Desember 2019

Share
x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: