Home / Berita / Frekuensi Gempa Bumi Terus Meningkat

Frekuensi Gempa Bumi Terus Meningkat

Jumlah gempa bumi di Indonesia terus meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Dibandingkan dengan tahun 2013, jumlah gempa bumi hingga bulan September 2018 ini sudah lebih dari dua kali lipatnya. Peningkatan jumlah gempa ini meningkatkan risiko bencana, mengingat zona-zona bahaya semakin padat penduduknya.

Data Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) peningkatan jumlah gempa bumi dalam setahun mulai terekam sejak 2009. Jika pada tahun 2008 jumlah gempa yang terekam sebanyak 4.138 kali dan menjadi 4.390 kali pada 2009. Pada tahun 2010 jumlah gempa sebanyak 5.933 kali, kemudian turun menjadi 4.378 kali pada 2011, sebelum kembali melonjak pada 2012menjadi 6.863 kali. Pada tahun 2013, jumlah gempa bumi 4.234 kali dan terus bertambah hingga menjadi 7.172 kali tahun 2017.

–Jumlah korban bencana di Indonesia pada 2018 bertambah tinggi dibandingkan sebelumnya. Sumber: BNPB 2018

“Hingga September 2018 saja jumlah gempa yang terjadi sudah mencapai 8.552. Pada akhir tahun ini jumlahnya dapat mencapai 9.000-an kali,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono, di Jakarta, Minggu (18/11/2018).

Menurut Daryono, setelah tahun 2008 BMKG menambah jaringan digital seismometer dan hingga saat ini jumlahnya mencapai 170 sensor gempa. Hal ini diperkirakan turut meningkatkan akurasi pemantauan gempa bumi yang terjadi.

“Namun, penambahan jumlah sensor ini tidak serta merta meningkatkan jumlah data. Jika kita lihat pada tahun 2013 setelah ada penambahan sensor jumlah gempa yang terdeteksi malah turun dibandingkan tahun sebelumnya.Jadi, memang ada jumlah gempa yang terjadi ada peningkatan,” ujarnya.

Menurut Daryono, peningkatan jumlah gempa ini bisa disebabkan terjadinya gempa-gempa besar diikuti oleh rangkaian gempa susulan (aftershocks) amat banyak. “Gempa susulan yang terjadi dapat jadi penyumbang meningkatnya aktivitas gempa pada tahun kejadian gempa signifikan itu,” ucapnya.

–Frekuensi gempa di Indonesia menunjukkan tren yang terus meningkat sejak lima tahun terakhir.

Selain itu, patut diduga adanya faktor endogen dari dalam Bumi yang memicu zona seismogenik semakin aktif memicu gempa. “Hal ini sangat menarik untuk dikaji dan tentunya menjadi tantangan bagi para ahli kebumian untuk mengungkap penyebabnya,” kata Daryono.

Risiko meningkat
Tren peningkatan jumlah gempa bumi tahun ini, telah diperingatkan Roger Bilham dari Universitas Colorado dan Rebecca Bendick dari Universitas Montana, dalam risetnya yang telah dipublikasikan di Geophysical Research Letters pada Agustus 2017 dan dipresentasikan pada pertemuan tahunan Geological Society of America akhir Oktober 2017.

Dalam studinya, Bilham dan Bendick menyebut, data statistik sejak 1900 menunjukkan adanya kaitan antara kenaikan jumlah gempa besar secara global dengan perlambatan rotasi Bumi setelah memasuki periode 5-6 tahun. Siklus ini terjadi tiap 32 tahun sekali. Tahun 2018 disebut sebagai awal siklus meningkatnya gempa besar itu.

Menurut kajian ini, jika pada tahun-tahun biasanya gempa-gempa besar terjadi rata-rata 15 kali setahun di seluruh belahan dunia, dalam siklus 32 tahunan terjadi rata-rata 25-30 gempa besar dalam setahun. Dua peneliti itu lalu mencari anomali ini dan menyimpulkan, peningkatan aktivitas gempa itu terjadi setelah sekitar rotasi Bumi melambat milidetik dalam sehari.

Secara terpisah, profesor geologi dari Brigham Young University, Amerika Serikat, Ron Harris, dalam diskusi di Pusat Studi Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bandung, juga menyatakan, berdasarkan data historis, Indonesia memiliki siklus gempa-gempa besar, sebelum kemudian sepi dari gempa. Dia beranggapan, setelah gempa Aceh tahun 2004, Indonesia memasuki siklus gempa besar (Kompas, 15 Juni 2017).

–Risiko gempa meningkat seiring pertambahan penduduk yang tinggal di zona bahaya. Sumber: Harris, 2017

Dokumen sejarah kegempaan yang menjadi rujukan terutama adalah katalog gempa dan tsunami di Indonesia pada periode 1538-1877 yang disusun Wichmann (1919).Disebutkan, sejak abad ke-16, telah terjadi sekitar 1.000 gempa bumi besar, 95 tsunami, dan 1.300 letusan gunung api.

Risiko gempa bumi di Indonesia meningkat karena jumlah penduduk yang tinggal di zona bahaya cenderung bertambah. Jumlah populasi di Indonesia meningkat 10 kali sejak 1950-an, yang artinya risiko bencananya berlipat 10 kali.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dan hilang akibat bencana di Indonesia naik 1.418,48 persen dari 276 orang pada 2017 menjadi 4.191 orang pada 2018. Sedangkan korban luka-luka 2018 naik 700,82 persen dari 858 orang pada 2017 menjadi 6.871 orang pada 2018. Sebagian besar jumlah korban bencana ini disumbangkan oleh gempa bumi di Lombok dan gempa serta tsunami di Sulawesi Tengah.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 19 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...