Home / Berita / Longsor Masih Paling Mematikan

Longsor Masih Paling Mematikan

Longsor menjadi bencana paling mematikan di Indonesia sepanjang tahun 2014 dengan korban jiwa mencapai 372 orang. Tanpa perbaikan mitigasi, bencana jenis hidrometeorologi ini dikhawatirkan akan kembali menelan banyak korban pada musim hujan kali ini.

Peneliti longsor pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Edi Prasetyo Utomo, di Jakarta, Jumat (4/12), mengatakan, kesiagaan menghadapi longsor masih belum memadai. “Padahal, longsor itu sifatnya berulang. Biasanya tidak jauh dari area longsor sebelumnya,” katanya.

Sepuluh hari terakhir, longsor terjadi di delapan lokasi dan menimbulkan banyak korban. Pada 24 November, longsor terjadi di Tajur Halang, Kota Bogor, menyebabkan jalur kereta Jakarta-Bogor terputus. Sehari kemudian, longsor terjadi di Jorong Limo Badak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan memutus jalur alternatif Padang-Bukittinggi. Pada hari yang sama, longsor terjadi di Desa Karangmukti, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menewaskan satu orang.

Pada 27 November, longsor terjadi di Desa Karanganyar, Ciamis, Jawa Barat, mengubur dua rumah. Pada 29 November, longsor terjadi di Desa Tanjungsari, Cijeruk, Kabupaten Bogor, menyebabkan tiga orang luka berat dan merusak empat rumah.

Berikutnya, dalam tiga hari berturut-turut terjadi longsor, yaitu di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada Selasa (1/12) yang menewaskan dua orang dan 9 luka-luka. Rabu (2/12) sore, longsor terjadi di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Malang, Jawa Timur, menyebabkan 3 orang luka. Keesokan harinya, Kamis, longsor terjadi di Lebong Tandai, Bengkulu Utara, mengubur 18 orang.

Ancaman longsor ke depan dinilai semakin tinggi. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pada Desember 2015 hujan dengan curah lebih dari 300 milimeter berpotensi terjadi di sebagian besar Sumatera, Jawa Barat bagian tengah dan selatan, serta perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta Kalimantan Barat.

“Selain topografi, kondisi cuaca harus juga menjadi pertimbangan antisipasi longsor. Misalnya, sepanjang Bukit Barisan, banyak batuan gembur yang jika hujan sedikit saja bisa longsor,” kata Edi.

Mitigasi longsor
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, saat ini ada 40,9 juta penduduk yang terpapar bahaya longsor yang tersebar di 274 kabupaten/kota. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, salah satu upaya mitigasi longsor adalah dengan memasang sistem peringatan dini.

Menurut Sutopo, BNPB bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah memasang 20 unit peringatan dini, yaitu 10 unit di Jawa Tengah dan 10 unit di Jawa Barat. Dalam waktu dekat akan dilanjutkan pemasangan 20 unit lagi.

Dalam beberapa kasus, sistem itu mampu menyelamatkan warga, seperti yang dipasang UGM di Karanganyar, Jawa Tengah. “Namun, saat ini sistem peringatan dini yang terpasang di daerah rawan longsor di Indonesia masih sangat terbatas. Mungkin hanya sekitar seratus jumlahnya dari kebutuhan ratusan ribu unit,” kata Sutopo. (AIK)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Desember 2015, di halaman 14 dengan judul “Longsor Masih Paling Mematikan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: