Home / Berita / Layanan Daring Jadi Masa Depan Industri Musik

Layanan Daring Jadi Masa Depan Industri Musik

Pemasaran musik lokal berubah dari bentuk fisik menjadi digital untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Label yang memasarkan musik lokal merambah ke berbagai platform penyedia layanan musik berbasis daring untuk mempromosikan artis-artisnya. Aplikasi layanan musik daring dinilai bakal menjadi masa depan industri musik di Tanah Air.

Marketing and International Business Manager PT Musica Studio’s Drian S Nugroho menyatakan, musik dalam format digital telah muncul sekitar tahun 2005 dan meningkat pada tahun 2013. Sementara penjualan fisik album semakin menurun dari tahun ke tahun.

”Platform penyedia layanan musik berbasis daring (streaming) akan menjadi masa depan industri musik,” ujar Drian, seusai Konferensi Pers Pencapaian Aplikasi Streaming Musik Nada Kita 2 Juta Pengguna di Jakarta, Senin (22/1). Perkembangan dunia digital juga mengubah cara musisi berinteraksi dengan penggemar.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Para pengunjung penggemar kaset dan pedagang kaset berbaur dalam acara Festival Kaset Bandung 2017 di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan, Bandung, Jawa Barat, 3 September. Seiring perkembangan teknologi digital, pemasaran musik, termasuk dari musisi lokal Tanah Air, kini menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, yakni menggunakan layanan aplikasi musik daring, seperti Spotify, Joox dan Nadakita.

Platform penyedia layanan musik berbasis daring (streaming) akan menjadi masa depan industri musik.

Ia menyatakan, pasar saat ini lebih fokus untuk mendengarkan singel ketimbang album. Kecenderungan tersebut membuat industri musik ikut beradaptasi. Pemasaran lebih fokus dilakukan pada lagu yang memiliki nilai jual tinggi. Ketika publik mulai bosan, label akan memasarkan lagu lainnya. Dalam jangka waktu tertentu, singel-singel tersebut akan disatukan menjadi sebuah album.

KOMPAS/MEDIANA (MED)–MixRadio, layanan streaming musik, menjadi aplikasi musik nomor satu di App Store Indonesia sejak diluncurkan awal pekan Juni. Hasil penelitian dari pihak MixRadio menunjukkan, 53 persen dari pengguna telepon pintar di Indonesia menggunakan streaming musik dan lama mendengarkan 2,18 jam per hari.

Kendati demikian, budaya streaming di Indonesia belum seperti di negara maju. Masyarakat Indonesia masih mengutamakan streaming lagu secara gratis. Pilihan masyarakat untuk menikmati musik melalui layanan aplikasi yang dapat diunduh di ponsel pintar mereka juga semakin banyak. Mulai dari aplikasi Spotify dari Swedia, Joox buatan China, hingga NadaKita, diunduh jutaan pengguna ponsel pintar di Indonesia.

Drian mengatakan, peralihan bentuk pemasaran ini belum menghasilkan keuntungan yang dapat dihitung sebab industri musik masih berada pada masa peralihan.

Chief Operating Officer (COO) SPC Mobile Raymond Tedjokusumo mengatakan, mayoritas masyarakat Indonesia lebih menyukai musisi lokal ketimbang musisi mancanegara. SPC Mobile sebagai merek produk ponsel lokal milik PT Supertone bekerja sama dengan aplikasi Nada Kita mempromosikan musik lokal.

Nada Kita adalah aplikasi gratis untuk mendengarkan musik lokal secara daring yang dibuat oleh perusahaan teknologi Tuned Global asal Australia. Label musik Indonesia, seperti Aquarius Musikindo, Musica Studio’s, MyMusic, Nagaswara, Trinity, dan VMC, turut memasarkan artis-artis lokal melalui aplikasi tersebut.

ELSA EMIRIA LEBA UNTUK KOMPAS–Konferensi Pers Pencapaian Aplikasi Streaming Musik Nada Kita 2 Juta Pengguna di Jakarta, Senin (22/1). Tampak dari kiri ke kanan, Marketing and International Business Manager PT Musica Studio Drian S Nugroho, Marketing Manager Nada Kita-Tuned Global Muara Sipahutar, Co-founder Nada Kita-Tuned Global Con Raso, dan Chief Operating Officer (COO) SPC Mobile Raymond Tedjokusumo

Kegemaran mendengarkan musik lokal terlihat dari capaian Nada Kita, yakni sekitar 2,1 juta pendengar aktif, sejak diluncurkan pada September 2016. Perolehan angka itu dinyatakan termasuk berkategori tinggi.

Dari sekitar 2,1 juta pendengar aktif, mayoritas berusia 18-35 tahun yang mencapai 80 persen dari total pendengar. Mereka terdiri dari 55 persen laki-laki dan 45 persen perempuan. Rata-rata waktu yang dihabiskan untuk mendengarkan lagu minimal 30 menit per hari. Mayoritas aliran lagu yang didengar adalah dangdut dan pop melayu.

Sementara itu, Indonesia masih memiliki pangsa pasar yang besar. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, sebanyak 132,7 juta orang dari 256,2 juta penduduk Indonesia terkoneksi dengan internet. Adapun data dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 memperkirakan, jumlah penduduk kelompok umur 15-34 tahun adalah 85,7 juta orang.

Marketing Manager Nada Kita-Tuned Global Muara Sipahutar menyatakan, penikmat musik internasional sebagian besar berasal dari kota besar, salah satunya Jakarta. Namun, masyarakat yang berasal dari kota lain masih menikmati musik lokal, antara lain Yogyakarta, Jember, Bandung, Cirebon, Tangerang, dan Bekasi.

Promosi lewat musik lokal
Co-founder Nada Kita-Tuned Global Con Raso mengatakan, metode pemasaran suatu produk akan semakin efektif ketika diiringi dengan lagu favorit pendengar. Musik adalah hal emosional sehingga lebih efektif dalam membina suatu komunikasi dan hubungan pada sesuatu. Produk suatu perusahaan yang ingin beriklan dapat diiringi dengan daftar lagu lokal yang memiliki tema sesuai dengan image ataupun jenis produk (brand channel).

Raymond menambahkan, strategi pemasaran dapat lebih mengena kepada publik ketika musik lokal digunakan sebagai medium pemasaran kepada masyarakat dibandingkan musik luar negeri. ”Interaksi produk dengan pengguna akan berada pada level yang lebih baik,” katanya.

Berdasarkan data Nada Kita, pemasaran iklan menggunakan gambar yang dipadukan dengan suara meningkatkan jumlah klik (clik through rate/CTR) hingga 13 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada iklan gambar yang dipasang dalam sebuah aplikasi yang rata-rata jumlah klik hanya 1-2 persen. CTR adalah perbandingan jumlah klik yang diterima sebuah iklan dengan jumlah tampilan di sebuah media digital.

”Semakin banyak indera manusia yang terekspos pada pemasaran suatu produk, produk tersebut akan semakin diingat,” kata Muara. Pemasaran produk dengan media audio dan visual dinilai lebih berdampak karena menyentuh indera penglihatan dan pendengaran.

Ia menjelaskan, nama produk tersebut akan disebut sebagai sponsor yang membayar akses musik gratis bagi pendengar di sela dua hingga tiga lagu yang diputar dalam daftar lagu yang sementara diputar. Suara iklan akan diputar selama 8-15 detik, sedangkan gambar produk selama 30 detik. Gambar iklan dapat langsung hilang ketika pendengar mengekliknya.

Strategi serupa juga dilakukan aplikasi layanan musik daring lainnya, seperti Spotify dari Swedia dan Joox asal China. (DD13)

Sumber: Kompas, 23 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: