Home / Berita / Musik Indah dalam Genggaman

Musik Indah dalam Genggaman

Bergugurannya toko-toko yang menjual CD belakangan ini tidak lantas bisa disimpulkan sebagai ambrolnya bisnis rekaman musik. Usaha penjualan rekaman dalam media cakram optis rupanya memang sedang bermetamorfosis dari basis toko fisik ke toko daring menyusul perkembangan teknologi yang dahsyat.

Bagi mereka yang pada masa remajanya akrab dengan walkman, pemutar musik yang bisa diselipkan di sabuk atau bahkan dalam saku, perubahan yang terjadi sekarang sudah sangat luar biasa. Walkman, yang usianya sudah lebih dari 35 tahun, awalnya mengandalkan pita kaset sebagai media rekam, dan dalam perjalanannya mencoba beradaptasi dengan kemajuan, termasuk dengan media CD optis dan sekarang kartu memori.

Pada awalnya memang orang hanya tahu walkman adalah Sony. Namun, berkembangnya musik berformat digital mulai mengaburkan pamor raksasa elektronik Jepang itu. Dan, sekarang semua perangkat telepon seluler bisa memutar musik digital sehingga tidak bisa lagi dibedakan mana yang keturunan walkman dan mana yang bukan.

Format musik digital juga berkembang dengan banyak metode, tetapi yang paling dikenal format MP3. Memang secara kualitas tidak semua penggemar musik mengakuinya. Namun, bagi mereka yang memulai hiburannya dari pita analog, berkas terkompresi itu sudah jauh lebih baik, sudah sulit dibedakan dengan cakram CD.

1b9ca389b13e49ec96cf494e514901d8KOMPAS/AW SUBARKAH–Xperia Z5 berpasangan dengan sistem audio mungil berteknologi NFC.

Ada kekurangannya memang, terutama dalam mengkodekan komposisi musik rumit, sebut saja semacam orkestra yang mengandalkan banyak instrumen musik. Sistem kompresi data MP3, termasuk juga MP4, membuat tidak semua suara musik bisa direproduksi secara sempurna, bahkan tidak jarang memunculkan suara tertentu menjadi sangat dominan, katakanlah pada bas atau drum. Tentu ini sangat mengganggu komposisi.

”Paling hanya empat sampai enam suara musik yang bisa direproduksi dengan baik, tergantung kualitas kompresi yang digunakan,” kata Ika Paramita, Head of Marketing PT Sony Mobile Communications Indonesia, belum lama ini. Maka tidaklah mengherankan apabila masih ada yang meragukan kualitasnya, terutama bagi mereka yang biasa menikmati alunan musik pada sistem audio besar.

Meskipun demikian, untuk kebutuhan perangkat seperti ponsel yang sangat terbatas ruangannya, format MP3 sudah merupakan solusi dan kualitasnya sudah jauh lebih baik dari pita kaset analog. Bahkan, bagi orang kebanyakan tidak sedikit yang mengira format itu yang sudah dianggap paling sempurna.

Resolusi tinggi
Berkembangnya ponsel sebagai perangkat pemutar musik digital membuat cara menikmati musik dengan kualitas tinggi sekarang ini tidak lagi menjadi monopoli perangkat audio besar. Ponsel generasi terbaru dengan kecepatan luar biasa sudah memungkinkan untuk melakukannya tanpa kehilangan detail.

Pada awalnya perusahaan-perusahaan elektronik yang tidak puas dengan kualitas CD memang sudah lebih dahulu mengembangkan mutu hifi pada media optis. Muncullah format SACD (Super Audio Compact Disc) pada 16 tahun lalu dan setahun kemudian format DVD-Audio, tetapi keduanya kurang diterima pasar secara luas.

Hancurnya masa depan CD berdefinisi tinggi terutama semakin murahnya harga kartu memori dan kapasitas yang tidak bisa ditandingi cakram optis, terutama untuk penggunaan ruang yang sempit. Demikian pula nasib audio resolusi tinggi pada cakram lain seperti Pure Audio Blu-ray dan High Fidelity Pure Audio yang nyaris namanya saja tidak dikenal khalayak.

Sang pemilik walkman kali ini kembali membuat terobosan dengan mengembangkan sistem audio resolusi tinggi (Hi-Res). Kepakarannya dalam teknologi elektronik dicangkokkan dalam perangkat ponsel yang merupakan bisnis andalan perusahaan Jepang itu, terutama pada produk Xperia Z5 yang bulan lalu diluncurkan di Jakarta.

Perangkat yang hanya seberat 138 gram ini sudah mampu menangani musik-musik serius tanpa kehilangan detail, dan untuk dimainkan pada sistem audio rumahan sudah tidak disangsikan lagi kualitasnya. Pabrikan Jepang ini juga sudah mengembangkan teknologi interface antara gawai dengan sistem audio dengan teknologi nirkabel baru yang mereka namai LDAC.

Teknologi antarmuka berbasis bluetooth ini bisa mentransmisikan data tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan bluetooth biasa. Transmisi kecepatan tinggi ini memungkinkan perangkat kecil mereproduksi suara kualitas tinggi pada sistem audio yang lain.

”Tentu saja untuk bisa memutar musik Hi-Res selain perangkat lunak, juga perangkat keras yang bisa mendukung,” lanjut Ika.

Teknologi yang dikembangkan Sony memang tidak ada di luar perusahaan itu sehingga banyak produk serupa yang sebenarnya tidak kompatibel dengan perangkat buatan perusahaan lain.

Perkembangan teknologi inilah yang ikut memicu metamorfosis bisnis rekaman musik. Maraknya penjualan secara daring, termasuk berkas beresolusi tinggi, terutama karena meningkatnya kecepatan jaringan seluler yang sudah memasuki generasi ke-4 (4G). Selain dari berkas-berkas film yang besar juga belakangan ini di negara-negara maju operator meningkatkan pendapatannya dari musik beresolusi tinggi.

”Memang data Hi-Res bisa sampai 10 kali lipat berkas MP3 biasa sehingga memang diperlukan kecepatan yang lebih tinggi,” kata Ika. Z5 juga sudah memiliki kemampuan akses 4G untuk bisa mengunduh berkas dengan kecepatan tinggi sehingga semakin mempermudah pengguna gawai.

Faktor lain yang menentukan memudarnya penggunaan cakram optis juga karena dukungan kemampuan gawai yang paling tidak setahun belakangan ini sudah sangat pesat. Prosesor 64-bit seperti yang digunakan pada Xperia Z5 merupakan kunci kecepatan pengolahan data yang berat. Beberapa ponsel premium dari produk lain juga sudah mulai menggunakannya.

Bahkan, setiap pembelian Xperia Z5 mendapatkan fasilitas unduh gratis lagu-lagu secara legal. Ada sekitar 1,5 juta koleksi lagu yang berasal dari Sony Music Global, Sony Music Indonesia, selain juga produksi Trinity Music dan Musica Indonesia. ”Setiap lagu yang diunduh sah menjadi milik pengguna Z5,” ujar Ika.

Jelas semua ini memberikan kontribusi satu lagi faktor yang mengurangi minat penggemar audio membeli cakram optis. Nasib CD akhirnya akan mengikuti pendahulunya, piringan hitam, sekalipun tidak hilang, segmentasinya menjadi semakin sempit. (AW SUBARKAH)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Desember 2015, di halaman 30 dengan judul “Musik Indah dalam Genggaman”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: