Home / Berita / Kerja Bersama Mencegah ”Si Kerdil” Punah

Kerja Bersama Mencegah ”Si Kerdil” Punah

Di bagian utara daratan Borneo, tepatnya di Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, Kalimatan Utara, diperkirakan masih tersisa 30-80 ekor gajah kalimantan. Spesies gajah ini unik, merupakan gajah terkecil di dunia.

Akan tetapi, gajah kerdil ini justru terancam punah. Alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan mengancam kelestariannya. Sejumlah kelompok dan pemerintah pun bekerja bersama memastikan habitat dan populasi ”si Kerdil” di jantung Borneo terus terjaga.

DOKUMENTASI WWF-INDONESIA–Dua orang anggota tim lapangan yang terlibat dalam proses survei populasi dan habitat gajah kalimantan mengukur panjang bekas tapak kaki gajah. Pendataan populasi dan habitat gajah kalimantan bisa diidentifikasi dari jejak kaki, tempat makan, kubangan bekas gajah, kotoran, serta bekas gesekan pada batang ataupun dahan pohon.

Senin (8/4/2019) pagi, Agus Suyitno (37) memanggul ransel seberat 15-20 kilogram bersiap menelusuri hutan di Kecamatan Tulin Onsoi. Ia bersama 39 anggota tim survei lapangan populasi dan habitat gajah kalimantan sudah berkumpul di Desa Balatikon, Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) sejak semalam.

Musim masih belum menentu, bisa hujan, bisa juga panas terik. Untuk itu, mereka harus bersiap menghadapi kemungkinan yang ada. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan survei tidak singkat. Mereka harus menyusuri hutan selama sepekan dengan berjalan kaki. Itu pun bisa lebih jika masih diperlukan. Dari satu titik pengamatan, tim akan berpindah ke titik lain. Barang yang ada di dalam ransel mereka itulah yang menjadi bekal selama di hutan.

Survei lapangan ini merupakan salah satu upaya untuk memperbarui data populasi dan habitat gajah kalimantan. Informasi mengenai gajah dengan nama latin Elephas maximus borneensis itu terakhir didata pada 2012.

Kali ini survei dilakukan oleh organisasi nonpemerintah lingkungan internasional, World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia, bersama lembaga lain, seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKDSA) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalimantan Timur, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nunukan, Satuan Tugas Konflik Gajah dan Masyarakat Kabupaten Nunukan, akademisi, serta pihak swasta, yaitu PT Adimitra Lestari.

ARSIP WWF INDONESIA–Anggota tim survei populasi dan habitat gajah kalimantan mengukur dahan yang menunjukkan tanda diduga ada bekas gesekan gajah kalimantan.

Dari survei pada 2012 terungkap, populasi gajah kalimantan di Kaltara berkisar 30-80 ekor. Berkisar 5-20 ekor merupakan gajah jantan. ”Itu sudah cukup lama, hampir tujuh tahun yang lalu. Dalam rentan waktu itu tentunya perlu diperbarui bagaimana situasi dan kondisi gajah kalimantan, termasuk kawasan hutan sebagai habitatnya, juga kemungkinan ancaman yang terjadi di lapangan,” kata Agus.

Gajah, yang berada di kawasan inisiatif ”Heart of Borneo”, ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki jenis gajah lain. Jika gajah sumatera bisa setinggi 3 meter, tinggi gajah kalimantan maksimal 2,5 meter. Selain itu, daun telinganya lebih lebar, ekornya panjang sampai menyentuh tanah, serta gading lebih lurus daripada gajah pada umumnya.

Binatang buas
Agus mengakui, survei habitat dan populasi gajah kalimantan tidak mudah. Berbagai risiko bisa terjadi, termasuk bertemu binatang buas di tengah hutan.

Macan dahan dan beruang hitam seakan menjadi teman dalam perjalanan. Agus berkisah, ia digigit ular derik hijau yang berbisa pada survei tahun 2012. Tidak sampai 5 menit, kakinya bengkak dan terasa seperti lumpuh. Untuk evakuasi ke luar hutan, ia perlu digotong berjalan kaki selama dua hari.

DOKUMENTASI WWF INDONESIA–Anggota tim survei lapangan populasi dan habitat gajah kalimantan menyusuri wilayah yang menjadi habitat gajah kalimantan.

Untuk mencapai lokasi survei pun, perlu usaha yang tidak ringan. Medan yang dilalui cukup berat. Tim harus melintasi sungai dengan jeram yang deras serta tebing-tebing yang cukup tinggi.

Di daerah dengan ketinggian lebih dari 100 meter di atas permukaan laut itu terdapat lembah dan sungai yang biasa digunakan gajah untuk bergerak dan mencari makan. Ada pula koridor yang diduga sebagai lintasan gajah dari Sabah, Malaysia, ke Nunukan, Kalimantan Utara, ataupun sebaliknya.

Suatu kali pada survei sebelumnya ada salah seorang rekan mengalami kecelakaan saat melakukan survei dengan menyusuri sungai. Perahu yang ditumpangi terbalik akibat jeram deras dan menabrak batu besar. Beruntungnya, rekan tersebut bisa diselamatkan.

”Bukankah setiap pekerjaan selalu ada risiko? Kami tidak pernah kapok melakukannya karena dalam diri kami sudah tertanam untuk melestarikan alam. Upaya ini merupakan salah satu untuk bisa mewujudkannya,” ucap Agus, Species Specialist Staff Kayan Landscape WWF Indonesia untuk Mitigasi Konflik Gajah-Manusia.

Selain Agus, ada juga Antonius (36) dalam survei yang sudah masuk pada tahap keenam ini. Menurut dia, pendataan terkait habitat dan populasi gajah kalimantan sangat penting untuk memastikan eksistensi binatang ini tetap terjaga.

ARSIP WWF INDONESIA–Tim survei lapangan habitat dan populasi gajah kalimantan beristirahat dan menikmati makan siang bersama.

Metode survei yang digunakan adalah metode okupansi dengan total luas area sekitar 100.000 hektar. Kawasan-kawasan yang berpotensi menjadi habitat gajah akan diamati. Setidaknya ada 40 batasan wilayah (grid) dengan luasan lima kali lima kilometer yang menjadi fokus pengamatan. Setiap batasan wilayah ini menjadi fokus pengamatan dalam menemukan tanda-tanda keberadaan gajah kalimantan.

Habitat
Semua tanda yang ditemukan seakan seperti permata yang berharga. Tak perlu bertemu langsung dengan fisik gajah kerdil ini, tanda lain seperti kotoran, tempat bekas gajah berkubang, bekas makanan, ataupun dahan serta batang yang menunjukkan bekas gesekan gajah kalimantan sudah memberikan kepuasan bagi tim di lapangan.

”Tanda-tanda itu yang membuktikan gajah kalimantan masih ada, masih eksis. Habitatnya pun berarti masih sama. Tinggal dipastikan populasinya terjaga, kalau perlu bertambah,” ucapnya.

Habitat gajah kalimantan berada di luar kawasan konservasi. Secara rinci, sekitar 74 persen habitat gajah berada di kawasan hutan produksi, 16 persen berada di kawasan alokasi penggunaan lain (APL), dan 10 persen di kawasan hutan lindung. Berdasarkan hasil penarikan garis batas (delineasi), habitat gajah kalimantan pada 2007 seluas 93.800 hektar, 16 persen di antaranya terpantau sudah rusak.

”Untuk itu, pendataan populasi dan habitat gajah kalimantan harus diselesaikan. Hasilnya akan menjadi rekomendasi dalam advokasi rencana tata ruang wilayah, baik bagi pemerintah daerah Kabupaten Nunukan maupun Provinsi Kalimantan Utara agar memperhatikan habitat gajah ini,” ujar Anton.

Sampai saat ini, tim survei masih berada di lapangan. Proses masih panjang untuk bisa mendapatkan data akurat terkait populasi dan habitat ”si Kerdil” yang terancam punah ini. Meski demikian, seluruh anggota tim berharap dari proses panjang yang harus dilalui, usia dan keberadaan gajah kalimantan pun bisa panjang di Tanah Borneo.–DEONISIA ARLINTA

Editor HAMZIRWAN HAM

Sumber: Kompas, 14 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: