Home / Berita / Data Populasi dan Habitat Gajah Kalimantan Diperbarui

Data Populasi dan Habitat Gajah Kalimantan Diperbarui

Survei gajah kalimantan kembali dilakukan untuk memperbarui data terkait populasi dan habitat hewan yang terancam punah itu. Data ini dinilai penting sebagai dasar pengambilan keputusan untuk implementasi konservasi gajah di Kalimantan, mulai dari aspek tata ruang, pengelolaan populasi, hingga dukungan kebijakan dari pemerintah.

WWF Indonesia pada 2012 mencatat, populasi gajah di Kalimantan berkisar 30-80 ekor. Diperkirakan 5-20 ekor di antaranya merupakan gajah jantan dan selebihnya gajah betina. Saat ini, gajah kerdil (Elephas maximus borneensis) hanya ditemukan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tepatnya di Kecamatan Tulin Onsoi.

DOKUMENTASI WWF INDONESIA–Gajah kalimantan (Elephas maximus borneensis) merupakan gajah endemik Pulau Kalimantan. Di Indonesia, gajah ini hanya ditemukan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tepatnya di Kecamatan Tulin Onsoi.

”Range perkiraan jumlah populasi yang sudah ada masih terlalu jauh. Untuk itu, survei kali ini akan lebih detail. Survei yang sudah dikerjakan mulai 2018 sampai Februari 2019 ini telah berjalan sekitar 70 persen,” ujar Forest Governance Coordinator WWF Indonesia Arman Anang di Tarakan, Kalimantan Utara, saat dihubungi, Minggu (7/4/2019).

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Arman Anang

Survei gajah kalimantan merupakan salah satu program rutin yang telah diatur dalam Strategi Rencana Aksi Konservasi Gajah Kalimantan (SRAK-GK) 2018-2028. Survei ini menggunakan metode okupansi dengan total area survei sekitar 100.000 hektar. Adapun lokasi yang disurvei berada di hulu Sungai Sibuda, bagian tengah Sungai Sibuda, dan hulu Sungai Apan yang berbatasan langsung dengan wilayah Sabah, Malaysia.

Arman menambahkan, pendataan populasi gajah ini sangat penting karena habitatnya berada di luar kawasan konservasi. Sekitar 74 persen berada di kawasan budidaya kehutanan, 15 persen di kawasan budidaya nonkehutanan serta areal penggunaan lain, dan 10 persen di hutan lindung.

”Penting untuk diketahui lokasi habitat gajah, terutama yang bukan di kawasan hutan lindung. Kerja advokasi tata ruang pun menjadi sangat penting. Kita harus pastikan status kawasan tidak berubah sehingga habitat gajah tetap terjaga,” katanya.

Gajah yang berada di ”jantung” Kalimantan ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki jenis gajah lain. Gajah ini merupakan gajah terkecil dengan tinggi maksimal 2,5 meter. Ekornya pun panjang sampai menyentuh tanah. Gading gajah agak lurus dan betinanya pun memiliki gading.

Selain di Kalimantan Utara, gajah ini juga ditemukan di wilayah Sabah, Malaysia. Populasi gajah di Sabah lebih besar daripada populasi di Kalimantan, yakni diperkirakan mencapai 1.500-2.000 ekor.

Kolaborasi
Food, Commodities, and Green Infrastructure Officer WWF Indonesia Antonius menilai, komitmen dalam upaya konservasi gajah kalimantan sudah baik. Pihak-pihak yang terkait mau terlibat untuk melindungi populasi dan habitat gajah kalimantan.

Dalam SRAK-GK tahun 2018-2028 tertulis, semua pihak, mulai dari pemerintah, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, hingga masyarakat, memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melindungi habitat gajah kalimantan. Sektor swasta pun telah menyediakan koridor khusus untuk gajah sehingga tidak merusak kebun.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Antonius

Antonius menyatakan, perlindungan dan pelestarian habitat gajah kalimantan kini telah didukung dengan kebijakan rencana tata ruang wilayah Provinsi Kalimantan Utara. Selain itu, Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Utara Nomor 188.44/K.142/2017 mengatur pembentukan tim koordinasi penanggulangan konflik gajah kalimantan. Tim ini bertugas membantu mengurangi risiko konflik gajah dan manusia melalui fungsi koordinasi, perencanaan, dan penganggaran kegiatan.

”Konflik antara manusia dan gajah di Kalimantan jarang terdengar. Hal itu karena masih ada kepercayaan, gajah adalah nenek moyang mereka. Jadi, kalau gajah sampai terganggu, akan mendapatkan karma,” katanya.

Oleh DEONISIA ARLINTA

Sumber: Kompas, 7 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: