mamalia besar; Perhatian Pemerintah Dinilai Masih Rendah

- Editor

Sabtu, 23 Agustus 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perhatian pemerintah mengonservasi satwa liar dinilai amat rendah, apalagi pemerintah daerah tak memasukkan konservasi satwa liar dalam agenda pembangunan. Pada mamalia besar yang butuh ruang luas lebih memprihatinkan.

Secara umum, usaha pemerintah mempertahankan keanekaragaman hayati tidak maksimal. Demikian antara lain diutarakan pakar keanekaragaman hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Endang Sukara; Direktur Konservasi World Wildlife Fund (WWF) Arnold Sitompul; serta Koordinator Program Konservasi Gajah dan Harimau WWF Sunarto saat dihubungi terpisah, Jumat (22/8), di Jakarta.

”Agenda pembangunan yang dijalankan tak memasukkan konservasi habitat satwa liar. Semua ruang dikonversi menjadi permukiman, perkebunan, atau hutan tanaman industri. Akibatnya, konflik mamalia besar, seperti gajah, selalu terjadi,” ujar Arnold. Menurut dia, mamalia besar terlalu sering dikalahkan. Satwa seperti gajah banyak mati diracun atau dibunuh dengan cara lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Jika terus berlangsung, kepunahan akan terjadi dalam waktu dekat karena hal-hal seperti ini tidak masuk agenda pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Endang Sukara mengatakan, secara lebih luas, di Indonesia setidaknya ada 11 jenis mamalia besar yang terancam punah. Selain gajah, ada harimau, badak, banteng, dan komodo.

”Upaya secara nasional, termasuk penelitian, sebagai upaya konservasi satwa-satwa itu saat ini tak maksimal,” kata Endang.

Menurut Sunarto, saat ini belum ada sensus menyeluruh untuk gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus).

Penelitian saat ini terkait DNA gajah bekerja sama dengan Lembaga Eijkman. Padahal, menurut Endang, Indonesia bisa menggunakan mamalia besar sebagai ikon dan bisa dikelola untuk mendapatkan manfaat ekonomi.

”Kapal pesiar datang melihat komodo, tetapi wisatawannya menginap dan makan di kapal pesiar. Masyarakat tidak mendapat apa-apa. Mestinya kita bisa mendapat lebih,” ujarnya.

”Secara jumlah, estimasi survei tahun 2007, gajah sumatera masih ada sekitar 2.000 ekor, sementara gajah kalimantan sekitar 300,” ujar Arnold.

Pada semester pertama tahun ini, setidaknya ditemukan 22 gajah mati di Riau. Sebanyak 18 ekor ditemukan di areal PT Riau Andalan Pulp and Paper, sedangkan empat bangkai gajah masing-masing di Hutani Sola, Pusat Latihan Gajah, konsesi PT Arara Abadi, dan Balai Raja (Kompas, 18/7). (ISW)

Sumber: Kompas, 23 Agustus 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB