Home / Berita / Kecerdasan Buatan; Hubungan Emosional Tak Tergantikan

Kecerdasan Buatan; Hubungan Emosional Tak Tergantikan

Para ahli memprediksi kecerdasan buatan akan menggantikan sejumlah profesi, di antaranya pemandu wisata. Teknologi itu memungkinkan pelancong berwisata mandiri.

Kenyataannya tidak seluruhnya benar. Terbukti sebagian pemandu wisata tetap menjadi andalan. Kedekatan emosi mereka dengan para pelancong menjadi daya tarik yang tak tergantikan.

Meski demikian, di sektor pariwisata, ada pula yang terpengaruh oleh kecerdasan buatan. Di jalur menuju kawasan Songgoriti, Batu, Jawa Timur, misalnya, dulu banyak didapati makelar hotel. Mereka berdiri di sepanjang jalan menawarkan vila dan hotel murah kepada pengunjung. Kini lambat laun jumlah mereka mulai berkurang. Peran mereka diambil alih oleh promosi lewat gadget.

Sebagian pemilik vila di Batu kini juga memanfaatkan media sosial ataupun aplikasi di telepon pintar untuk mencari konsumen. Salah satunya Raynanda Bimantoro (28), pemilik vila di daerah Flamboyan, kawasan wisata Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu.

Saat ditemui, Rabu (3/5), Raynanda bercerita bahwa ada perubahan tata cara pemasaran di bisnis vilanya. Sebelumnya ia dan sesama pemilik vila memakai cara konvensional dengan memanfaatkan jasa makelar serta memasang pengumuman di papan bertuliskan nomor telepon dan kamar kosong. Namun, kini mereka memanfaatkan media sosial, seperti Whatsapp, hingga situs pemesanan hotel.

Meski mulai berkurang, peran makelar tetap dibutuhkan, terutama untuk memandu tamu yang ingin melihat dulu kondisi dan fasilitas kamar.

Cukup disentuh
Kemajuan teknologi juga diadopsi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pemkab Banyuwangi mengenalkan aplikasi Banyuwangi In Your Hand yang bisa diunduh di telepon pintar.

Aplikasi tersebut berisi informasi lengkap kota wisata. Hanya butuh sentuhan jari, wisatawan bisa mendapatkan peta, gambar, hingga harga menu restoran ternama dengan foto 360 derajat.

Namun, tetap saja, di tempat-tempat wisata tertentu pemandu lokal dibutuhkan. Sebab, hubungan dengan pemandu ada sentuhan emosi dan kedekatan. Peran itu tidak bisa digantikan oleh mesin kecerdasan apa pun.

Para pelancong di Kawah Ijen, misalnya, sangat menggemari pemandu wisata lokal dari Banyuwangi, terutama mantan petambang belerang. Beberapa dari mantan petambang itu ada yang fasih berbahasa Perancis dan Inggris meski hanya lulusan sekolah dasar. Bagi para wisatawan, mereka tak hanya pemandu, tetapi bagian dari wisata itu sendiri.

“Menyenangkan jika ditemani pak pemandu petambang. Cerita hidup mereka menggugah saya,” kata Melani Agyar (30), pengunjung Ijen.

Hal yang sama dirasakan Wahyu Nurdiyanto (37), wisatawan dari Malang, Jawa Timur. Bertemu masyarakat lokal dan mengenal kehidupan lebih dekat dengan mereka menjadi bagian dari perjalanan wisata di Banyuwangi.

Di Kota Malang, usaha penyedia jasa wisata tak tampak surut, bahkan kian ramai. Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Malang Muhammad Anshori mengatakan, pada tahun 2008, saat dirintis pertama kalinya, jumlah pemandu wisata hanya 16 orang. Tahun ini anggotanya bertambah menjadi 50 orang.

“Selama ini Kota Malang adalah kota tempat tinggal orang Belanda era zaman kolonial. Tugas pramuwisata adalah untuk menjelaskan dan memfasilitasi wisata ‘kenangan wisatawan’,” kata Anshori.

Berpadu harmoni
Kemajuan teknologi tak terbukti menggilas bidang wisata, bahkan sebaliknya mengangkat pariwisata. Lewat media sosial, kawasan pelosok desa pun menjadi terkenal.

Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, adalah salah satunya. Desa itu kini terkenal dengan wisata Kafe Sawah yang cantik.

Tidak ada yang menyangka Kafe Sawah yang terpencil bisa menjadi tujuan wisata baru yang melambung di media sosial. Letaknya yang jauh di pelosok desa, dengan jalur penghubung yang sepi, membuat kawasan itu serasa tersembunyi. Namun, berkat promosi di media sosial, berbondong-bondong orang datang setiap hari untuk berfoto di Kafe Sawah.

Udi Hartoko, Kepala Desa Pujon Kidul yang menggagas Kafe Sawah, mengatakan, kafenya kini dikunjungi sekitar 3.000 orang sehari. Jika dulu pendapatan dari aset desa hanya Rp 10 juta per tahun, kini bisa di atas Rp 100 juta. Lapangan kerja baru pun muncul. Kini ada sekitar 50 homestay yang dibuka oleh warga di sana.

Hal sama dirasakan para penggerak wisata di Yogyakarta. Kemajuan teknologi justru memuluskan bisnis wisata. Beberapa bidang memang harus berubah menyesuaikan kondisi, tetapi kecerdasan buatan tidak bisa menggantikan sisi emosi yang menghidupkan dunia pariwisata.

Pekan ini, jadwal Dony Agus Saputro (36) sebagai pemandu wisata tergolong padat. Rabu (3/5) malam, ia memandu empat wisatawan Perancis menonton pertunjukan Ramayana Ballet di Purawisata, Yogyakarta. Keesokan harinya, Dony akan berangkat ke Malang untuk mengantar para tamunya menjelajahi sejumlah tempat wisata.

“Kami akan di Malang selama dua malam, setelah itu ke Gunung Bromo, dilanjutkan ke Kawah Ijen, Banyuwangi, lalu lanjut lagi ke Bali,” kata Dony.

Yang menarik, Dony tak mendapat pesanan memandu para turis itu dari agen perjalanan wisata di Indonesia. Ia justru mendapat pesanan secara daring melalui Viator.com, situs jejaring para pemandu wisata dari berbagai belahan dunia. Lewat situs tersebut, para pemandu wisata seperti Dony bisa menawarkan jasa, sementara wisatawan dapat dengan mudah menemukan pemandu di negara yang hendak mereka kunjungi.

“Saya rutin mendapat pesanan untuk memandu wisatawan asing dari Viator,” kata Dony yang mahir berbahasa Perancis dan menjadi pemandu wisata sejak tahun 2006.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah HPI Daerah Istimewa Yogyakarta Imam Widodo mengatakan, beberapa pemandu wisata di Yogyakarta telah memanfaatkan teknologi internet untuk mendukung kerja mereka. Oleh karena itu, para pemandu wisata di Yogyakarta tidak merasa terancam dengan hadirnya internet.

Sementara agen perjalanan di DIY justru merasakan dampak dari kehadiran situs layanan pemesanan tiket hotel dan transportasi, semisal Traveloka dan Agoda. Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY Sudiyanto mengakui, pendapatan agen perjalanan di DIY menurun setelah maraknya situs layanan pemesanan hotel dan transportasi daring tersebut.(DIA/NIT/WER/HRS/EGI)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Mei 2017, di halaman 1 dengan judul “Hubungan Emosional Tak Tergantikan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: