Home / Berita / Internet Hidupkan Desa Sambak

Internet Hidupkan Desa Sambak

Serba online. Itulah yang dilakukan sebagian besar warga Desa Sambak di lereng Gunung Sumbing, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Meski wilayah ini sangat terpencil dengan kondisi geografis yang berbukit dan lembah, setiap saat masyarakatnya selalu mengakses internet, termasuk untuk memasarkan produk ke wilayah lain.

Perubahan ini berkat kreativitas M Ainun Rofiq (29) bersama sejumlah temannya yang juga warga desa itu. Mereka merintis jaringan internet sejak 2012. Kreativitas ini lahir karena sebelumnya masyarakat di desa itu sulit menerima sinyal telepon seluler, apalagi mengakses internet. Bahkan, ujar Rofiq, saat ingin mengakses internet, telepon seluler harus diletakkan dalam cangkir. Barulah, setelah itu, sinyal telepon seluler bisa menguat dan akses internet bisa dilakukan.

Terkadang, kebiasaan ini memicu terjadi ”kecelakaan” kecil. ”Saat terburu-buru, saya pernah langsung memasukkan telepon genggam ke cangkir yang ada di meja yang ternyata berisi air teh,” ujarnya tergelak.

Keprihatinan itu membuat Rofiq dan teman-temannya mulai berupaya merintis jaringan internet. Dimulai dengan sosialisasi gagasan kepada warga, terutama tokoh-tokoh masyarakat. Namun, tidak semua warga merespons baik.

”Banyak warga, terutama orang tua, menentang karena meyakini internet hanya akan menimbulkan banyak hal negatif, antara lain mengenalkan dan menyebarkan pornografi bagi anak-anak,” ujarnya.

Rofiq dan rekan-rekan tetap maju terus. Untuk membangun sarana-prasarana, mereka meminjam uang dari sejumlah donatur yang adalah teman-teman mereka dari dalam dan luar desa. Sekalipun berstatus pinjaman, pengumpulan dana ini tetap saja tidak mudah. ”Kami harus merayu dan berkali-kali mengatakan jaringan internet akan berdampak positif bagi masyarakat. Kami juga berulang kali memastikan bahwa uang itu akan dikembalikan,” katanya.

Pengumpulan dana berlangsung selama tiga bulan. Terkumpul Rp 3,5 juta. Pembelian peralatan pun disesuaikan dengan uang yang ada. ”Kami memulai dengan membeli mikrotik. Setelah dana mulai terkumpul dan bertambah, baru kami bisa membeli antena dan lainnya,” ujar Rofiq.

Untuk memperkuat sinyal jaringan internet, dipakailah tower yang sebelumnya telah didirikan untuk pemancar radio komunitas di Desa Sambak. Untuk dapat mengakses jaringan internet, mereka berlangganan pada salah satu penyedia jasa internet di Kota Magelang. Dengan biaya berlangganan Rp 800.000 per bulan, mereka mendapatkan kapasitas bandwidth 1 MHz.

Setelah sekitar satu tahun merancang, menyiapkan peralatan, dan melakukan serangkaian uji coba, tahun 2013 jaringan internet di Desa Sambak baru benar-benar beroperasi. Layanan internet ini diberi nama Sambak Online, dikelola Rofiq bersama rekannya, As’ad Thoha (25).

Setiap orang di area sekitar server, yang sekaligus menjadi stasiun radio komunitas, dapat menikmati layanan Wi-Fi. Selama 15 menit hingga 30 menit pertama bisa mengakses internet secara gratis. Jika ingin lebih lama, pengguna harus membayar sesuai dengan paket tarif.

Untuk paket internet selama tiga jam dikenai tarif Rp 5.000, paket internet selama satu minggu bertarif Rp 20.000, dan paket internet satu bulan
Rp 75.000. Ketika membeli paket, setiap pelanggan akan diberi voucer dengan password untuk mengakses internet. Password dibuat pengelola internet.

Dalam dua tahun perjalanan, pelanggan belum banyak dan fluktuatif. Dalam sebulan rata-rata 20 pelanggan dan 7 di antaranya membayar paket bulanan. Mereka yang rutin berlangganan paket internet antara lain usaha mikro, kecil, dan menengah, satu sekolah di desa tetangga, tiga sekolah di Desa Sambak, dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan.

Manfaat internet
Kini, sebagian orang mulai merasakan manfaatnya. Wahyu Setyo Pambudi (17), siswa SMA, mengaku bersyukur ada jaringan internet itu sehingga memudahkan dirinya mengerjakan tugas sekolah. Sebelumnya, dia harus pergi ke warung internet yang berjarak sekitar 4 kilometer dari Desa Sambak.

Kemudahan tersebut membuka peluang semakin lebar bagi Wahyu dan rekan-rekannya. Dunia internet juga membuat mereka bisa mengikuti berbagai lomba desain dengan pengiriman karya secara online.

”Ada teman kami mengikuti kompetisi desain dari suatu perusahaan dan mendapatkan hadiah 400 dollar AS,” ujarnya.

Dampak positif internet di Desa Sambak juga dirasakan Lukman Sofianto (24). Dia bisa mengakses internet di rumah dan di setiap lokasi mana pun di desa. Bahkan, kini dia semakin leluasa memasarkan hasil panen dari usaha budidaya ikan lele. ”Dulu, saya harus berkeliling menawarkan lele dari pasar ke pasar. Sekarang saya cukup promosi di internet,” ujar Lukman yang kini punya pelanggan tetap dari Muntilan, Kabupaten Magelang, dan sejumlah daerah di Kabupaten Wonosobo.

Layanan internet dari Sambak Online ini membuat banyak orang, terutama pelajar, begitu mudah mengakses internet melalui telepon seluler di mana saja, di sekolah, di rumah, hingga di warung bakso atau di warung angkringan. Akses internet ini menembus hingga rumah di jalan sempit di ujung desa dan membuat warga Desa Sambak semakin bangga kepada kampungnya.

”Lingkungan mungkin terpencil, jauh dari kota. Jalanan memang berbatu dan belum rata. Namun, di sini, akses internet jalan terus,” ujar Rofiq.

Oleh: Regina Rukmorini

Sumber: Kompas,8 September 2014

—————

Melongok Desa Siber di Magelang

Keberadaan teknologi internet yang mudah memang banyak memberi manfaat bagi masyarakat. Apalagi jika internet yang bisa diakses oleh masyarakat hingga sampai ke pedesaan.

Seperti internet yang dikelola oleh Radio Komunitas Suara Kampung Pintar (SKPFM) Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Sejak setahun belakangan, akses internet yang diberi nama RT/RW Net itu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Kendati hanya berawal dari modal semangat para pengelolanya, namun sekarang sudah berjalan cukup baik.

Warga bisa menikmati akses internet dengan mudah dan murah tanpa perlu jauh-jauh pergi ke warung internet (warnet) yang berjarak sekira 3,5 kilometer bahkan lebih dari Desa Sambak.

“Kami menggunakan konsep Wi-Fi (Wireless Fidelity) atau jaringan nirkabel, warga bisa menikmati akses internet dari rumah masing-masing,” jelas Muhammad Ainur Rofiq, salah satu pengurus di Radio SKP FM, Kamis (26/9/2013).

Dijelaskan Rofiq, butuh upaya agar Desa Sambak bisa terkoneksi dengan internet. Mengingat letak geografis yang banyak pepohonan dan topografi tanah yang cenderung tidak rata. Namun hasilnya, dalam radius 50-400 meter menggunakan laptop waga bisa menerima akses internet gratis.

“Untuk jangkauan dan kecepatan memang belum maksimal karena kontur geografisnya cenderung berbukit-bukit dan banyak pepohonan. Namun ke depannya akan ditambah lebih banyak lagi perangkat acces point di beberapa titik sebagai penguat sinyal,” urai Rofiq.

Tidak hanya para pelajar yang bisa memanfaatkan akses RT/RW net ini, bahkan pemerintah desa setempat, petani, pedagang juga membutuhkan akses internet untuk mendapatkan segala informasi dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pihaknya berharap ada dukungan dari berbagai piha mengingat selama ini masih diakukan secara swadaya oleh pengelola.

Kepala Desa Sambak, Dahlan mengungkapkan apresiasinya terhadap karya para pemuda Desa Sambak. Sebab, tidak bisa dipungkiri di era saat ini, hampir semua bidang membutuhkan internet, untuk memperoleh informasi dengan mudah, termasuk informasi-informasi terkait pembangunan.

“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung adanya internet masuk desa ini. Namun tentunya juga harus dibarengi dengan filter dan sosialisasi tentang internet sehat agar warga menggunakan internet secara bijak,” ucap Dahlan.

Hal senada juga diungkapkan, Amron Muhzawawi, seorang pengusaha keripik di Desa Sambak yang mengaku sangat terbantu dengan adanya jaringan RT/RW net yang bisa diakses dengan mudah. Terutama mempermudah dalam pemasaran dan promosi.

“Di era teknologi informasi seperti sekarang ini internet menjadi sangat penting untuk media promosi dan komunikasi. Di samping itu, pengenalan produk bisa sangat mudah dengan memanfaatkan berbagai situs jejering sosial yang ada,” ujar Amron.

Penulis    : Kontributor Magelang, Ika Fitriana
Editor     : Farid Assifa

Sumber: Kompas.com, Kamis, 26 September 2013 | 15:44 WIB

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: