Home / Berita / Desa Tampang Muda; Mereka Terus Berjuang Mengakses Dunia Luar

Desa Tampang Muda; Mereka Terus Berjuang Mengakses Dunia Luar

Suara debur ombak terdengar jelas bersahutan dengan semilir angin. Buih putih tampak sesaat setelah gulungan ombak menabrak pasir pantai di Desa Tampang Muda, Kecamatan Pematang Sawah, Kabupaten Tanggamus.

Desa Tampang Muda merupakan salah satu desa yang terletak di ujung selatan Provinsi Lampung. Ada dua alternatif transportasi untuk menuju desa tersebut, jalur darat dan jalur laut.

Jika menggunakan jalur darat, dibutuhkan 4-5 jam perjalanan untuk menyusuri jalan tanah di pinggiran Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Perjalanan akan semakin berat bila hujan turun. Pasalnya, jalan berbukit tersebut akan menjadi licin dan berlumpur.

Alternatif lainnya adalah jalur laut dengan menggunakan kapal bermotor, yang hanya menyeberang satu kali per hari. Warga yang ingin menuju ke Desa Tampang Muda bisa berangkat dari Dermaga Pelelangan Ikan Kota Agung, Tanggamus.

Dibutuhkan biaya Rp 40.000 untuk sekali penyeberangan. “Rp 30.000 untuk menumpang kapal berkapasitas 40 orang, sedangkan Rp 10.000 untuk menyewa sampan yang mengantar warga dari daratan ke kapal motor. Sebab, kapal motor tidak bisa bersandar karena tidak ada dermaga penyeberangan di Desa Tampang Muda,” kata Faisal (37), warga Desa Tampang Muda.

Sebagian warga, menurut Faisal, lebih memilih menggunakan kapal motor. Selain lebih cepat, warga juga tidak lelah di jalan dan tidak perlu khawatir menghadapi jalan berlumpur.

“Tetap saja jalur laut memiliki tantangan tersendiri. Ombak dari perairan laut lepas Samudra Hindia cukup tinggi pada bulan-bulan tertentu,” katanya.

Keterbatasan akses
Warga Desa Tampang Muda yang berjumlah 450 keluarga dan sebagian besar menjadi petani serta nelayan tersebut tak hanya kesulitan dalam akses transportasi, tetapi juga akses komunikasi dan informasi. Warga bahkan harus berusaha keras mencari sinyal di tepi pantai hingga ke atas pohon.

Andi Supriadi (24), yang baru saja menunaikan shalat Jumat, berlari kecil dari masjid di perkampungan menuju tepi pantai. Ia harus lari berjinjit agar pasir pantai yang panas tidak menyengat kulit kakinya yang tidak beralas. Tangan kiri Andi mengangkat kain sarung yang ia kenakan agar tidak mengganggu langkahnya. Sementara tangan kanannya menggenggam gawai.

Sesampai di tepi pantai, ia lantas mencari pohon untuk berteduh dan membuka gawainya. Sesekali Andi harus mengangkat dan menggoyang-goyangkan gawainya di atas kepalanya. “Di desa ini susah sinyal. Harus nyari sinyal di tepi pantai. Itu pun untung-untungan, kadang ada, kadang hilang. Saya mau menghubungi teman di Bandar Lampung untuk menanyakan lamaran kerja saya,” katanya.

130807671c174ed3943e75deb854cd92KOMPAS/ANGGER PUTRANTO–Warga Desa Tampang Muda, Andi Supriadi (24) harus naik ke sebuah pohon untuk mengakses sinyal telepon selular di tepi pantai Desa Tampang Muda, Kecamatan Pematang Sawah, Kabupaten Tanggamus Lampung Jumat (29/1). Saat pemerintah meluncurkan jaringan internet cepat 4G LTE, sejumlah daerah masih kesulitan mengakses sinyal untuk telepon dan layan pesan singkat.

Tangan Andi tampaknya tak cukup tinggi untuk “menggapai” sinyal. Ia kini mencoba mencari sinyal di tempat yang lebih tinggi. Pohon yang tadi ia jadikan tempat berteduh kini ia panjat. Cabang pohon menjadi tempat yang pas untuk mencari sinyal. Sesekali ia mencoba menelepon kerabatnya, tetapi usahanya belum juga berhasil.

Di Desa Tampang Muda, kata Andi, akses komunikasi menggunakan telepon memang sangat susah. Pemuda jebolan SMA itu menuturkan, warga hanya bisa berkomunikasi dengan layanan provider “Ceria”.

Layanan itu pun hanya untuk menelepon dan berkirim pesan singkat. Namun, jangan harap layanan tersebut dapat digunakan setiap saat. Sinyal telepon muncul kadang-kadang saja, bahkan kerap mengalami gangguan.

“Kalau mau internetan harus pergi dulu ke Batu Kebo, sekitar 10 menit kalau menggunakan sepeda motor,” kata Indra (25), warga Tampang Muda yang mencari sinyal di tepi pantai.

Sore hari saat Kompas diantar Indra mengunjungi Batu Kebo, puluhan remaja berkumpul di atas jembatan beton dan asyik mengakses internet melalui telepon, antara lain untuk mencari lowongan pekerjaan.

Butuh sinyal
Kondisi ini ironis mengingat sejumlah daerah di kota-kota besar sudah menikmati layanan internet cepat lewat koneksi 4G LTE. “Kami tidak butuh internet cepat. Kami hanya butuh sinyal untuk mengakses internet di desa kami. Kalaupun tidak ada sinyal internet, asalkan bisa telepon dan SMS lancar saja, kami sudah senang,” kata Indra.

Sulitnya akses transportasi, komunikasi, dan informasi semakin lengkap dengan tidak tersedianya jaringan listrik di desa tersebut. “Listrik di desa kami hanya menyala dari pukul 17.30 hingga pukul 24.00. Itu pun kami harus mengusahakan listrik secara mandiri dari genset atau panel surya,” ujar Bahrudin, warga Tampang Muda.

Bahrudin mengatakan, untuk menghidupkan listrik selama 6,5 jam per hari dibutuhkan 2 liter bensin. Di desa tersebut, harga 1 liter bensin Rp 10.000. Dengan demikian, untuk menyalakan listrik selama satu bulan, warga yang sebagian besar petani dan nelayan tersebut harus mengeluarkan biaya Rp 600.000.

“Kalau mau memasang panel surya, kami harus membeli alat seharga Rp 1 juta. Setiap enam bulan sekali kami harus mengganti air aki sebanyak empat botol dengan harga per botol Rp 2.000,” tutur Bahrudin.

Panel surya yang dipasang di rumah warga hanya mampu menghasilkan listrik berkapasitas 100 watt hingga 150 watt. Daya tersebut hanya cukup untuk menyalakan lampu.

“Sebagian warga memang memiliki televisi, tetapi jarang yang menyalakannya. Sebab, listrik kadang tidak stabil, itu justru membuat televisi cepat rusak,” ujarnya.

Bahrudin berharap, pemerintah daerah dan pusat memperhatikan nasib mereka. Sebagai warga Indonesia, kata Bahrudin, dirinya juga ingin mengetahui apa yang terjadi di wilayah Indonesia lainnya.

Semoga ada perubahan bagi warga Tampang Muda. Mereka bisa segera mengakses informasi, komunikasi, transportasi, dan listrik agar tidak menjadi kelompok masyarakat terpencil dan terkucil dari negara yang sedang berkembang.–ANGGER PUTRANTO
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Maret 2016, di halaman 1 dengan judul “Mereka Terus Berjuang Mengakses Dunia Luar”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: