Home / Berita / Mendaki Bukit demi “Menjaring” Ilmu ala Pelajar Gunungkidul

Mendaki Bukit demi “Menjaring” Ilmu ala Pelajar Gunungkidul

Keterbatasan akses internet jadi salah satu kendala kegiatan belajar dari rumah di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemerintah diminta mengembangkan metode pembelajaran yang bisa dijangkau semua siswa.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO—Dua orang siswi melihat tugas yang diberikan guru mereka melalui aplikasi daring di Bukit Temulawak, Dusun Petir B, Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (12/5/2020). Tempat itu merupakan satu-satunya lokasi di dusun itu di mana warga dapat mengakses jaringan internet melalui operator telepon seluler.

Belajar dari rumah sebagai dampak pandemi Covid-19 tak berlangsung mulus di sejumlah wilayah Nusantara. Keterbatasan kapasitas dan kualitas internet memaksa sebagian pelajar di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mesti naik-turun bukit demi menjaring sinyal.

Pandangan Alodia Daffa (13) tertuju ke layar telepon cerdas miliknya. Sore itu, dia sedang membuka aplikasi Google Classroom untuk membaca tugas yang dikirimkan gurunya. Tugas mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam itu berisi sejumlah soal mengenai tata surya.

Saat membaca tugas sekolah tersebut, Alodia tak berada di rumah. Dia berdiri di sebuah bukit tak jauh dari tempat tinggalnya. “Kalau di rumah, enggak ada sinyal. Jadi enggak bisa buka internet,” ucapnya saat ditemui, Selasa (12/5/2020).

Alodia adalah siswi Kelas 7 SMP Negeri 1 Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Rumahnya di Dusun Petir B, Desa Petir, Kecamatan Rongkop, sekitar 23 kilometer (km) di selatan Wonosari, ibukota Kabupaten Gunungkidul.

Di Dusun Petir B, sinyal telepon seluler adalah sesuatu yang langka. Kondisi geografis Dusun Petir B berupa perbukitan membuat sinyal telepon seluler tak bisa menjangkau sebagian besar wilayah dusun. Akibatnya, warga Dusun Petir B selalu kesulitan saat ingin mengakses internet atau berkomunikasi melalui telepon dan pesan singkat.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Seorang siswi melihat tugas yang diberikan gurunya melalui aplikasi Google Classroom, Selasa (12/5/2020), di Bukit Temulawak yang terletak di Dusun Petir B, Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bukit Temulawak adalah satu-satunya lokasi di dusun itu di mana mereka dapat mengakses jaringan internet melalui operator telepon seluler.

Kondisi itu berdampak besar pada para pelajar di dusun itu, termasuk Alodia. Sebab, selama masa pandemi, mereka harus belajar di rumah menggunakan aplikasi daring atau online. Di DIY, kegiatan belajar dari rumah itu diberlakukan sejak 23 Maret untuk mencegah penularan penyakit Covid-19.

Alodia menceritakan, selama masa belajar di rumah, sebagian gurunya menggunakan aplikasi Google Classroom untuk menyampaikan materi dan tugas. Oleh karena itu, Alodia harus rutin membuka aplikasi tersebut. “Saya kirim tugas juga lewat aplikasi ini,” tuturnya.

Selain itu, ada juga guru yang menggunakan aplikasi WhatsApp untuk memberi materi dan penugasan. Setelah mendapat penugasan, para murid menulis jawaban soal di buku tulis. “Tugasnya dikerjakan di buku, lalu bukunya difoto dan dikirim ke grup WhatsApp,” kata Alodia.

Karena di rumahnya tak ada sinyal, Alodia harus pergi ke sebuah bukit di dusunnya supaya bisa mengakses internet. Di bukit yang diberi nama Bukit Temulawak itu, sinyal telepon seluler memang bisa “didapat” lebih mudah. Oleh karena itu, warga Dusun Petir B biasanya mengunjungi dusun itu saat ingin mengakses internet atau berkomunikasi via telepon seluler.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO—Kepala Dusun Petir B, Warsina, berada di rumahnya di Dusun Petir B, Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (12/5/2020). Dusun Petir B merupakan salah satu dusun di Gunungkidul yang memiliki keterbatasan akses internet karena ketiadaan sinyal seluler.

Kepala Dusun Petir B, Warsina (49), mengatakan, ada 23 pelajar dari tingkat SD sampai SMA yang tinggal di dusun tersebut. Sejak pandemi Covid-19, seluruh pelajar itu harus belajar dari rumah dengan aplikasi daring.

Namun, karena keterbatasan akses internet, para pelajar itu harus bolak-balik ke Bukit Temulawak agar bisa membuka materi dan tugas dari guru. Seusai mengerjakan tugas, mereka juga harus kembali ke bukit itu agar bisa mengirim tugas secara daring.

Untungnya, lokasi Bukit Temulawak tak terlalu jauh dari pemukiman warga, jaraknya hanya sekitar 200 meter. Kondisi jalan menuju bukit itu juga cukup bagus sehingga warga bisa menggunakan sepeda motor ke sana. Namun, apa yang dialami sejumlah pelajar di Dusun Petir B itu menjadi gambaran problematika yang terjadi selama masa pembelajaran dari rumah.

Datang ke rumah
Persoalan dalam penyelenggaraan belajar dari rumah itu juga dihadapi oleh guru kelas 1 SD Negeri Candirejo 2, Gunungkidul, Pramesti Utami (38). Sejak masa pandemi Covid-19 ini, Pramesti rutin mendatangi rumah salah seorang muridnya untuk memastikan sang murid tidak ketinggalan pelajaran.

Pramesti menjelaskan, di kelas yang diajarnya, hanya ada dua orang murid karena SDN Candirejo 2 memang tergolong sebagai sekolah yang kekurangan murid. Di antara dua murid itu, ada satu orang murid yang tinggal di wilayah terpencil sehingga tidak dijangkau sinyal seluler.

“Selain karena masalah sinyal, keadaan ekonomi keluarga murid itu memang kurang mampu sehingga daripada membeli pulsa, orangtuanya lebih baik memakai uang untuk kebutuhan lain,” ungkap Pramesti yang berstatus guru tidak tetap.

Berbagai persoalan itulah yang akhirnya menggerakkan Pramesti untuk rutin mengunjungi rumah muridnya yang berlokasi di Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Gunungkidul. Dari rumah Pramesti yang berlokasi di pusat Kecamatan Semin, rumah sang murid berjarak sekitar 7 kilometer. “Biasanya saya ke sana naik sepeda motor,” katanya.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Sejumlah anak mengakses internet melalui telepon seluler mereka di Bukit Temulawak yang berlokasi di Dusun Petir B, Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (12/5/2020).

Menurut Pramesti, ia biasa datang ke tempat tinggal sang murid setiap tiga hari sekali. Setiap kali datang, Pramesti membahas tugas yang diberikan sebelumnya sekaligus memberi penugasan untuk dikerjakan sang murid selama beberapa hari ke depan.

“Untuk anak-anak yang rumahnya susah sinyal, memang lebih baik dikunjungi langsung ke rumahnya supaya enggak ketinggalan pelajaran,” ujar Pramesti yang sudah mengajar selama 10 tahun.

Dua metode
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Gunungkidul, Bahron Rasyid, mengatakan, proses belajar dari rumah selama pandemi Covid-19 di Gunungkidul dilakukan dengan dua metode, yakni pembelajaran daring dan nondaring. Pembelajaran daring dilakukan untuk murid yang memiliki akses internet, sedangkan pembelajaran nondaring ditujukan untuk siswa-siswi yang tak bisa mengakses internet dari rumah.

Keterbatasan akses internet itu antara lain terjadi karena masih banyak area di Gunungkidul yang tergolong blank spot atau tak terjangkau sinyal seluler. “Tidak semua siswa bisa mengakses internet dari rumah. Ada beberapa penyebab, misalnya tidak semua siswa memiliki handphone maupun laptop. Yang kedua, ada siswa yang punya handphone tapi tidak ada jaringan seluler di rumahnya,” kata Bahron.

Hanya separuh
Bahron menuturkan, berdasarkan pemetaan Dinas Dikpora Gunungkidul, hanya sekitar 50 persen murid SMP dan 35 persen murid SD di kabupaten itu yang bisa mengikuti pembelajaran daring dari rumah. Oleh karena itu, sebagian siswa-siswi di Gunungkidul terpaksa belajar dari rumah dengan cara nondaring.

“Ada siswa yang diminta datang ke sekolah seminggu sekali untuk mendapatkan lembar tugas. Bahkan, di beberapa daerah, guru-guru kami harus mendatangi ke rumah anak-anak untuk memastikan anak tetap belajar karena sudah tidak bisa dihubungi dengan telepon,” ungkap Bahron.

Beragam persoalan dalam penyelenggaraan program belajar dari rumah itu tentu tak hanya terjadi di Gunungkidul. Para murid dan guru di daerah lain pun menghadapi masalah serupa dan bahkan sebagian di antaranya mesti berjuang dengan kondisi lebih ekstrem.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO—Pelajar mendatangi Bukit Temulawak di tepi kawasan permukiman Dusun Petir B, Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul, untuk mengirimkan tugas sekolah secara daring, Selasa (12/5/2020). Tempat itu satu-satunya lokasi di dusun yang bisa menjangkau sinyal internet.

Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta, Ariswan, mengatakan, pemerintah harusnya berupaya maksimal agar kegiatan belajar dari rumah selama pandemi Covid-19 bisa berlangsung efektif. Dia menyebut, kegiatan belajar di rumah seharusnya tidak hanya dilakukan dengan metode daring.

Oleh karena itu, pemerintah seharusnya membuat metode pembelajaran yang bisa diakses oleh pelajar yang tak memiliki akses internet, misalnya melalui kerja sama dengan stasiun televisi dan radio lokal. “Akses pembelajaran itu harus bisa diberikan kepada seluruh siswa,” tutur Ariswan.

Masa pandemi menyadarkan bahwa pilar konektivitas jaringan internet di Nusantara masih rapuh. Kesenjangan akses teknologi antardaerah ini berpeluang memperlebar jurang pengetahuan pelajar di kota dan desa. Jalan tengah yang bisa diambil dengan menyediakan metode pembelajaran yang bisa diakses semua anak.

Oleh HARIS FIRDAUS

Editor GREGORIUS FINESSO

Sumber: Kompas, 16 Mei 2020

Share
x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: