Home / Berita / Gaya dan Strategi Mengajar Para Guru di Daerah Pelosok

Gaya dan Strategi Mengajar Para Guru di Daerah Pelosok

Bagi siswa di kota, belajar jarak jauh cukup mudah dilakukan karena tersedia jaringan internet. Di pelosok daerah, sistem itu sulit diterapkan lantaran jaringan internet terbatas dan siswa yang memiliki gawai sedikit.

KOMPAS/AGUIDO ADRI–Ahmad Rafa (7) mengerjakan tugas harian sekolah, Kamis (16/4/2020). Setelah selesai mengerjakan tugas mata pelajaran Matematika tersebut, Rafa harus memotret dan mengirim tugasnya via aplikasi pesan kepada gurunya.

Keterbatasan sinyal dan kepemilikan telepon pintar tak menjadi penghalang bagi sejumlah guru di Tasikmalaya, Jawa Barat, untuk tetap menyusun strategi belajar di tengah pandemi Covid-19. Mereka memutar otak untuk membuat metode pembelajaran yang bisa dijangkau semua pihak.

Opik (36), guru di SDN 2 Cikuya, Desa Bojongsari, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, berupaya mencari metode pembelajaran yang sesuai di saat masa pandemi ini. Ia berencana membuat materi pelajaran dalam bentuk mading besar (backdrop), buku, dan audio. Seluruh materi ini nantinya bisa dibagikan tanpa harus menggunakan internet. Ia berharap inovasi ini dapat didukung oleh pemerintah daerah dan dinas setempat.

Setiap guru diwajibkan mengumpulkan karya yang pernah dibuat siswa, misalnya puisi, cerita pendek, dan dokumentasi karya. Memang lebih mudah jika mengambil bahan dari internet, tetapi para siswa akan lebih bersemangat dalam belajar karena karyanya menjadi bahan pelajaran. Karya-karya yang telah dikumpulkan diserahkan kepada rekan yang bisa mengatur tata letak (layouter). ”Sederhana saja desainnya jika sudah dicetak. Materi itu akan diperbanyak untuk siswa di sekolah,” kata Opik.

Di sekolah itu terdapat 100 siswa yang berasal dari empat kampung dekat desa tersebut. Kebetulan di setiap desa setidaknya ada satu guru yang berdomisili di sana. Untuk sementara, pembagian tugas mengajar dipetakan menjadi dua tempat. Para siswa datang ke rumah guru secara bergantian.

Guru yang menentukan jadwal siapa yang akan belajar di rumahnya pada hari itu. Karena tidak semua wali siswa memiliki telepon seluler, guru akan mengabari orangtua siswa dari rumah ke rumah.

Ada 3-4 siswa yang belajar di rumah guru dengan durasi 3-4 jam. Buku paket dari kelas I hingga VI disediakan di rumah guru itu. Masker kain wajib dipakai saat kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Mereka juga menjaga jarak aman.

Metode ini bukanlah hal baru sebab para siswa sudah biasa datang ke rumah guru untuk belajar ketika menjelang ujian, layaknya les atau bimbingan belajar. Hanya saja, mereka tidak bisa bebas bertatap muka setiap hari. Guru akan memberikan pekerjaan rumah yang cukup banyak kepada anak-anak untuk dikumpulkan dua hari setelahnya.

Opik mengaku tidak khawatir jika penyampaian materi secara tatap muka tidak bisa dilakukan untuk sementara waktu. Menurut dia, beberapa kampung masih berpegang pada kearifan lokal dan pembelajaran agama yang kuat. Artinya, ini juga menjadi kesempatan agar siswa belajar hal lain di luar sekolah yang sama pentingnya untuk perkembangan keterampilan anak.

Materi tertulis
Roni Nuroni (35), guru SMK Nashirul Huda Desa Bojonggambir, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, memiliki cara lain agar siswanya tetap bisa mengakses materi. Ia membuat rangkuman materi pelajaran yang diunggahnya dalam sebuah blog. Semua teori ia tuliskan dalam teks tanpa ada gambar atau video untuk menghindari pengambilan data kuota yang berat.

Di sekolah ini terdapat 240 siswa dari dua jurusan, yakni rekayasa perangkat lunak dan otomatisasi tata kelola perkantoran. Dari jumlah tersebut, tak sampai 10 persen yang memiliki komputer atau laptop. Ia menyadari betul akan hal itu, belajar teori tanpa praktik (komputer) pada jurusan tersebut bagaikan sayur tanpa garam.

Menurut Roni, usulan kurikulum yang sesuai saat kondisi sekarang adalah memperbanyak materi bacaan untuk siswa. Sebab, tak semua siswa memiliki fasilitas memadai, bahkan tak semua bisa mengakses sinyal yang kuat. Blog berisi rangkuman materi bisa menjadi alternatif agar siswa fokus belajar pada poin penting.

”Kami belum menemukan sistem yang ideal agar pembelajaran efektif. Kami berusaha sebaik mungkin agar siswa tetap bisa menerima materi di tengah keterbatasan,” kata Roni.

Oleh MELATI MEWANGI

Editor ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 3 Mei 2020

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: